jika hati terlalu condong untuk menolak suatu hal maka dorngan unutk menerima
semakin besar pula. jadi biasal sajalah....santai...
sahwat, apapun bentuknya adalah karunia.
dahlia putri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
MENGATASI SYAHWAT DENGAN SYAHWAT
Bagaimanakah cara mengatasi dorongan syahwat yang menggebu? Dalam sejarah
kemanusiaan kita melihat banyak orang mengatasinya dengan banyak cara pula.
Ada yang berusaha mematikan syahwatnya dengan cara tidak kawin, dan lantas
menyibukkan dirinya dengan ritual-ritual peribadatan yang keras, supaya ia bisa
melupakan dorongan syahwat itu.
Sebaliknya, ada yang justru mengumbar syahwat dengan kawin banyak -poligami
ataupun poliandri- secara legal. Atau dalam bentuk selingkuh dan berzina secara
sembunyi-sembunyi.
Pada dasarnya syahwat atau libido adalah butuh penyaluran. Jika tidak, maka
ia akan mengganggu secara fisik maupun psikis. Namun, disalurkan pun jika tidak
benar, juga bakal menimbulkan masalah. Bahkan bisa lebih besar!
Dalam bahasa laki-laki, syahwat adalah salah satu dari 3-Ta - Harta, Tahta,
Wanita. Semuanya memang adalah godaan, sekaligus ujian. Harta adalah cobaan dan
ujian. Tahta alias kekuasaan juga cobaan dan ujian. Demikian pula wanita juga
cobaan dan ujian.
Sebenarnya inti permasalahannya itu bukan pada harta, tahta atau wanita,
melainkan pada syahwat terhadap harta, syahwat terhadap tahta dan syahwat
terhadap wanita.
Jika syahwat terhadap harta tidak disalurkan dengan benar pun, akan muncul
masalah. Seseorang bisa menjadi jahat karenanya. Mencuri, merampok, korupsi dan
semacamnya adalah bentuk syahwat terhadap harta.
Jika kita mengumbar syahwat terhadap harta, maka kita akan diperbudak
olehnya. Semakin lama semakin menggiurkan, sekaligus membutakan mata hati kita.
Tujuan hidup kita, tiba-tiba membelok kepada mengumpulkan harta
sebanyak-banyaknya.
Padahal, tadinya hanya sekadar untuk mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga.
Akan tetapi, setelah semua itu terpenuhi, tiba-tiba saja kita ingin
mengumpulkan lebih banyak, dan lebih banyak lagi. Ingin menikmati lebih besar,
dan lebih besar lagi. Ingin bersenang-senang sepuas-puasnya.
Sampai pada titik ini, kita mulai dihinggapi keserakahan syahwat kita
terhadap harta. Kita boleh saja mengatakan, bahwa mengumpulkan harta itu
sah-sah saja. Bahkan baik, karena kita bisa beramal lebih banyak dari biasanya.
Akan tetapi, ternyata itu hanya omongan mulut kita saja. Alasan sesungguhnya
ada di dasar hati yang paling dalam, yaitu: ingin memuaskan syahwat kita
terhadap harta. Semakin banyak semakin nikmat rasanya. Kalau ini yang terjadi,
maka kita sudah berada di bibir jurang masalah. Tinggal menunggu jatuh saja.
Tidak ada bedanya dengan Tahta alias kekuasaan. Ini juga berpotensi
menggiring seseorang kepada syahwat yang tidak terkendali. Penguasa-penguasa
negara super power misalnya, adalah orang-orang yang mengumbar syahwat
kekuasaan.
Semula kekuasaan itu digunakan untuk melindungi masyarakat. Akan tetapi, pada
orang-orang yang mengumbar syahwatnya, kekuasaan itu menjadi alat pemuas
keserakahannya. Tidak cukup hanya memerintah negerinya sendiri, mereka lantas
menjajah negara lain tanpa perasaan bersalah. Ada yang dengan cara brutal,
ataupun dengan cara-cara yang dilegalkan.
Inti persoalannya bukanlah legal atau tidak legal, melainkan niat yang
tersembunyi di dalam hatinya. Mencari harta dengan berbisnis itu legal. Tetapi
kalau dia melakukannya dengan semata-mata demi memuaskan syahwatnya terhadap
harta, maka itu menjadi serakah namanya. Dan bakal menuai masalah.
Demikian pula kekuasaan. Menjadi pemerintah, anggota DPR, MPR, ataupun PBB
adalah legal dan halal. Akan tetapi jika cara itu digunakan untuk memuaskan
syahwat kekuasaan, maka hasilnya pun adalah masalah.
Maka, ketika berbicara tentang syahwat seks masalahnya tidak jauh berbeda
dengan harta dan kekuasaan. Kuncinya bukan pada legal atau tidaknya. Melainkan
pada niat yang ada di dalamnya.
Beristri itu adalah cara legal dan halal untuk menyalurkan hasrat seksual
kita. Akan tetapi, hati-hati menjadi serakah. Sebagaimana harta dan kekuasaan,
syahwat seks ini berpotensi menjebak kita untuk berasyik-masyuk di dalamnya,
berburu kenikmatan, sehingga menjadi lupa diri.
Kuncinya, adalah pada niat yang ada di balik perbuatan itu. Jika beristri
diniatkan untuk membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah serta untuk
menyalurkan libido secara benar dan tidak berlebihan, seperti kita bahas di
depan, maka ini menjadi benar dan baik-baik saja.
Akan tetapi jika kemudian kita berburu kenikmatan untuk memuaskan syahwat
sesksual kita dengan cara mengumpulkan istri sebanyak-banyaknya, maka kita
lantas menjadi serakah.
Ini tidak ada bedanya dengan harta dan kekuasaan yang kita kumpulkan
sebanyak-banyaknya itu. Niatan kita sudah berbelok. Menjadi berburu kepuasan
syahwat.
Yang namanya kepuasan tidak akan pernah kita dapatkan. Yang bakal muncul
adalah mencari kepuasan yang lebih tinggi lagi. Kalau niatnya poligami adalah
untuk memuaskan syahwat, maka dijamin itu hanya akan terjadi beberapa saat
saja. Tak lama kemudian, pasti akan terbayang-bayang: bagaimana ya nikmatnya
punya istri lebih banyak lagi ?
Ini tak ada bedanya dengan sudah punya mobil, lantas pingin punya mobil lebih
banyak lagi. Sudah menjadi gubernur pingin jadi presiden, dan penguasa dunia.
Syahwat manusia tak pernah ada habisnya. Tak akan pernah terpuaskan.
Karena itu adalah keliru kalau kita mencoba mengatasi desakan syahwat kita
dengan cara mengumbar syahwat agar tercapai kepuasan yang kita inginkan. Dan
karenanya pula, tidak akan pernah anda temui di dalam Al-Quran ayat yang
membolehkan poligami karena alasan syahwat..!
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links.
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!