On 5/1/06, adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
coba simak. misal saya yang nulis seperti di atas ('belum tentu capable'),
kemungkinan komentarnya gini: gitu deh tipikal indon, pesimistis, tapi
sok nasionalis hi..hi..
he he he.
gini aja deh. kita lihat aja.
yang di luar negeri, seperti made, ariya, mdamt, dll.
bisa menghasilkan karya untuk indonesia (dan dunia).
nah ... saya mau tahu karya mas adi deh. he he he.
gini, bisnis 'jualan R&D' itu bukan bisnis yang bisa mendatangkan dampak
ekonomi yang signifikan. itu kan bisnis 'jual badan', maksudnya jual satu
dapat 1, sekali dijual, ya tidak bisa dijual lagi, meskipun bisa bayar mahal.
habis gimana dong mas adi. bisnis r&d salah.
mau buka pabrik elektronika di indonesia (baca: bisnis buruh?)
salah juga.
padahal ... elektronika memiliki kontribusi yang signifikan
terhadap devisa negara.
apa lantas mas adi mengusulkan bisnis jualan emas saja
(yang saya tangkap justru mas adi tidak setuju karena
hanya menguntungkan negara barat saja).
saya ingin tahu ide/usulan dari mas adi.
kita bahas di sini. kita pertajam idenya/debat/formulasi
ulang/dst. terus kita coba.
siapa tahu usulan mas adi lebih paten.
mengapa tidak kita coba?
cina, india, vietnam dll, kalau toh bisa mengentaskan diri dari masalah
kemiskinan, pasti bukan karena jual badan.
mestinya ada kata "saja" di belakang kalimat itu :)
ps: cina, india, vietnam rasanya masih lebih miskin dari kita?
nah .. ujung-ujungnya kan mau bikin cuman 1 barang, tapi barang itu bisa
dijual dan dijual lagi secara massal. bisa ndak yang gitu di sini? ok lah,
20 tahun lagi SDM kita sudah pinter sehingga bisa bikin algoritma inspeksi
paket nan canggih, yang mampu menginspeksi panu/kadas/kurap on the wire,
tapi begitu mau dipabrikkan, pabriknya dibangun di cina.
sudah tahu masalahnya?
jadi usulannya?
daripada kita sibuk2 lebih baik beli saja?
(seperti industri telepon seluler. semua impor tulen!)
tapi ... enaknya kita gak pusing2.
asal bisa beli, ngapain susah lagi ya?
pikir2 bener juga.
-- budi