Wah, ... saya sih setuju-setuju aja jadi salah satu 'sapi' ini.  It all comes down to what you want to do in life.  Kebetulan saya gemar sekali belajar algoritma.  Boleh dibilang kendala yang saya hadapi adalah tidak ada waktu untuk belajar secara intensif karena commitment pada kerjaan full-time saya.  Jadi ya selama ini saya hanya mengambil waktu senggang untuk ikuti perkembangan programming contest, biar tidak "rusty".
 
Lain sekali kalau kerjaan full-time saya closely-related dengan kegemaran saya juga.  Tentunya jadi ideal sekali.  Apalagi kalo sapinya diperlakukan dengan baik.  Kadang-kadang, uang bukan hal utama (terutama kalo masih single), jadi mungkin ini bisa jalan dengan baik.
 
Terus terang, saya menilai Indonesia belum memperhatikan hal ini.  Ada thread yg menulis tentang bagaimana menjadi duta besar dalam hal programming contest ataupun prestasi lainnya, ... tapi tidak jelas apakah ada pelatihan khusus yg termasuk di program kerja negara dari department pendidikan misalnya (mungkin saya naif sekali karena tidak tahu detailnya).
 
Tiba-tiba saja kalau ada yang menang, barulah pers reacts dengan headline putra Indonesia memenangkan, de el el.  Itu saja kalau dapat tip dari beberapa rekan yg tahu tentang adanya contest semacam ini.
 
Akan lain sekali halnya kalau pemerintah turut serta dalam membuat program yg jelas untuk masalah satu ini.  Coders Indonesia jelas tidak kalah dibandingkan negara lain.  Apalagi setahu saya, kebanyakan coder Indonesia yang aktif di programming contest ini termotivasi dari dalam diri sendiri.  Mereka harus cari tau referensi sendiri, belajar sendiri, pusing sendiri dalam mencoba memecahkan suatu masalah algoritma yg rumit.  Apalagi kalau memang ada yg mengarahkan secara intensif, ... wah, pasti hasilnya akan jauh lebih baik.
 
Mungkin kalau kita berprestasi secara konsisten, bukan tidak mungkin kalau negara-negara besar akan mencoba outsource ke Indonesia lebih sering.
 
Saya pikir Indonesia "caught India off guard" untuk Google India Code Jam pertama tahun 2005.  Saya melihat peluang hanya dibuka untuk negara-negara Asia Selatan (tapi tidak termasuk Bangladesh) dan negara Asia Timur seperti Jepang, China, Taiwan tidak boleh ikut.  Pada saat itu, saya langsung hubungi rekan-rekan yg suka ikutan programming contest, karena peluang Indonesia cukup besar di sini.  Perlu diketahui bahwa Bangladesh cukup getol dalam urusan programming contest, saya ngga jelas kenapa mereka tidak diperbolehkan ikut pada kontest tahun 2005.  Dalam hal ini, cukup jelas Ardian menang nomer 1, Pascal menang nomer 2 :).  Banyak rekan lain yg ikutan dalam 50 besar di Bangalore.
 
Dalam hal beginian, jelas kita ngga kalah dari India.  Kita mungkin kurang hebat dalam berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dibanding mereka.  Saya sering interview candidate dari India, ... kecil sekali persentase di mana mereka benar-benar ahli dalam Software Engineering.  But, wow, mereka pinter sekali dalam menjelaskan secara teori dalam bahasa Inggris yg baik, walaupun logatnya lucu.
 
Tentunya walaupun persentasenya yg ahli kecil, tapi populasi mereka besar, jadi ya jelas banyak juga yg hebat-hebat.
 
Mengenai outsource, sebenarnya adalah hanya masalah mendapat kepercayaan dari si pemberi project.  Dalam skala kecil, saya tahu Sindu kadang dikontak untuk mengerjakan suatu proyek kecil lewat TopCoder, hanya dengan mengasah reliability rating yg dia earn saat mengikuti lomba demi lomba.
 
Mungkin cukup ngelantur, tapi inti dari apa yg saya ingin sampaikan adalah bahwa saya percaya, pemerintah perlu ikut serta secara intensif dalam hal ini.
 
Thoughts?
 
-Lego
 
On 5/29/06, Felix Halim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

On 5/29/06, Budi Rahardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya lagi punya ide gila:
>
>    Bagaimana jika para pemenang Google Code Jam dan Topcoders
>    dari Indonesia dikumpulkan dalam 1 tempat dan diberi fasilitas
>    untuk tetap coding?

Perlu dirincikan lagi maksud dari coding disini.
Coding untuk sotwarea hosuse? atau coding untuk pelatihan supaya next
Google Code Jam / TopCoder jadi juara?


