Jangan Marah Jangan Marah Jangan Marah
Ditulis Oleh Wahfiudin
Selasa, 30 Oktober 2007
Manusia tidak boleh menyalahkan takdir sebagai alasan untuk tidak beribadah
dan berusaha. Seorang tidak boleh berkata, Jika aku telah ditakdirkan baik dan
beriman, mengapa aku harus bersusah payah beribadah dan beramal saleh? Bukankah
sudah pasti aku akan masuk Surga?
Seorang juga tidak sepantasnya berkata, Jika aku telah ditakdirkan menjadi
kafir, apakah manfaatnya jika aku berusaha menjadi mukmin? Bukankah yang
kulakukan akan sia-sia, karena takdir telah menetapkan bahwa aku akan masuk
neraka?
Kata-kata seperti itu jelas keliru dan tidak boleh diucapkan. Tidak
sewajarnya kita mengatakan,Jika nasibku telah ditentukan dan ditetapkan sejak
lahir, apa untung dan ruginya bila aku bekerja keras dan beribadah sekarang
ini?
Contoh yang paling baik untuk kita renungkan adalah cerita Nabi Adam as.
dengan Iblis lanatullah. Iblis menyalahkan takdir yang menyebabkannya durhaka
kepada Allah. Kemudian ia menjadi kafir dan dikeluarkan dari rahmat Allah dan
diusir dari sisi-Nya. Nabi Adam as pun mengakui kesalahannya. Beliau menganggap
kesalahan itu adalah tanggung jawabnya sendiri. Kemudian ia memohon ampun
kepada Allah swt. Maka beliau mendapat rahmat dan ampunan Allah swt.
Jangan kita mengorek qadha dan qadar Allah. Nabi Uzayr pernah mempersoalkan
asal usul kejadian makhluk, kemudian mematikannya dan menghidupkannya kembali.
Maka Allah swt kemudian mematikannya selama seratus tahun. Kemudian Dia
menghidupkannya kembali seperti sebelum hidup di dunia dan sekali lagi
mematikannya. Semua dilakukan agar menjadi itibar bagi manusia.
Apabila di dunia ini kita menemukan orang-orang yang berbuat dosa, seperti
mencaci Allah, munafik, menyekutukan Allah, mempermainkan hukum-hukum Allah,
merendahkan kalam Allah, dan sebagainya yang secara zahir jahat dan keji,
janganlah semua itu membuat iman kita goyah atau lemah. Itu adalah semua ujian
dari Allah untuk kesabaran kita dan pelajaran dari Allah tentang orang-orang
yang disesatkan Allah. Sebaiknya kita mendoakan semoga Allah memberi taufiq dan
hidayah kepada orang tersebut. Insya Allah kita akan terhindar dari sifat dan
perbuat tercela seperti yang dilakukan orang tersebut, karena Rasululllah saw
pernah bersabda :
Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim dari kejauhan tanpa
diketahui olehnya akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang telah
diutus, dan setiap kali ia berdoa untuk kebaikan, maka malaikat yang diutus
tersebut akan mengucapkan amin dan kamu juga akan mendapat seperti itu. (HR
Muslim).
Ketahuilah bahwa semua kebaikan yang kita perbuat bukan berasal dari kita
sendiri, tetapi sebenarnya hanya melalui diri kita. Tegasnya, tanpa taqdir
Tuhan tidak ada yang dapat kita perbuat. Jadi, takdir atas pekerjaan dan
kejayaan kita datangnya dari Allah. Apabilah kita bersalah, kesalahan itu
adalah hak atau milik kita agar kita mengenal arti bertaubat. Kesalahan itu
datang dari angan-angan dan niat yang wajar dari ego kita. Jika kita memahami
hal ini dan mengikuti petunjuk-Nya, kita termasuk dalam golongan manusia yang
di Firmankan Allah :
Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiayai
diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya,
dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa itu selain Allah? Dan mereka tidak
melanjutkan perbuatan keji itu. Sedangkan mereka mengetahui. (Ali Imran :
135).
Dalam Kitab Al-Hikam karangan Syeikh Ibn Athoillah tertulis : Keinginanmu
untuk lepas dari urusan duniawi, padahal Allah membekalimu dengan sarana
penghidupan, adalah syahwat yang samar. Sedangkan keinginanmu untuk mendapatkan
sarana penghidupan, padahal Allah telah melepaskanmu dari urusan duniawi,
adalah suatu kemunduran dari cita-cita luhur.
Disini kita diajarkan agar ridha atas peran yang telah Allah takdirkan kepada
kita. Orang yang ditakdirkan Allah menjadi karyawan jadilah karyawan yang baik,
yang menjadi petani jadilah petani yang baik, yang menjadi aparatur negara
jadilah aparatur negara yang bertanggung jawab dan adil, yang menjadi pengusaha
jadilah pengusaha yang jujur dan dapat menafkahkan hartanya di jalan Allah,
yang jadi ulama jadilah ulama yang dapat menyinari dan menuntun umat dari
kegelapan kepada jalan yang terang.
Jika kita tidak ridha dan berpanjang angan-angan terhadap peran lain dari
yang telah Allah tetapkan berarti kita telah memperturutkan syahwat yang samar.
Yang harus dilakukan adalah bersungguh-sungguh memfokuskan niat, perhatian dan
perjuangan pada Allah, yang ada di balik semua wujud dan kejadian. Sehingga
apapun yang kita lakukan menjadi lahan ibadah kepada Allah dan segala potensi
yang ada kita sujudkan untuk menyembah Allah.
