On 4/22/06, m.c. ptrwn <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > sorry, kalau yg saya denger di jepun dan india tingkat suicide > pelajarnya tinggi :-)) ndak tahu apakah itu cukup signifikan atau tidak > ? > -mcp
Suka memendam masalah akhirnya depresi sendiri. Kalau orang Indonesia masih banyak cara yg bisa digunakan untuk meredam depresi seperti: 1.Melakukan ritual agama 2.Nge-Blog 3.Nonton acara televisi Republik BBM, Bajaj Bajuri, Extravaganza 4.Nge-Junk/Nge-Flame di Milis/Forum2 5.Ikutan Arisan 6.Nongkrong di warung/kafe 7.dll. Kemarin juga ada kawan WN-Jepang yg gagal lulus April kawan2 yg lain sudah mencoba menghubungi tapi tidak berhasil, saya juga khawatir jangan2 dia suicide ternyata muncul setelah selang beberapa saat: "Oh Thank God you alive" Sekarang yg lagi trend suicidenya ramai2 http://abcnews.go.com/WNT/International/story?id=564931 Entah kalau sudah sepakat/sedang dalam proses masih bisa redraw tidak, "Ups sorry saya berubah pikiran, sampai bertemu di alam lain, have a nice trip there". Kalau yg individu 'sudah tak bakal diliput lagi jadi saya juga sehingga tahu 'dah berapa orang yg bunuh diri secara individu serta profilenya. Di tempat saya belum saya temui entah kalau di tempatnya Baskara. Pencari rekan bunuh diri ini sudah dieksplistikan dari awal kalau memang cari kawan buat bunuh diri ramai2 tidak seperti Sekte Kiamat yg sempat heboh di Indonesia tidak bilang dari awal bahwa mereka akan bunuh diri ramai2. Bunuh diri sebagai bentuk pelampiasan depresi memang tragis namun masih harmless dibanding dengan melepaskan tembakan dari senjata semi-otomatis seperti yg telah terjadi di Kantor/Sekolah di US. :) -edo-
