Wah saya lihat diskusinya jadi masuk ke tataran manajerial, bagaimana mengelola perguruan tinggi (baik yang negeri maupun yang swasta). Mainan audit-mengaudit, mengatur biaya, dan kawan-kawan manajerial lainnya. Namun sepertinya kok mulai meruncing nih. Saya coba memberikan perspektif dari sudut pandang mahasiswa ITB ya.
Dalam satu kesempatan yang lalu, ketika sedang ada hearing terbuka calon rektor ITB 2005-2010, salah seorang teman saya ada yang bertanya. Dan saya pikir pertanyaannya keren juga. Berikut pertanyaannya: "Menurut Bapak Calon Rektor, apakah tidak sebaiknya manajemen kampus diserahkan saja ke pihak profesional di bidang manajemen dan kemudian dosen bisa asyik mengajar dan meneliti?" (Contoh ekstrim tataran praktisnya adalah: rektor bukan dari kalangan dosen, tapi dari lulusan MM) Pendekatan yang digunakan teman saya itu, saya pikir mampu mendobrak kemapanan sistem yang sudah ada. Pendekatan yang digunakan teman saya itu bersifat sekuler: memisahkan antara kemampuan manajerial dan kemampuan intelektual. Lalu, apakah keduanya bersifat oxymoron? Hi..hi... bisa jadi diskusi panjang lagi deh. Penyederhanaan suatu masalah sering kali menipu. Namun karena waktu yang terbatas, penyederhanaan boleh dibenarkan. Oleh karena itu dalam dunia ilmiah kita mengenal batasan masalah. Sayangnya ketika dihadapkan pada dunia nyata, batasan masalah ini bisa melebar kemana-mana. Jadi solusi untuk PTN A tidak sama dengan PTN B juga tidak sama dengan PTS A juga tidak sama dengan PTS B dan seterusnya. Lanjut....lanjut. Pada akhirnya, keputusan tetap ada di tangan pemimpin, karena pemimpin yang punya kuasa. Dan kalau konteksnya universitas, berarti ada di tangan rektor sebagai eksekutif. Saya pribadi termasuk orang yang sebenarnya tidak suka peraturan. Waktu saya aktif di organisasi dulu, saya tidak membuat peraturan tertulis macam-macam. Selain karena organisasi kami kecil, jadi kami bisa kompak dan gesit. Kalau ada yang jarang datang, terus pas ditanya masih mau aktif atau enggak dan jawabannya enggak, kami memutuskan untuk mencoret namanya dari terbitan. Kalau organisasi besar dan mapan, saya pikir proses pengambilan keputusan jadi panjang, lama dan tidak mudah. Tapi saya gak berani ngomong banyak soal ini, karena belum pernah masuk di organisasi besar dan mapan. Hi...hi...hi..... Zaki Akhmad http://www.zakiakhmad.info
