m.c. ptrwn wrote:
> Kalau saya boleh cerita dikit, ya saya praised orang India + Pakistan
> banget karena mereka memang yang menolong saya banget .... padahal
> sodara juga bukan , senegara juga bukan.
>
> Memang ada spesial gen DNA dengan orang2 itu di sifat tolong
> menolongnya.
>
>

Adjie wrote:
> >
> Hmmm rasa satu bangsa ini yang kayaknya mulai pudar, hehehe gue pernah
> ketemu sama orang indo di monaco, gue tahu dia orang indo karena sebelumnya
> ngomong dengan temenya eh pas gue tanya make bahasa indo jawabnya make
> bahasa inggris.... lah .... ini yang susah... perasaan gue masih bisa
> ngomong indo,


maaf bila terlalu panjang, tapi ini juga menyangkut masa depan
TEKNOLOGI di Indonesia.

saya masih pengen coba submit mengenai topik ini, lanjutan dari topik
"Dinamika perkembangan software India"  diposting sebelumnya,
spt yg saya rasakan di hawaii, dan juga Pak Adjie, dan Pak Carlos dari
quote mereka diatas, saya coba mengambil analisa singkat mengenai
dilema kenapa tenaga IT kita yg kerja di LN terutama di tempat2 basah
(dalam artian banyak ilmu bukan cuman banyak duwit) sangat dikit,
adalah lebih di karenakan oleh kebiasaan (atau "mentality" tepatnya)
bangsa kita yg sialnya di miliki hampir semua golongan masyarakat
indonesia, semua keturunan, suku, agama dll, (atau mungkin karena ini
sifat fitrah dari manusia?)

kebiasaan itu adalah, jumawa (maaf), atau lebih halusnya dikatakan,
pengen dilihat dulu siapa saya sebelum bertanya siapa anda, yg akhirnya
selalu berakhir kepada, eksklusivitas, hilangnya rasa sosial/senasib
terhadap teman sebangsa bila berada di negara orang,

saya melihat, begitu banyak tenaga IT india di luar negara mereka,
walau yg sering kita katakan, mereka itu "average" dan Indonesia tidak
kalah sebetulnya, dlsb, itu lebih dikarenakan pionir-pionir mereka
terdahulu datang ke negara/tanah harapan baru dng cara yg tidak lebih
beda dengan cara yg dilakukan oleh salah satu kelompok orang indonesia,
yaitu TKI/TKW, menempuh perjalanan berat, numpang tidur ditempat yg
tidak representatif, bekerja kasar, atau hal hal low level lainnya.
yg membedakan akhirnya hanyalah, Org India atau keturunannya tetap
menuntut Ilmu di tempat yg baru, mungkin kita akan suprise bila suatu
saat TKI/TKW ternyata mengambil weekend class untuk degree mereka :-).

sekarang kita lihat berapa ratus ribu TKI/TKW yg melanglang buana ke LN
untuk sesuap nasi?, di titik ini kita akan bertanya, apa yg menyebabkan
jumlahnya menjadi sekian banyak ?

saya rasa jawaban yg paling mungkin adalah rasa senasib dan
sepenangungan dan juga rasa ingin berbagi rejeki, sehingga membuat
kelompok TKI/TKW ini mengajak teman2nya untuk ikut kerja ke LN dan
mereka akhirnya menjadi betah di tempat barunya di LN, karena semakin
banyak teman, semakin tidak terasa beratnya bekerja di LN.

nah, sekarang pertanyaan ini ditujukan ke kelompok melek teknologi
seperti kita, adakah rasa senasib dan sepenangungan ? adakah keperluan
yg mendesak untuk kita2 yg sudah lebih dulu berada di luar negeri
untuk mendatangkan rekan2 kita utk kerja ke luar negeri bagaimana pun
caranya spt TKI/TKW diatas ? misal sampai membantu mereka menyediakan
tempat tinggal, mencarikan jalan untuk bisa kerja secara legal, ataupun
hal yg sampai dilevel, meminjamkan uang untuk modal pendatang baru
hidup di bulan2 pertama kedatangannya di tanah harapan,
mungkin hal diatas tidak akan pernah mampir ke benak kita, karena kita
datang sebagai tenaga yg di bayar dng salary yg lebih manusiawi
dibanding mereka diatas, yg otomatis tidak pernah mengalami masalah
hidup yg berarti.

saya percaya, generasi pertama India yg datang ke tanah harapan
bukanlah orang orang dari kelompok kita kita ini, yg datang sudah
berbekal pengetahuan IT yg luas, sertifikasi berjibun, degree
pendidikan, karena kelompok yg terakhir spt kita ini biasanya sudah
membawa penyakit yg seperti saya sebut diatas.

dan sisa ceritanya, seperti yg kita lihat sekarang, dan hemat saya
janganlah kita menyalahkan sejarah atau menyalahkan pemimpin kita yg
tidak mempunyai arahan yg benar bagaimana membangun bangsa, dan saya
rasa saat inilah pionir2 spt kita, generasi (pertama ?) yg sudah
berdiam di tanah harapan lebih dulu, bisa segera mengadaptasi apa yg
TKI/TKW lakukan, memberikan jalan, membantu dari yg basic2, dlsb,
memang spt terlihat "menyuapi" ato "memanjakan" tapi alam akan
menciptakan jalannya sendiri untuk berkembang, mungkin saja generasi2
yg datang dng cara dimanjakan ini, akan membawa generasi berikutnya yg
jauh lebih handal, dan so on, akhirnya banyak deh perusahaan startup yg
dimiliki oleh putra2 Indonesia.

Demikian jalan pikiran dan analisa saya, maaf bila kata2nya menyingung
salah satu perasaan, saya hanya berusaha mencoba melihat dari sisi
lain, sisi orang yg kurang beruntung, sisi orang yg kepingin punya
kesempatan kerja di LN tapi apa daya segala sesuatunya tidak mendukung.


Winahyu.

oh satu hal ampir lewat, saya pengen banget bisa kerja di middle east,
tepatnya di dubai ? ada yg bisa bantu carikan jalan ? :-D


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena Anda tergabung pada grup Grup Google 
"teknologia" grup.
 To post to this group, send email to [email protected]
 Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
 Untuk pilihan lainnya, lihat grup ini pada 
http://groups.google.com/group/teknologia
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke