Dicky Arinal wrote: > Dear Teknologian, > > Kadang2 saya suka kesal juga melihat sistem pendidikan di Indonesia, karena > banyak para muridnya cuma menghafal. Sue the student? nope! Jangan > disalahkan muridnya, tapi sistem pengajarannya, karena ini terjadi untuk > sebagian besar murid.
Huush.... jangan gampang nyalahin orang Dick! Kuliah itu pilihan lho, gak kuliah gak bakal mati kok. Wadezig, gedubrak! Eh jangan dianggap bercanda lho, ini serius. Kamu kan belum pernah merasakan jadi dosen, jadi hati-hati jika menilai. Ujian bagi saya adalah pertandingan. Pertandingan yang harus ada aturan main yang jelas. Jelas supaya tidak ada yang bermain curang. Apakah open book/close book, bab berapa sampai bab berapa, insidentil atau terjadwal. Masing-masing mode ujian tadi menentukan cara belajar saya. Saya pernah berargumen dengan pengawas ujian yang menuntut tas untuk diletakkan di depan padahal sifat ujiannya adalah open book. Lah, saya tentang saja. Lha wong ujian open book kok tas harus ditaruh di depan. Kan kalau ujian open book saya pasti bawa peralatan tempur penuh. Hi...hii....hii... takut cuma bisa nulis nama dan NIM (nomor induk mahasiswa) saja. Tapi waktu SD-SMP-SMA, saya suka sekali kalau ujian Matematika. Gak perlu belajar atau menghafal lagi. Eh pas kuliah, baru tahu. Ternyata Matematika tidak sama dengan Menghitung. Langsung tepar, gak tahu kalau kuliah ternyata se-menyeramkan ini. Zaki Akhmad
