Kayaknya pengalaman pak Bohr ini hampir sama dengan pengalaman ku tetapi
bedanya kemaren aku disuruh ngukur panjang jalan tol sby gempol dengan
mengunakan kolor cdnya pak nyoman tusta


> -----Original Message-----
> From: Mantus [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Tuesday, August 14, 2001 3:35 PM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      Fwd : Think about it..
> 
> MENGUKUR KETINGGIAN DENGAN MENGGUNAKAN BAROMETER
> 
> Barometer adalah alat untuk mengukur tekanan udara, bagaimana caranya
> untuk
> mengukur ketinggian? Cerita berikut tentang salah satu pertanyaan dalam
> ujian 
> Fisika di Universitas Copenhagen: "Jelaskan bagaimana menetapkan
> tinggi suatu bangunan pencakar langit dengan menggunakan sebuah
> barometer."
> 
> Salah seorang mahasiswa menjawab: "Ikatlah leher barometer itu dengan
> seutas 
> tali panjang, lalu turunkan barometer dari pucuk gedung pencakar langit 
> sampai menyentuh tanah. Panjang tali ditambah panjang barometer akan sama 
> dengan tinggi pencakar langit."
> 
> Jawaban yang luar biasa "orisinil" ini membuat pemeriksa ujian begitu
> geram.
> Akibatnya si mahasiswa langsung tidak diluluskan. Si mahasiswa naik
> banding.
> Menurutnya, kebenaran atas jawaban itu tidak bisa disangkal. Kemudian 
> universitas menunjuk seorang arbiter yang independen untuk memutuskan
> kasus
> itu. Arbiter menyatakan bahwa jawaban itu memang benar, hanya saja tidak 
> memperlihatkan secuil pun pengetahuan mengenai ilmu fisika. Untuk
> mengatasi
> permasalahan itu, disepakati untuk memanggil si mahasiswa, dan memberinya 
> waktu enam menit untuk memberikan jawaban verbal yang menunjukkan paling 
> sedikit latar belakang pengetahuannya mengenai prinsip-prinsip dasar ilmu
> 
> fisika.
> 
> Selama lima menit, si mahasiswa duduk tepekur, dahinya berkerut. Arbiter 
> mengingatkan bahwa waktu sudah hampir habis. Mahasiswa itu menjawab bahwa
> ia
> sudah memiliki berbagai jawaban yang sangat relevan, tetapi tidak bisa 
> memutuskan yang mana yang akan dipakai.
> 
> Saat diingatkan arbiter untuk bersegera memberikan jawaban, si mahasiswa 
> menjelaskan sebagai berikut:
> 
> "Pertama-tama, ambillah barometer dan bawalah sampai ke atap pencakar
> langit. Lemparkan ke tanah, lalu ukurlah waktu yang dibutuhkan untuk
> mencapai tanah. Ketinggian bangunan bisa dihitung dari rumus H = 0.5g x t 
> kwadrat. Tetapi khan sayang barometernya jadi pecah."
> 
> "Atau, bila matahari sedang bersinar, anda bisa mengukur tinggi barometer,
> 
> tegakkan di atas tanah, dan ukurlah panjang bayangannya. Setelah itu,
> ukurlah 
> panjang bayangan pencakar langit, sehingga hanya perlu perhitungan
> aritmatika 
> proporsional secara sederhana untuk menetapkan ketinggian pencakar
> langitnya."
> 
> "Tapi kalau anda betul-betul ingin jawaban ilmiah, anda bisa mengikat
> seutas
> tali pendek pada barometer dan menggoyangkannya seperti pendulum. 
> Mula-mula lakukan itu di permukaan tanah lalu di atas pencakar langit. 
> Ketinggian pencakar langit bisa dihitung atas dasar perbedaan kekuatan 
> gravitasi T = 2 pi akar dari (l/g)."
> 
> "Atau kalau pencakar langitnya memiliki tangga darurat di bagian luar,
> akan mudah sekali untuk menaiki tangga, lalu menggunakan panjangnya
> barometer
> sebagai satuan ukuran pada dinding bangunan, sehingga tinggi pencakar
> langit
> = penjumlahan seluruh satuan barometernya pada dinding pencakar langit."
> 
> "Bila anda hanya ingin membosankan dan bersikap ortodoks, tentunya anda
> akan menggunakan barometer untuk mengukur tekanan udara pada atap pencakar
> langit dan di permukaan tanah, lalu mengkonversikan perbedaannya dari
> milibar 
> ke satuan panjang untuk memperoleh ketinggian bangunan."
> 
> "Tetapi karena kita senantiasa ditekankan agar menggunakan kebebasan
> berpikir dan menerapkan metoda-metoda ilmiah, tentunya cara paling tepat
> adalah mengetuk pintu pengelola gedung dan mengatakan: 'Bila anda
> menginginkan barometer baru yang cantik, saya akan memberikannya pada anda
> 
> jika anda memberitahukan ketinggian pencakar langit ini."
> 
> Siapakah mahasiswa tersebut?
> Mahasiswa tersebut adalah Niels Bohr, satu-satunya warga Denmark yang
> memenangkan hadiah Nobel untuk Fisika. How sometimes we just judge
> somebody by what she/he say, not by the real thought inside of her/him.
> 
> Smiley...! Seringkali kita menilai seseorang dari apa yang dikatakannya,
> bukan dari apa yang sesungguhnya ia pikirkan.

Kirim email ke