On 1/12/06, Made Wiryana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > On 1/12/06, Budi Rahardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > hi hi hi. Ada mahasiswa saya yang biaya per semesternya > > hanya Rp 750 ribu :-) > > Seperti yang saya sebut, di tempat saya utk mahasiswa tertentu > ada yg nol karena kena discount ini itu :-)
Tentu saja selalu ada beasiswa dan bantuan lain-lainnya. Secara umum, PTS biasanya lebih mahal. Itulah sebabnya saya tidak langsung percaya kalau disebutkan PTN lebih mahal dari PTS. > Per angkatan mahasiswa baru sekitar 6000-7000 mahasiswa. Hal lain lagi adalah masalah skala. Kalau ada 6000 mahasiswa * Rp 2 juta = Rp 12 milyar. Kalau di tempat saya ada 200 mahasiswa * Rp 2 juta = 400 juta Ada perbedaan yang cukup besar karena skala ini. Tentu saja mengelola 6000 mahasiswa lebih sukar daripada mengelola 200 orang. You give and take, lah ;-) > Hm... masalahnya bukan perlu tidaknya subsidi, tapi bagiamana pengelolaan > subsidi itu. Di Jerman Universitas itu relatif hidup total dari dana > pemerintah, sebagai dampaknya. Semua resource BOLEH dipakai oleh semua orang > di luar kampus tersebut. Mungkin perlu diperhatikan: - berapa besar (nilainya) subsidi pemerintah tersebut? Jika kita lihat, seluruh kebutuhan basic di universitas Jerman sudah dapat dipenuhi oleh subsidi tersebut. Di Indonesia, ini belum. Subsidi pemerintah (yang terus dikurangi dengan cara memprivatisasi berbagai universitas), hanya cukup untuk membayar gaji dengan standar PNS. Selebihnya, harus cari sendiri. Bayar listrik saja mungkin sebulan sudah lebih dari Rp 100 juta. Telepon mungkin Rp 250 juta. Belum lagi bahan-bahan habis seperti zat kimia, dsb. Model di Belanda lain lagi. Dari bincang2 dengan profesor Belanda yang datang ke Indonesia (karena kami memiliki kerjasama dengan Belanda, jadi dia bolak balik ke Bandung) diketahui bahwa mereka mengelolanya seperti entitas bisnis sendiri. Fasilitas dan lain-lainnya adalah milik lab, yang tentunya digunakan sesuai dengan kebutuhan lan. Dengan kata lain: kerajaan kecil. Ternyata bisa jalan juga tuh. Model di negara lain, beda lagi. Jadi ada banyak model, yang masing-masing ada success story dan kegagalan. Yang menarik mungkin melihat di IIT Bombay kali ya? -- budi
