Sang "Ksatria" dan Pengabaian Dunia 
          
Rabu, 20 Juni 2007

Gelar ”Ksatria” untuk si pengina Nabi Muhammad jelas
akan kembali melukai perasaan umat Islam. Namun,
biasanya, Barat atau Eropa tetap mengabaikannya

Hidayatullah.com--Salman Rushdie mungkin bisa
bersenyum dengan puas. Gelar ”Ksatria” dari Ratu
Elizabeth II yang beberapa hari lalu disematkan
padanya, mungkin, cukup untuk menjelaskan pada dunia
Islam, bila dirinya telah menang.

Maklum saja, hampir dua puluh tahun ia hidup dalam
penderitaan. Ia terpaksa bersumbunyi dari negara satu
ke negara lain. Meski saat itu negara Barat lansung
memuji-mujinya, fatwa ’hukuman mati’ dari Pemimpin
Tertinggi Iran Imam Khomeini, telah cukup membuat
susah hidupnya.

Tepatnya, tahun 1988 ia hidup bersembunyi etelah
menulis Novel ”The Satanic Verses” (Ayat-ayat Setan)
-nya dianggap menghina Rasulullah Muhammad SAW.

Tentu tak hanya Khomeini yang merasa tersinggung. Coba
saja, isi ”The Satanic Verses” nya itu bercerita
tentang Jibril dan Muhammad. Dalam kisah itu, Jibril
dan Muhammad digambarkan tengah telanjang dan bergumul
di atas pasir dengan nafsu menggelora.  Dalam novel
itu, Rushdie menggambarkan, yang sedang bergumul
dengan Muhammad itu sesungguhnya adalah setan  yang
menyamar dan membisikinya ”wahyu”. Wahyu itulah yang
kemudian disebut ’ayat-ayat setan’, yang kini
didakwahkan Muhammad kepada umatnya.

Tepatnya tanggal 14 Februari tahun 1989, Pemimpin
Iran, Imam Khomeini, mengeluarkan fatwa hukuman mati
atas dasar kemurtadan yang dilakukan Salman Rushdi.

Penulis Muslim asal Inggris itu dinilai telah murtad
akibat menulis novelnya itu. Fatwa Khomeini juga
mendapat dukungan luas dari sebagian besar ulama dunia
Islam, Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan  kalangan
cendikiawan independen dunia. Sebaliknya, pemerintah
Barat malah memberi perlindungan penuh kepada Salman
Rushdi dengan alasan melindungi kebebasan penulisan.
Bahkan, pencetakan dan pendistribusian besar-besaran
buku ini justru dilakukan pemerintah Barat.

Sesama jenis

Rushdie  lahir di Bombay pada tahun 1947. Bersama
keluarganya pindah ke Karachi dan setelah itu
berimigrasi ke Inggris saat itu umurnya masih 13
tahun. Ia menyelesaikan kuliahnya di jurusan sejarah
di universitas Cambridge. Sejak itu, ia mengukir karir
di London menjadi seorang penulis penuh.

Banyak sisi-sisi lain Rushdie yang jarang diangkat ke
permukaan. Misalnya, ibunya, Vanita adalah seorang
penari.  Menurut beberapa catatan, Pada masa
remajanya,  Vanita beberapa kali melalui Salim Khan,
gubernur Bombai, melakukan penghinaan terhadap masjid.
Pernah ia meletakkan kepala babi di undak-undakan
masjid kemudian lari menyembunyikan dirinya. Ia juga
pernah membakar upacara orang-orang Hindu dan
menyebarkan bahwa itu dilakukan oleh kaum Muslimin.
Setiap kali ia melakukan penghinaan, ia mendapat
bayaran dari Salim Khan.

