bambang s wrote: > On 2/8/06, Ronald <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Nyebelin banget, kenapa ya sejalan dengan bertambahnya versi software, > > biasanya tambah bloated? Pasti ditambah dengan feature-feature > > yang nggak perlu. Mungkin kalo nggak, programmernya jadi nggak > > makan kali ya? Ada kepikir nggak cara improve software, tapi nggak > > jadi bloated? > > > > ~Ronald > > > > http://en.wikipedia.org/wiki/Creeping_featurism > > Masih mending bloated daripada developmentnya berhenti :D > > Yang kepikiran sama saya sih softwarenya dipecah jadi software lain > terus dijual tersendiri atau digabung sebagai satu suite, seperti > adobe creative suite yang isinya . Jadi alih-alih menggabungkan > fitur-fitur grafis yang berhubungan dengan web development di > Photoshop, Adobe membuat ImageReady yang isinya tools-tools untuk web > graphic desainer.
wah masalah ini kalo dibahas secara komprehensip bisa jadi buku euy dan sangkut pautnya nanti balik ke masalah sistem integrasi dan outsourcing :-) Btw di vendor itu ada yang namanya riset "revenue per-feature". jadi sebelum feature dibikin codenya, harus ditemukan dulu siapa marketnya,siapa yang menggunakan,siapa yg beli, dengan harga berapa. Kalau di persh vendor telekomunikasi, biasanya yang request adalah ISP atau Telco. Yang jadi masalah, sering kali feature-feature baru ditambahkan diatas fundamental software atau software process yang kurang kokoh yang bisa mengakibatkan masalah instability. Saya sendiri sudah capeeeek berat kalau ada orang marketing yg janji "wah kita kalau punya software fitur ini" pasti laku dijual lho....padahal dia belum riset dan mengakibatkan code stability yg mengakibatkan long development cycle--->inefisiensi. efeknya ke customer: multiple patches, bloated software , endless customer calls. Ke developer --> low morale ... -mcp
