>
Secara umum itu dulu, tapi tidak lagi sekarang :-) Istilah saya PTN telah disamakan (kalau dulu khan ada istilah PTS statusnya disamakan).
Ada satu titik di mana jumlah besar itu tidak otomatis berarti dana yang tersedia besar, karena seperti yagn saya sebut, ada peraturan misal 70% staf harus dosen tetap dengan sekian prosen yang S2, dan S3 (ini yang mejadi beban sendiri bagi PTS-PTS, dimana ketentuan tersebut relatif tidak dikenakan ke PTN).
Kalau melihat 12 M nya sepertinya besar, tapi sudah kena biaya operasional akan menjadi kecil :-), apalagi seperti Lab yang semakin banyak mahasiswa, semakin tinggi ongkosnya.
Biaya subsidi itu sekarang dipotong, dan relatif dipaksa hanya untuk memenuhi biaya operasional minimal (Haushaltmittel), tetapi ini sekarnag dirasa para Profesor tidak mencukupi. Biaya operasional yang dimaksud adalah biaya operasional untuk pengajaran.
Untuk penelitian diharapkan para peneliti mendapatkan dana dari pihak ke-3 istilahnya (Drittelmittelkonto projekt). Bagi prof/peneliti yang tidak bisa mendapat dana ini ya silahkan nganggur aja :-)
Kedatangan seorang mahasiswa Doktor dengan beasiswa dianggap dana tambahan, karena merupakan tenaga kerja yagn tak perlu dibayar oleh si Prof/Peneliti tersebut.
Seperti ajaran orang kampung "gaji kurang, belajarlah ngirit". Subsidi kurang belajarlah efisien.
Belanda dulu seperti Jerman sekarang, artinya mereka sekarnag sudah bergeser seperti model yagn diceritakan profesor tersebut. Dan sekarnag Jerman lagi berubah ke arah sana. Saya beruntung berada di dalam masa transisi ini, jadi bisa menikmati (belajar) bagaimana berat dan bahwa perubahan itu bisa dilakukan.
Tetapi yang membedakan mungkin adalah walau kerajaan kecil, tapi kerajaan kecil itu tidak bisa mengggunakan dana dan fasilitas seenakanya :-) dan tidak bisa melarang orang lain menggunakan fasilita seenaknya.
Contohnya, riset group saya baru saja memodali 1 ruang kelas agar lengkap dg peralatan (kami sering menggunakan ruang ini buat kuliah). Tetapi jurusan/fakultas lain tetapi boleh menggunakan ruangan dan fasilitas tersebut.
Lebih menarik lagi pas mereka mulainya, jangan setelah suksesnya . Sama dengan kalau mau melihat Gunadarma jangan melihat pas mahasiswa udah 6000 tapi pas mereka mulai dengan ruang Lab yang cuma 1 ruang :-), bagaimana sulitnya mengatur duit, dan bagaimana peng-efisiensian yang harus dilakukan.
Saya beruntung mengalaminya.
IMW
> Seperti yang saya sebut, di tempat saya utk mahasiswa tertentu
> ada yg nol karena kena discount ini itu :-)
Tentu saja selalu ada beasiswa dan bantuan lain-lainnya.
Secara umum, PTS biasanya lebih mahal. Itulah sebabnya
saya tidak langsung percaya kalau disebutkan PTN lebih
mahal dari PTS.
Secara umum itu dulu, tapi tidak lagi sekarang :-) Istilah saya PTN telah disamakan (kalau dulu khan ada istilah PTS statusnya disamakan).
> Per angkatan mahasiswa baru sekitar 6000-7000 mahasiswa.
Hal lain lagi adalah masalah skala.
Kalau ada 6000 mahasiswa * Rp 2 juta = Rp 12 milyar.
Kalau di tempat saya ada 200 mahasiswa * Rp 2 juta = 400 juta
Ada perbedaan yang cukup besar karena skala ini.