> Tentu saja mereka digaji agar bisa tenang dalam ngoprek
> (baca: coding). Agar mereka tetap bisa ikut kompetensi :)
> Menarik tidak ya?

Saya sih sangat senang kalo ditawari seperti itu. Karena masih pengen
ngasah kemampuan algoritma (coding keliatannya udah lumayan) tapi gak
ada waktu dan juga banyak tugas. Apa lagi kalo udah lulus nanti...
pasti pikirannya cari kerja.. Skill algorithms bisa menurun drastis.

Btw, ada yang perlu diklarifikasi tentang "coding". Sebenernya untuk
juara TopCoder itu memang perlu tahu cara coding cepat, efisien,
without bug, etc..  tapi ada yang lebih penting lagi. Yaitu
pengetahuan tentang "algoritma" untuk nge-solve problems yang dikasih.
Jadi orang yang bisa coding, belum tentu sukses di TopCoder. Lebih
lagi, soal TopCoder yang akan datang selalu diseleksi sehingga tidak
ada soal yang pernah muncul sebelumnya, jadi setiap kompetisi SRM di
TopCoder pasti aja ada hal yang baru. Kalo orangnya gak bisa menemukan
algoritma yang tepat dengan cepat, maka biasanya dia akan buang2 waktu
bengong-bengong didepan komputer :P

Untuk mengasah skill algoritma ini gak gampang. Banyak orang putus asa
ditengah jalan dan beralih ke bidang lain. Hanya yang bertahan saja
yang bisa jadi juara nantinya. Kalo orang udah kerja di perusahaan,
pasti udah gak mikirin algoritma segila saat tanding di TopCoder.
Karena biasanya ditempat kerja jarang ketemu masalah yang harus
dipecahkan oleh algoritma yang paling efisien. Biasanya developer itu
ngasal coding, asal programnya jalan, asal usernya senang, asal meet
requirement, maka selesai. Tetapi orang2 yang juara TopCoder, itu
orientasinya beda, kalau programnya gak efisien (algoritmanya salah),
maka jangan harap dapat nilai :) Otomatis pemenang TopCoder itu
orangnya berpikiran tajam terus.

> - Apa yang bisa diperoleh dari mereka?
>    Agar ada revenue stream sehingga ide ini jalan terus.
>    Misalnya, apakah kumpulan ini dijadikan usaha untuk
>    layanan debugging (hard to understand software to debug)
>    Apakah buat layanan training untuk high-end programmers?
>    (Tapi biasanya high-end coders malas untuk mengajar
>    secara kontinyu.)

Untuk buka software house, saya kira akan sangat bagus juga. Biasanya
orang2 TopCoder bisa coding dengan cepat begitu melihat suatu problem.
Jadi kalo disuruh bikin software, wah pasti cepet banget. CNN pernah
memberitakan bahwa orang2 TopCoder kalo dibandingkan dengan orang2
biasa productivitynya bisa 10x lebih baik:

http://www.cnn.com/2005/TECH/07/21/spark.codejam/index.html

Tapi kalo udah buka sofware house itu dah kayak kerja seperti biasa..
algorithmnya akan jarang keasah lagi... meskipun pasti masih tetep
ada. Dillema antara mengasah ilmu, atau memakai ilmu itu untuk
menciptakan suatu product.....


On 5/29/06, baskara < [EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kesan pertama saya seperti (maaf) memerah sapi.
> Coder juga manusia. :-)
>
> [ mungkin para pemenang bisa menanggapi usulan pak Budi? ]

Asal sapinya diperlakukan dengan baik, saya rasa tidak masalah.


Saya pernah denger TechTalknya Google:
http://felix-halim.net/story/gicj05/day2-3.php

"Most people avoid problems... but we, programmers like to solve problems!"

When Google develop something, they don't think: "Where is the
Money?". When they know what they're developing makes the user happy,
they know there's money in it :)

Jadi intinya, presenternya mo bilang kalo programmers sebaiknya
lakukan apa yang mereka senangi, untuk urusan duit, biarkanlah orang
marketingnya google yang pikirin gimana cara menjual/dapet untung dari
barang yang menarik ini. Jadi programmer2 di Google itu happy2 semua,
karena mereka mengerjakan apa yang mereka suka, mereka research
hal-hal baru yang mereka senangi... nantinya bakal menghasilkan
income. Itu adalah Google Motto.


Felix Halim




--
Fear of the LORD is the beginning of knowledge (Proverbs 1:7)
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
http://teknoblogia.blogspot.com/2005/02/tata-tertib-milis-v15.html
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke