On Mon, Feb 06, 2006 at 09:11:11AM +0700, Harry Sufehmi wrote: > Wow, kalau memang begitu, berarti pilihannya jadi makin terbatas ya.
sebenarnya kandungannya 'sama' (note: farmaseutik menentukan juga farmakodinamika obat, makanya si A bisa cocok minum itu dan si B cocok yang ini). obat-obat flu yang dijual bebas ini sebenarnya obat simptomatik saja, penyebabnya sendiri kan virus *). jadi kalau dibilang 'manjur' itu agak aneh. isinya, rata-rata, NSAIDs (non steroid anti inflamatory drugs, misalnya parasetamol, aspirin dan turunannya, propanolol dan turunannya, yang semuanya memiliki efek samping serius kalau dipakai secara kronis), dekongestan (efedrin, pseudo efedrin, efedra, ppa), antitusif (dulu pakai kodein sekarang pakai dekstrometorfan), dan tambahan lain seperti antihistamin (ctm), kafein, vitamin (plus tahu, tempe, ayam, es teh manis kalau perlu, biar obatnya laris manis :-). > Ternyata, kelihatannya PPA ini "catch"-nya ya. kalau benar karena alergi, kemungkinann bukan PPA, tetapi karena kandungan antihistamin. coba lain kali kalau 'flu' seperti itu, minum antihistamin (anti alergi). > Selain itu, saya perhatikan selama ini jantung jadi agak > berdebar-debar setiap setelah meminum Neozep, dan metabolisme tubuh > seperti menjadi agak lebih aktif. karena efedrin bersifat simpatomimetik. sebenarnya dalam tubuh sendiri ada zat seperti ini (ada bbrp olah raga/aktifitas yang diyakini memacu adrenalin seperti terjun bebas dari lanti 20. konon, sebelum tewas ybs. merasakan eksitasi yang lumayan heboh. > >kalau dengar laporan otak bisa 'lisis' > >setelah imunisasi > >kira-kira komentar anda-anda bagimana? :-) > > 'lisis' itu apa pak? selnya tewas, mati. bisa koma, dll (bbrp zat anestesia untuk bbrp orang yang alergi juga bisa menimbulkan koma, pernah dengar kan ada kasus mau dioperasi malah koma?). *) bisa terjadi superinfeksi bakteri. ini pembunuh signifikan di Indonesia. bbrp waktu lalu saya terpaksa tergeletak di tempat tidur 3 hr gara-gara ini :-) makanya kalau ke dokter, biasanya langsung main sikat saja dikasih antibiotik. karena asumsinya: kalau cuman flu biasa, orang kagak mungkin datang ke dokter. sableng gak tuh ... waktu itu habis seharian keluar sama fade2blac, pas sebelum tidur siang, sebenarnya sudah terasa badan ndak enak, tidak seperti flu biasa, saya tinggal tidur. malam terbangun jadi sadar kalau sudah kena ISPA. untuk ada antibiotik generik (murah bo'), beli sendiri di apotik. mestinya kan harus pakai resep dokter. tapi minta resep dokter itu jauh lebih mahal dari pada beli obatnya. ironis bukan? :-) Salam, P.Y. Adi Prasaja
