Duluuu sekali saya pernah mengajukan sebuah Sistem Informasi Harga Pasar dengan cara yang agak aneh.
Begini. 1. Pasang server web di ITB 2. Rekrut orang (siapa saja, penjaga toko di pasar, tukang becak, atau siapa saja) yang kerjanya setiap hari pergi ke pasar. Atau bisa juga mahasiswa yang kos-kosannya dekat pasar. Sambil ke kampus, survey harga pasar dulu. (Ada honornya. Nah ini biaya yang saya usulkan untuk didanai. Biaya2 lain nampaknya lebih kecil daripada biaya operasional ini. Bisa ditanggung bersama-sama. Web sudah ada. Internet numpang ITB.) 3. Orang ini mencatat harga berbagai barang (catat di kertas saja). Kemudian pergi ke kampus ITB, serahkan daftar harga tersebut kepada mahasiswa yang menjadi operator web. 4. Harga di web diperbaharui. Tidak real-time, tapi cukuplah. (Toh untuk kasus seperti ini tidak perlu dalam orde detik.) Maka jadilah SISTEM INFORMASI HARGA PASAR yang betul2 akurat! Oh ya lupa. Orang yang direkrut bisa 1 pasar = 1 orang. Atau, kalau yang lagi gak ada kerjaan 1 orang = beberapa pasar. Usulan saya dulu adalah pasar Simpang, Balubur, Cihapit, Cihaurgeulis. (Yang within distance dari ITB.) Ide ini bisa diteruskan dengan tambahan harga dari pasar swalayan :) atau ... ke petani-petani, atau apa pun. Yang penting infrastruktur (basisnya) sudah jalan. Tinggal nanti masalah content acquiring, yaitu sumber data harga. Proposal ditolak! Mungkin idenya terlalu aneh/edan, tidak academics? Atau memang tidak ada pasar/kebutuhan? (Padaha kalau tahu ada perbedaan harga, maka akan terjadilah bisnis :) Proposal saya buang! -- budi