Syeikh Ibn Athailah dalam Al Hikam mengatakan Salah satu tanda bergantung
pada amal adalah berkurangnya harapan tatkala gagal. Jika kita berasumsi bahwa
sumber kekuatan di balik usaha-usaha kita adalah diri kita sendiri, kita akan
kecewa kala hasilnya tak sesuai dengan harapan-harapan kita. Tetapi, kalau kita
benar-benar berserah diri kepada Allah, maka kita akan melihatnya satu asal dan
penyebab dibalik usaha, peranan pribadi kita dalam melaksanakannya dan juga
hasilnya.
Kegagalan kemudian hanya akan kita anggap sebagai peringatan untuk memperkuat
kesadaran pada kehendak, rahmat, dan kemurahan Allah. Di mata orang yang
tercerahkan, terdapat kesatuan total dalam usaha dan hasil. Kalau kita sudah
mempunyai keyakinan seperti tersebut, insya Allah kita tak akan sombong dan
angkuh jika berhasil dalam kehidupan dunia dan berputus asa jika gagal dalam
kehidupan ini.
Syeikh Ibn Athailah lebih lanjut mengatakan : Ketika Allah membukakan pintu
pengertian bagimu tentang penolakan-Nya, maka penolakan itu pun berubah menjadi
pemberian. Maksudnya, kita menyaksikan ke-Mahakuasaan-Nya ketika diberi nikmat
dan melihat Keindahan dan Kelembutan-Nya ketika diberi nikmat. Yang penting
adalah penyaksian, bukan keadaannya. Yang diinginkan oleh orang yang
mendapatkan nur ilahi bukan keduanya, karena fokus perhatiannya adalah pada
Sumber seluruh wujud, Pencipta seluruh makhluk, yang Kemurahan-Nya melampaui
apa yang tampak sebagai kesempitan atau kelapangan, karena Kemurahannya ada
dalam setiap waktu dan keadaan.
Ketika Allah memberimu, Dia memperlihatkan kepadamu belas kasih-Nya. Ketika
Dia menolak memberimu, maka Dia memperlihatkan kepadamu kekuasaan-Nya. Dan
dalam semua itu, Dia memperkenalkan diri kepadamu dan menghadapmu dengan
kelembutan-Nya.
Janganlah kita membanggakan zikir, sholat, shodaqoh, zakat, haji dan amaliah
lainnya, karena itu semua adalah pertolongan Allah, bersyukurlah kepada-Nya
karena banyak yang mempunyai kemampun fisikal, harta dan waktu tidak diberikan
pertolongan oleh Allah untuk melakukan perbuatan baik tersebut.
Janganlan bangga jika dipuji orang, karena sesungguhnya Kasih Allah telah
menutupi aib kita sehingga orang hanya melihat kebaikan kita tanpa melihat aib
kita.
Janganlah marah ketika dihina orang, karena itu adalah pertolongan Allah agar
kita memperbaiki kesalahan kita atau memperbaiki kekurangan amaliah kita dan
agar kita menjadi orang yang lebih sabar.
Sebagai pribadi janganlah kita mencemooh dan menganiaya orang yang berbuat
dosa, melainkan serahkan kepada hukum yang berlaku untuk tegaknya ketertiban
dalam masyarakat.
Berilah nasihat dengan bijaksana kepada orang-orang yang tingkatannya dibawah
kita. Janganlah memberi nasihat dengan ilmu, tetapi lakukanlah dengan kasih
sayang, agar hatinya tidak liar. Kepada orang yang sebaya atau setingkat
sampaikan kebenaran dari Allah dengan ilmu yang tidak menggurui. Kepada orang
yang lebih tinggi dari kita sampaikan kebenaran dari Allah dengan tetap
memelihara kerhormatannya.
Ada baiknya kita ambil pelajaran dari dialog Nabi Adam dengan Nabi Musa,
dalam hadist Rasulullah SAW:
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda, Adam dan
Musa alaihima salam tengah berdebat di sisi Allah. Namun akhirnya Adam dapat
mengalahkan Musa alaihi salam.
Musa berkata,Kamulah Adam yang telah diciptakan Allah dengan kekuasaan-Nya.
Kemudian Allah menghembuskan ruh-Nya ke dalam dirimu. Setelah itu, Allah
memerintahkan semua malaikat-Nya untuk bersujud kepadamu dan Dia menempatkanmu
di dalam surga-Nya, tetapi kemudian kamu membuat manusia turun ke bumi karena
kesalahanmu.
Adam menjawab,Kamulah Musa yang telah dipilih Allah dengan risalah dan
firman-Nya. Allah juga telah memberimu beberapa lembaran yang berisi penjelasan
tentang segala sesuatu dan mendekatkanmu untuk menerima firman-Nya. Berapa
tahunkah Allah telah menulis kitab Taurat sebelum aku diciptakan? Musa
Mejawab,Empat puluh tahun,
Adam bertanya lagi,Apakah kamu dapatkan, di dalam kitab taurat, ayat yang
berbunyi:......dan durhakalah Adam kepada Tuhannya serta sesatlah ia.(Qs.
Thaahaa (20): 121)
Musa menjawab, Ya,
Adam bertanya lagi,Mengapa kamu mencelaku karena suatu perbuatan yang telah
ditetapkan Allah azza wa Jalla empat puluh tahun sebelum Allah menciptakanku?
Rasulullah SAW bersabda,Akhirnya Adam dapat memberikan jawaban kepada
Musa, (HR. Muslim)
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari dialog Nabi Adam dan Nabi Musa
tersebut, agar kita tidak mencela orang yang berbuat dosa. Kita harus bersikap
egaliter terhadap semua hamba Allah.
Di dalam hati nurani orang yang menapaki tarekat, Mahabbah dan Marifat tidak
sepantasnya memiliki kebencian dan kesombongan di dalam hatinya, karena
kesombongan hanya pantas dimiliki oleh Allah.
Karena kesombonganlah Iblis dilaknat Allah...
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com