MENGATASI SYAHWAT DENGAN SYAHWAT
  

  Bagaimanakah cara mengatasi dorongan syahwat yang menggebu? Dalam sejarah 
kemanusiaan kita melihat banyak orang mengatasinya dengan banyak cara pula.
  

  Ada yang berusaha mematikan syahwatnya dengan cara tidak kawin, dan lantas 
menyibukkan dirinya dengan ritual-ritual peribadatan yang keras, supaya ia bisa 
melupakan dorongan syahwat itu.
  

  Sebaliknya, ada yang justru mengumbar syahwat dengan kawin banyak -poligami 
ataupun poliandri- secara legal. Atau dalam bentuk selingkuh dan berzina secara 
sembunyi-sembunyi.
  

  Pada dasarnya syahwat atau libido adalah butuh penyaluran. Jika tidak, maka 
ia akan mengganggu secara fisik maupun psikis. Namun, disalurkan pun jika tidak 
benar, juga bakal menimbulkan masalah. Bahkan bisa lebih besar!
  

  Dalam bahasa laki-laki, syahwat adalah salah satu dari 3-Ta - Harta, Tahta, 
Wanita. Semuanya memang adalah godaan, sekaligus ujian. Harta adalah cobaan dan 
ujian. Tahta alias kekuasaan juga cobaan dan ujian. Demikian pula wanita juga 
cobaan dan ujian.
  

  Sebenarnya inti permasalahannya itu bukan pada harta, tahta atau wanita, 
melainkan pada syahwat terhadap harta, syahwat terhadap tahta dan syahwat 
terhadap wanita.
  

  Jika syahwat terhadap harta tidak disalurkan dengan benar pun, akan muncul 
masalah. Seseorang bisa menjadi jahat karenanya. Mencuri, merampok, korupsi dan 
semacamnya adalah bentuk syahwat terhadap harta.
  

  Jika kita mengumbar syahwat terhadap harta, maka kita akan diperbudak 
olehnya. Semakin lama semakin menggiurkan, sekaligus membutakan mata hati kita. 
Tujuan hidup kita, tiba-tiba membelok kepada mengumpulkan harta 
sebanyak-banyaknya.
  

  Padahal, tadinya hanya sekadar untuk mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga. 
Akan tetapi, setelah semua itu terpenuhi, tiba-tiba saja kita ingin 
mengumpulkan lebih banyak, dan lebih banyak lagi. Ingin menikmati lebih besar, 
dan lebih besar lagi. Ingin bersenang-senang sepuas-puasnya.
  

  Sampai pada titik ini, kita mulai dihinggapi keserakahan syahwat kita 
terhadap harta. Kita boleh saja mengatakan, bahwa mengumpulkan harta itu 
sah-sah saja. Bahkan baik, karena kita bisa beramal lebih banyak dari biasanya.
  Akan tetapi, ternyata itu hanya omongan mulut kita saja. Alasan sesungguhnya 
ada di dasar hati yang paling dalam, yaitu: ingin memuaskan syahwat kita 
terhadap harta. Semakin banyak semakin nikmat rasanya. Kalau ini yang terjadi, 
maka kita sudah berada di bibir ‘jurang masalah’. Tinggal menunggu jatuh saja.
  

  Tidak ada bedanya dengan Tahta alias kekuasaan. Ini juga berpotensi 
menggiring seseorang kepada syahwat yang tidak terkendali. Penguasa-penguasa 
negara super power misalnya, adalah orang-orang yang mengumbar syahwat 
kekuasaan.
  

  Semula kekuasaan itu digunakan untuk melindungi masyarakat. Akan tetapi, pada 
orang-orang yang mengumbar syahwatnya, kekuasaan itu menjadi alat pemuas 
keserakahannya. Tidak cukup hanya memerintah negerinya sendiri, mereka lantas 
menjajah negara lain tanpa perasaan bersalah. Ada yang dengan cara brutal, 
ataupun dengan cara-cara yang dilegalkan.
  

  Inti persoalannya bukanlah legal atau tidak legal, melainkan niat yang 
tersembunyi di dalam hatinya. Mencari harta dengan berbisnis itu legal. Tetapi 
kalau dia melakukannya dengan semata-mata demi memuaskan syahwatnya terhadap 
harta, maka itu menjadi serakah namanya. Dan bakal menuai masalah.
  

  Demikian pula kekuasaan. Menjadi pemerintah, anggota DPR, MPR, ataupun PBB 
adalah legal dan halal. Akan tetapi jika cara itu digunakan untuk memuaskan 
syahwat kekuasaan, maka hasilnya pun adalah masalah.
  

  Maka, ketika berbicara tentang syahwat seks masalahnya tidak jauh berbeda 
dengan harta dan kekuasaan. Kuncinya bukan pada legal atau tidaknya. Melainkan 
pada niat yang ada di dalamnya.
  

  Beristri itu adalah cara legal dan halal untuk menyalurkan hasrat seksual 
kita. Akan tetapi, hati-hati menjadi serakah. Sebagaimana harta dan kekuasaan, 
syahwat seks ini berpotensi menjebak kita untuk berasyik-masyuk di dalamnya, 
berburu kenikmatan, sehingga menjadi lupa diri.
  Kuncinya, adalah pada niat yang ada di balik perbuatan itu. Jika beristri 
diniatkan untuk membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah serta untuk 
menyalurkan libido secara benar dan tidak berlebihan, seperti kita bahas di 
depan, maka ini menjadi benar dan baik-baik saja.
  

  Akan tetapi jika kemudian kita berburu kenikmatan untuk memuaskan syahwat 
sesksual kita dengan cara mengumpulkan istri sebanyak-banyaknya, maka kita 
lantas menjadi serakah.
  

  Ini tidak ada bedanya dengan harta dan kekuasaan yang kita kumpulkan 
sebanyak-banyaknya itu. Niatan kita sudah berbelok. Menjadi berburu kepuasan 
syahwat.
  

  Yang namanya kepuasan tidak akan pernah kita dapatkan. Yang bakal muncul 
adalah mencari kepuasan yang lebih tinggi lagi. Kalau niatnya poligami adalah 
untuk memuaskan syahwat, maka dijamin itu hanya akan terjadi beberapa saat 
saja. Tak lama kemudian, pasti akan terbayang-bayang: bagaimana ya nikmatnya 
punya istri lebih banyak lagi ?
  

  Ini tak ada bedanya dengan sudah punya mobil, lantas pingin punya mobil lebih 
banyak lagi. Sudah menjadi gubernur pingin jadi presiden, dan penguasa dunia. 
Syahwat manusia tak pernah ada habisnya. Tak akan pernah terpuaskan.
  

  Karena itu adalah keliru kalau kita mencoba mengatasi desakan syahwat kita 
dengan cara mengumbar syahwat agar tercapai kepuasan yang kita inginkan. Dan 
karenanya pula, tidak akan pernah anda temui di dalam Al-Qur’an ayat yang 
membolehkan poligami karena alasan syahwat..!
  


       
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally,  mobile search that gives answers, not web links. 

Kirim email ke