On Fri, Jan 13, 2006 at 04:51:09AM +0700, Budi Rahardjo wrote: > - berapa besar (nilainya) subsidi pemerintah tersebut? > Jika kita lihat, seluruh kebutuhan basic di universitas Jerman sudah > dapat dipenuhi oleh subsidi tersebut.
sebetulnya ini titik pangkal pertanyaan sementara orang kenapa PTN harus (lebih) mahal. dulu pun sebenarnya operasional ndak cukup, apalagi kalau gedung dan tanah dan gaji (yang sedikit itu) harus ditanggung sendiri. ala-mak-jan. sekarang, gedung dan tanah masih, gaji (PNS) masih, dulu era subsidi juga kurang, sama saja, sekarang setelah dinaikkan pasti masih kurang juga. nah ... pertanyaannya, kalau dulu bisa kenapa sekarang tidak? jadi ndak salah kan kalau ada yang bilang bahwa birokrat (bbrp) PTN mengambil jurus aji mumpung? sampai-sampai ada yang berkomentar: 'anda tahu tidak besar spp taman kanak-kanak sekarang?' (maksudnya: ya wajar dong kalau biaya PTN naik). omong-omong, walaupun sedikit, subsidi yang dulu-dulu itu duit rakyat juga lho ... walapun (konon) 80% roda ekonomi berputar dikalangan menengah atas dan hanya 20% saja bisa dinikmati kaum mayoritas (miskin). lantas apa yang dilakukan PTN demi membalas budi kaum mayoritas tsb? dulu pun akses ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sudah terbatas (daya tampung PTN terbatas), sekarang lebih terbatas lagi, padahal era-nya kan sekarang harus serba sarjana, dokter harus spesialis, dukun pun kalau bisa, diembel-embeli dengan gelar profesor doktor dokter insinyur. rumit? sukar dipahami? hrs ada konsensus? egp? it's okay lah .. he..he.. the world is not enough :-) btw, dengan kondisi sekarang, kembali ke topik 'Dosen vs Mahasiswa', mestinya lebih gampang menendang dosen ke luar dari pada mahasiswa ya hi..hi.. (j/k). Salam, P.Y. Adi Prasaja
