----- Original Message -----
From: Yogawasista
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, April 20, 2007 3:11 AM
Subject: [DISKUSI ISLAM: 596 ] Inner and Outer Success
Inner and Outer Success
EKO JALU SANTOSO
Ketika ditanyakan kepada setiap orang, apa yang menjadi tujuan hidupnya?
Sebagian besar akan menjawab ingin menjadi manusia yang sukses. Karena manusia
adalah makhluk pencipta kesuksesan, apa pun paradigma kesuksesan tersebut
baginya.
Kita cenderung terobsesi dengan berbagai prestasi tinggi dalam kehidupan
duniawi. Perhatikan sejarah kehidupan telah mengukir prestasi tujuh keajaiban
dunia, seperti piramida di Mesir, tembok besar di Cina, kompleks Taj Mahal di
India, dll. Itu semua adalah monumen simbul hebatnya karya akal pikiran manusia
yang selalu terobsesi mencapai prestasi kesuksesan tertinggi.
Demikian juga kisah kesuksesan dalam berbagai petualangan agung, seperti
pendaratan Neils Amstrong di bulan, perjalanan mengelilingi dunia oleh
Magelhaens atau Columbus, penerbangan pesawat ruang angkasa ke Mars, eksplorasi
angkasa luar sampai ke galaksi-galaksi terjauh, semuanya adalah manifestasi
dari roh kesuksesan manusia dalam dirinya.
Karya-karya agung di berbagai bidang kehidupan, seperti karya sastra,
karya seni lukis dan penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi, semuanya
dimotivasi oleh keinginan manusia mencapai tingkat kesuksesan tertinggi.
Pertanyaannya kemudian adalah benarkah kesuksesan dan prestasi seperti
ini adalah kesuksesan tertinggi yang sejati? Bagaimanakah sebenarnya
mendefinisikan paradigma makna kesuksesan hidup di tingkatan yang lebih tinggi?
Bagaimana untuk mencapai kesuksesan hidup yang lebih bermakna?
Saya pribadi belum menemukan makna kesuksesan hidup tertinggi dan masih
dalam taraf belajar untuk terus menggali bagaimana sesungguhnya makna
kesuksesan hidup dalam tingkatan yang lebih tinggi. Meski demikian, kita dapat
mencermati penelitian yang dilakukan oleh Danah Zohar dan Ian Marshal, yang
mengatakan, "Bahwa makna yang paling tinggi dan paling bernilai, dimana manusia
akan merasa bahagia, justru terletak pada aspek spiritualitasnya".
Demikian juga kita dapat menelaah lebih jauh pandangan pengusaha,
pendakwah dan pendiri pondok pesantren Daarut Tauhid, A'a Gymnastiar, yang
mengatakan, "Orang sukses sejati adalah orang yang terus menerus berusaha
membersihkan hatinya, terus meningkatkan kemampuan untuk mempersembahkan
pengabdian terbaik dan memiliki keikhlasan dan kemuliaan akhlak." Dengan
demikian, orang sukses sejati adalah orang yang mampu mempersembahkan karya
terbaik dalam hidupnya untuk kemaslahatan umat. Itulah rahmatan lil 'alamin,
rahmat bagi seluruh alam.
Yang perlu dipahami oleh kita semua adalah, bahwa kehidupan manusia
merupakan pergulatan antara dua kepentingan utama, yakni kepentingan fisik dan
kepentingan spiritual. Manusia sebagai makhluk fisik memiliki kepentingan fisik
berupa hal-hal yang kita butuhkan untuk memenuhi kehidupan kita di dunia
sekarang ini.
Sedangkan manusia sebagai makhluk spiritual yang abadi memiliki
kepentingan spiritual berupa hal-hal yang kita butuhkan untuk memenuhi
kehidupan di dunia dan kehidupan selanjutnya di masa mendatang. Dengan demikian
kepentingan spiritual merupakan sebuah kebutuhan sekarang dan sekaligus
kebutuhan jangka panjang. Kehidupan kita di dunia masih harus dilanjutkan dalam
kehidupan di akhirat nanti. Akhir kehidupan kita sesungguhnya adalah pada saat
kita dihadapkan pada persidangan Allah SWT di akherat nanti.
Kalau demikian, maka idealnya dalam menjalani kehidupan sebaiknya selalu
berprinsip pada keseimbangan antara kepentingan duniawi dan kepentingan
ukhrawi. Dalam memandang makna sukses sebaiknya selalu menyelaraskan antara
"inner success" dengan "outer success" dalam diri kita.
Artinya bagaimana kita dapat menyelaraskan dan menggunakan segenap
potensi kedahsyatan hati, akal pikiran dan kekuatan fisik untuk memenuhi
kehidupan dunia dan tidak mengabaikan kepentingan spiritual yang menjadi modal
bagi kehidupan akhirat nanti.
Dalam memperjuangkan mendapatkan ilmu pengetahuan yang tinggi, meraih
kekayaan materi, mendapatkan kekuasaan dan jabatan, mengejar popularitas
pribadi dan semua aksesories duniawi, semata-mata menggunakannya untuk
kepentingan kesuksesan hidup selanjutnya. Inilah prinsip "Ihsan" dalam
berkarya, berbisnis, bekerja, belajar maupun dalam kehidupan yakni dilandasi
hanya untuk kepentingan mengabdikan diri kita kepada Allah Tuhan Yang memiliki
Kehidupan
Kalau prinsip seperti ini dapat dipahami dan dijadikan sebagai landasan
kehidupannya, maka hatinya akan senantiasai menuju "taqarrub" kepada
sifat-sifat mulia Allah yang sudah "built in" dalam dirinya. Hati nuraninya
akan dapat menjadi pembimbing dalam setiap langkah kehidupannya.
Pertanyaannya adalah, Bagaimana kita dapat menyelaraskan antara "inner
success" dengan "outer success" sehingga dapat saling bersinergi memberikan
keberhasilan dalam hidup kita? Bagaimana kita dapat menyeimbangkan antara
kecerdasan otak, kecerdasan emosi dan mempertahankan integritas hati nurani
dalam kehidupan modern yang penuh dengan tantangan ini?
--------------------------------------------------------------------------
Sumber: http:/www.ekojalusantoso.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
MUDAH MUDAHAN BERMANFAAT DAN DAPAT MENERANGI KEGELAPAN ATAU MEMPERINDAH
TERANGNYA CAHAYA HIDUP. AMIEN YA RABBAL ALAMIN.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---