waktu itu, Wed, Feb 01, 2006 at 02:00:46PM +0700, Oskar Syahbana menulis:
> dibayar oleh Mark untuk mengembangkan Ubuntu lebih lanjut. Tetapi Ubuntu
> tanpa komunitas adalah nonsense dan nonsense juga kalau jor - joran dana
> dapat merangsang user participation yang merupakan inti dari kreatifitas.
> 
> adalah salah satu faktor kesuksesan distro terletak pada komunitasnya,
> contohnya Ubuntu. Fedora/Redhat juga besar karena komunitasnya kan :-).
> Setelah komunitas dan user-basenya besar, barulah Redhat berani untuk
> menghentikan pengembangan "terencana" untuk end-user dan menggunakan dana
> jor-joran untuk mengeluarkan distro versi enterprise.
> 
> Bukan engga percaya. Itu kembali lagi pada komunitasnya. Kalau di dalam
> komunitasnya sendiri engga ada yang "jago" ya tentu orang juga akan sungkan
> untuk memakai versi lokal ini karena engga tahu harus bertanya kemana.
> Contohnya IGOS lah. Support untuk pengguna perorangan lokalnya sedikit
> sekali dan akhirnya kita bisa melihat bahwa proyek ini gagal.
> 

Hehe.. mendewakan amat ama komunitas. Emang komunitas ngasih duit buat 
perusahaan distro?
Komunitas rata-rata perorangan. Sedangkan yang ngasih duit ke perusahaan distro 
rata-rata perusahaan. Lihat aja laporan keuangan RedHat.

- SuSE tanpa 'komunitas' bisa hidup. Berapa paket yang dirilis oleh SuSE di 
maintain oleh komunitas?
- RedHat hidupnya bukan dari komunitas, tapi dari support fee. Dukungan RedHat 
buat komunitas, IMHO, karena ingin mengembalikan sesuatu buat komunitas yang 
'tools'nya jadi duit buat RedHat.
- IGOS gagal atau berhasil, pasti multi faktor. Tapi saya yakin komunitas 
bukanlah faktor terbesar.

Dan yang perlu dicatat, komunitas itu efek/akibat. Bukan sebab. 

-- 
fade2blac

Kirim email ke