Tentu saja mengelola 6000 mahasiswa lebih sukar daripada
mengelola 200 orang. You give and take, lah ;-)
Ada satu titik di mana jumlah besar itu tidak otomatis berarti dana yang tersedia besar, karena seperti yagn saya sebut, ada peraturan misal 70% staf harus dosen tetap dengan sekian prosen yang S2, dan S3 (ini yang mejadi beban sendiri bagi PTS-PTS, dimana ketentuan tersebut relatif tidak dikenakan ke PTN).
Kalau melihat 12 M nya sepertinya besar, tapi sudah kena biaya operasional akan menjadi kecil :-), apalagi seperti Lab yang semakin banyak mahasiswa, semakin tinggi ongkosnya.
> subsidi itu. Di Jerman Universitas itu relatif hidup total dari dana
> pemerintah, sebagai dampaknya. Semua resource BOLEH dipakai oleh semua orang
> di luar kampus tersebut.
Mungkin perlu diperhatikan:
- berapa besar (nilainya) subsidi pemerintah tersebut?
Jika kita lihat, seluruh kebutuhan basic di universitas Jerman sudah
dapat dipenuhi oleh subsidi tersebut.
Biaya subsidi itu sekarang dipotong, dan relatif dipaksa hanya untuk memenuhi biaya operasional minimal (Haushaltmittel), tetapi ini sekarnag dirasa para Profesor tidak mencukupi. Biaya operasional yang dimaksud adalah biaya operasional untuk pengajaran.
Untuk penelitian diharapkan para peneliti mendapatkan dana dari pihak ke-3 istilahnya (Drittelmittelkonto projekt). Bagi prof/peneliti yang tidak bisa mendapat dana ini ya silahkan nganggur aja :-)
Kedatangan seorang mahasiswa Doktor dengan beasiswa dianggap dana tambahan, karena merupakan tenaga kerja yagn tak perlu dibayar oleh si Prof/Peneliti tersebut.
membayar gaji dengan standar PNS. Selebihnya, harus cari sendiri.
Bayar listrik saja mungkin sebulan sudah lebih dari Rp 100 juta.
Telepon mungkin Rp 250 juta.
Seperti ajaran orang kampung "gaji kurang, belajarlah ngirit". Subsidi kurang belajarlah efisien.
Model di Belanda lain lagi. Dari bincang2 dengan profesor Belanda
yang datang ke Indonesia (karena kami memiliki kerjasama dengan
Belanda, jadi dia bolak balik ke Bandung) diketahui bahwa mereka
mengelolanya seperti entitas bisnis sendiri.
Fasilitas dan lain-lainnya adalah milik lab, yang tentunya digunakan
sesuai dengan kebutuhan lan. Dengan kata lain: kerajaan kecil.
Ternyata bisa jalan juga tuh.
Belanda dulu seperti Jerman sekarang, artinya mereka sekarnag sudah bergeser seperti model yagn diceritakan profesor tersebut. Dan sekarnag Jerman lagi berubah ke arah sana. Saya beruntung berada di dalam masa transisi ini, jadi bisa menikmati (belajar) bagaimana berat dan bahwa perubahan itu bisa dilakukan.
Tetapi yang membedakan mungkin adalah walau kerajaan kecil, tapi kerajaan kecil itu tidak bisa mengggunakan dana dan fasilitas seenakanya :-) dan tidak bisa melarang orang lain menggunakan fasilita seenaknya.
Contohnya, riset group saya baru saja memodali 1 ruang kelas agar lengkap dg peralatan (kami sering menggunakan ruang ini buat kuliah). Tetapi jurusan/fakultas lain tetapi boleh menggunakan ruangan dan fasilitas tersebut.
Model di negara lain, beda lagi.
Jadi ada banyak model, yang masing-masing ada success story dan
kegagalan.
Yang menarik mungkin melihat di IIT Bombay kali ya?
Lebih menarik lagi pas mereka mulainya, jangan setelah suksesnya . Sama dengan kalau mau melihat Gunadarma jangan melihat pas mahasiswa udah 6000 tapi pas mereka mulai dengan ruang Lab yang cuma 1 ruang :-), bagaimana sulitnya mengatur duit, dan bagaimana peng-efisiensian yang harus dilakukan.
Saya beruntung mengalaminya.
IMW