Selama sekolah di Inggris, Salman Rushdie di masukkan
asrama. Di tempat itu, dia berkenalan dengan anak
Mesir, bernama Umar.  Mereka kemudian menjalin
percintaan sesama jenis. Sebagaimana dikutip sebuah
situs pelajar Syiah Indonesia di Iran,  konon,
keduanya pernah bersepakat untuk menikah. Tak cukup
itu, mereka dikabarkan  membuka ajaran-ajaran agama
yang memperbolehkan perkawinan sesama jenis. Ketika
Madame Rosa ibu asrama mengetahui gelagat ini, ia
menyurati ayah Umar yang berpangkat jenderal. Ayahnya
datang untuk membawa anaknya pulang ke Mesir. Umar
yang begitu cinta kepada Salman akhirnya membakar
dirinya. Setelah Umar meninggal, Salman sangat
terpukul dan memutuskan untuk membalaskan dendamnya
terhadap agama-agama. Hingga kemudian memunculkan
Novel kontroversial yang telah membuat tersinggung
umat Islam sedunia.

Sebelumnya, ia juga menulis novel berjudul Midnight’s
Children tahun 1981. Dengan buku itu ia mendapat
hadiah sastra Inggris Booker Prize. Buku ini isinya
mengkritik perlawanan rakyat India untuk merdeka dari
tangan Inggris. Sekitar setengah juta naskah terjual.
Pada tahun 1983 ia menulis buku Shame tentang kondisi
Pakistan. Buku The Jaguar Smile: A Nicaraguan Journey
1987 adalah hasil dari perjalanan 3 minggunya ke
Nikaragua. Karya-karya Rushdie yan lain adalah Haroun
and the Sea of Stories (1990), The Moor's Last Sigh
(1995), The Ground Beneath Her Feet (1999) dan
Shalimar the Clown (2005).

Kembali ke publik

Fatwa mati Imam Khomaini telah membuat Salman Rusdhie
hidup susah. Saat tinggal di London,  Rushdie  hidup
dalam pengawalan ketat selama  24 jam. Kehidupan
seperti itu, pernah diakuinya sebagai hal yang tak
menyenangkan.

Meski demikian, ucapannya yang menyakiti perasaan umat
Islam tak pernah berhenti. dalam sebuah artikel di The
New York Times ia menyatakan, "Kaum fundamentalis
mengira kita tidak punya keyakinan apapun. Untuk
membuktikan bahwa mereka itu keliru, pertama-tama
harus tahu bahwa mereka itu keliru. Juga sebelumnya
kita perlu sepakat tentang apa yang patut dihitung:
berciuman di tempat-tempat  publik, sandwich babi,
perbedaan pendapat, mode pembidas, sastra, kemurahan
hati,  pemerataan pendapatan di bumi, bioskop, musik,
kebebasan berpikir, keindahan, cinta.... Dari
kesepakatan itu kita tahu bagaimana semestinya hidup
tanpa ketakutan sesuai pilihan dan yang kemudian akan
mengantarkan kita pada kemenangan."  

Rusdhie kembali ke hadapan publik pada tahun 1999.
Tahun 2004 ia menikah dengan aktris India, Padma
Lakshmi, di Manhattan.

Sabtu lalu, Ratu Elizabeth II ikut kembali
memublikasikan ketokohannya dalam daftar penerima
gelar ”ksatria” dari kerajaan Inggris. Dan Rushdie,
berhak menambahkan gelar ”sir” di depan namanya. "Saya
berdebar dan dibuat berendah diri atas kehormatan luar
biasa ini, dan sangat berterima kasih bahwa kerja saya
sudah diakui dengan begitu," ujarnya.

Namun, tentu berbeda dengan Iran dan Pakistan. Kemarin
Iran menuding Inggris menderita islamofobia (ketakutan
pada Islam) karena memberikan penghargaan kepada sosok
yang dianggap sebagai musuh Islam.

"Memberikan gelar ksatria kepada salah seorang tokoh
yang dibenci dunia Islam adalah tanda jelas adanya
islamofobia di antara pejabat tinggi Inggris. Ini
menempatkan Inggris pada posisi bertentangan dengan
komunitas Islam sekaligus melukai perasaan mereka
sekali lagi," kecam Jubir Deplu Iran Mohammad Ali
Hosseini. Dia menambahkan, pemberian gelar tersebut
sama saja dengan penghinaan terhadap umat Islam. Dan
seperti biasa –sebagaimana pernah terjadi pada koran
Denmark, Jyllands-Poste-- Barat maupun Eropa, selalu
mengabaikannya. [cha, berbagai
sumber/www.hidayatullah.com]


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke