Sambungan...
NICEA 325: Ketika Yesus Disahkan Jadi Tuhan Upaya yang dilakukan Paulus mendapat tentangan dari banyak pengikut Yesus. Mereka mengatakan Paulus telah melakukan heresy (penyesatan). Saat itu kelompok Paulus merupakan minoritas dan berjalan hingga tahun 70 M. Kelompok pemimpin kemurnian ajaran Yesus dipimpin oleh Jacques, yang dipercaya masih memiliki hubungan darah dengan keluarga Yesus. Dia didampingi oleh Petrus dan Yohanes (Nabi Yahya a.s.). Kerabat Yesus memegang peranan penting dalam menjaga kemurnian Taurat Musa. Namun sejak pemberontakan Yahudi terhadap Romawi dan jatuhnya Jerusalem pada 70 M, keadaan menjadi terbalik. Ajaran Palulus yang didukung pendeta dan imam Yahudi makin popular. Ajaran ini makin lama makin jauh dari keasliannya dan berkembang menjadi sebuah agama yang sama sekali baru. Perseturuan pun kian tajam dan umat Yesus terbelah dalam ratuasn sekte-sekte kecil dengan Injilnya masing-masing. Taurat Musa yang merupakan risallah yang diemban oleh Nabi Isa atau Yesus jelas menyatakan bahwa konsep ketuhanan adalah Yang Maha Esa (Monotheisme), namum menurut Paulus, tuhan itu bersifat dualistic yakni Tuhan Bapak dan Tuhan Anak. Para pendeta memberikan jawabannya masing-masing sesuai dengan tingkat pemahamannya terhadap kekeristenan tentang konsep ketuhanan. Mereka juga terbelah menjadi dua: Tauhid dan anti-Tauhid. Dr. Muhammad ataur Rahim dalam bukunya “Jesus a prophet in Islam”(London, 1979) banyak mengungkap tentang keberadaan kaum Arian Ini. Kaum arian yang menolak ketuhanan Yesus dipimpin oleh Arius (270-350 SM) seorang prebyster (Imam Kecil) di Iskandariyah. Menurut Arius, Yesus kristus itu makhluk, sedangkan sifat-sifat ketuhanan yang ada pada dirinya bukan sifat yang hakiki, melainkan anugerah dari Tuhan. Arius mendapat dukungan dari Mesir, palestian, Nocimedia, Maradonia, Assiut, dan bahkan Patriarch Konstatinopel. Lawan Arius yang paling keras adalah Athanasius, uskup Iskandariyah. Kontroversi ini membuat kaisar Konstantin mengumpulkan para patriarch dan uskup di seluruh negeri sebanyak 2.018 Orang untuk bersidang di Nicaea (325 M). Ini adalah konsili Oikumenis pertama dalams ejarah kekeristenan, untuk membicarakan Yesus itu Tuhan atua bukan. Dalam Konsili, 1700 uskup sepaham dengan Arius, sisanya sejalan dengan Athanasius. Namun konstantin enggan mengambil keputusankarena dirinya merupakan pendukung Trinitas. Konsili pun dibubarkan. Namun setelah itu Konstantin mengumpulkan para uskup pro-Athanasius, lewat pemungutan suara rekayasa, Konstantin memenangkan ajaran Athanasius yang benar dan dijadikan ajaran resmi di Roma. Namun konsili Nicaea belum sepuhnya merumuskan konsep trinitas. Baru pada konsili Konstatinopel (381 M)dan konsili Chalcedon (451 M) Roh kudus ditetapkan sebagai Tuhan, maka lengkaplah Trinitas. (Bersambung) *Dikutip dari Eramuslim Digest (Genesis Of Zionism, Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah 1) Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

