Muhamad Carlos Patriawan wrote: > > betul bang,saya ada pengalaman,waktu di satu startup,lunchnya > disediakan kantor,wah jelas banget ritmenya panjang dan lunch hour > sangat efektif.Gak kehilangan waktu sejam untuk jalan2 keluar cari > tukang cendol dan tukang nasi goreng. > (Tukang nasi gorengnya namanya "YAN CAN COOK") > > di startup sebelumnya dinner yang dikasih,jam 8 malam pula,akhirnya ya > dibetah betahin lah kerja sampe jam 8 :) > > Carlos
Kok saya masih menikmati pola makan tiga kali sehari saya ya? Atau karena pangkat saya masih script-kiddies. Saya termasuk orang yang menjaga kesehatan lho. Cie pamer. Jadwal makan saya teratur. Sarapan pukul berapa, siang pukul berapa, malam pukul berapa. Kalau badan sudah mulai terasa sakit, saya segera makan enak (minum jus, minum madu, minum susu dan makan makanan sedikit mahal, maklum lah anak kos). Soalnya saya termasuk yang "anti" ngasih uang ke dokter. Enak aja, sudah sakit, harus keluar uang, minum obat yg pahit, belum lagi waktu yang harus hilang. Tak ketinggalan, keluarga yang ikutan repot gara-gara saya sakit. Dari sinilah, saya baru tahu pentingnya gaya hidup sehat. Di ITB ada mata kuliah olahraga 1 SKS. Setelah saya baca bukunya Wiranto (mantan rektor ITB), ternyata dia pengen life-spent orang-orang ITB itu lumayan panjang. Kenapa? Yah kalau dikasih umur panjang, berarti kesempatan untuk berarti pada orang lainnya lebih lama dong. Hal ini juga yang membuat saya bela-belain National Geographic bulan November 2005. O iya, bagi anggota milis ini yang hidup di LN, mau tanya dong. Jam biologis nya di daerah yang waktu siang dan malamnya tidak 12 jam - 12 jam gimana sih? Terus tidur sehari berapa jam ya? Saya pernah berteori, apa jangan-jangan karena di Indonesia siang = 12 jam, malam = 12 jam, membuat orang Indonesia tidur bisa 8-10 jam sehari? Zaki Akhmad http://www.zakiakhmad.info
