On 5/11/06, Affan Basalamah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Yang jelas, ibu-ibu itu senangnya : NAWAR! NAWAR TO THE MAX!
Yup. Sekarang bagaimana caranya mengeksploitasi teknologi untuk mengeksploitasi ... oops, maksud saya, melayani kebutuhan TAWAR MENAWAR itu ... he he he. Saya perhatikan bahwa banyak orang sebelum membeli perangkat elektronik, ngecek dulu ke Bhineka :) Beli belum tentu ke sana, tapi ngecek ke sana sudah merupakan standar prosedur. (Apakah Anda melakukan hal ini?) Apakah hal yang sama bisa terjadi juga dengan harga pasar? Yang pasti, untuk belanja harian, ibu-ibu pergi ke pasar terdekat. Perbedaan harga tidak terlalu menjadi masalah. Jadi sisfo harga tidak terlalu manfaat untuk kasus ini. Akan tetapi kalau weekend/liburan, nah ... pasar yang jauh pun akan dikejar kalau harga beda! Padahal beda nggak banyak, tapi tetap dikejar. Informasi harga baru menarik untuk ini. Tapi artinya ini kasus kecil :( bukan harian. Di sisi lain, bisa juga hanya sekali pergi, tapi belanja banyak. (Stocking up?) Nah business model mesti digali :) Itu kalau target penggunanya adalah ibu-ibu. Kalau target penggunanya adalah grosir atau yang mau jualan, mungkin bisa beda lagi. Kalau yang jualan punya tempat tetap, mungkin nggak ngaruh karena toh dia tetap jualan di pasar itu. Kalau yang jual mobile/nomaden, mungkin manfaat. Tapi seberapa besar segmen mereka? Dan apakah mereka mau bayar? Lagi-lagi ... business model mesti digali. Apakah ada opportunity? Anyway, itulah yang ada di benak entrepreneur (seperti [EMAIL PROTECTED]). Ha ha ha Saya lihat pengaruh IT sudah mulai masuk ke pasar penerbangan. Air Asia sekarang menjadi barometer. Harga Pasar? Mungkin bisa jadi proyek teknologia ... -- budi
