Source: www.radix.co.id / www.wahfiudin.net
Umur Kita Buat Apa?
Ditulis Oleh Wahfiudin Rabu, 07 November 2007
Di sebuah siang, selesai shalat dzuhur penulis buka-buka Al-Quran.
Tiba-tiba mata penulis tertuju pada sebuah ayat dalam surat Al-Anbiya (21).
Ayat pertama dalam surat itu sangat menarik perhatian penulis. Berulang-ulang
ayat itu penulis baca.
"Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang
mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)." (QS Al Anbiya :
1)
Bahwa semakin dekat kepada manusia, saat-saat perhitungan untuk mereka, tapi
karena bodohnya, karena lalainya, mereka lalu mengabaikan semua itu. Hal ini
mengandung makna perjalanan waktu terus berputar. Waktu makin dekat dan akan
datang saatnya kita menghadapi perhitungan-perhitungan atas segala perbuatan di
dunia, namun kita sering lalai. Karena bodohnya kita atau karena sibuknya
kita.
Manusia adalah mahluk serba bisa, bisa bertindak apa saja. Manusia bisa
menggali gunung yang di dalamnya banyak tanah, pasir dan bebatuan, tidak hanya
yang kecil bahkan yang besar-besar. Manusia mampu menyelam ke dalam lautan yang
sangat dalam sekalipun. Manusia mampu menjelajah ruang angkasa. Manusia mampu
menciptakan kabel yang sangat tipis namun bisa dilalui oleh informasi yang
sangat banyak, dengan fiber optik manusia bisa membuat jaringan komunikasi,
mendekatkan jarak yang saling berjauhan di dunia, dengan teknologi internet.
Nah, segala macam kehebatan sains dan teknologi itu memperkokoh keyakinan
pada diri kita bahwa manusia dapat melakukan segala-galanya. Kemudian muncul
sebuah pertanyaan dalam benak penulis, kalau memang manusia bisa mengatasi
semua masalahnya, suatu saat nanti, maka keyakinan akan keberadaan Tuhan bisa
saja semakin hari semakin tipis. Kemudian manusia semakin punya harapan bahwa
kehidupan itu bisa lebih dinikmati dengan semakin panjang karena segala-galanya
bisa diciptakan. Kesan-kesan seperti itu muncul manakala kita menyadari
keberadaan yang kolektif bersama manusia lain. Ketika kita sadar, kita hidup
bersama manusia lain. Saling memberi, saling memberikan manfaat, saling
memberikan sumbangan-sumbangan, maka seakan-akan muncul kekuatan itu,
kepercayaan diri.
Tetapi seringkali kita lupa bahwa kita juga makhluk individual yang Allah
mematikan manusia dengan konsep-konsep yang tidak kolektif. Setiap manusia
menghadap Allah secara individu. Hubungan manusia dengan Allah bersifat
individual yang tercermin pada Surat Al Baqarah ayat 286 :
Lahaa Maa Kasabat Wa alayhaa mak tasabat
artinya
seseorang mendapat
pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
kejahatan) yang dikerjakannya
Termasuk di dalamnya peristiwa kematian. Ia bersifat individual dan tidak
bisa dicegah secara kolektif. Biasanya apabila manusia menghadapi kematiannya,
ia akan sangat egois. Perhatikan kisah-kisah kapal laut yang karam, pada
beberapa peristiwa kecelakaan kapal laut, para penumpangnya lebih menyelamatkan
dirinya sendiri, meski di sampingnya ada anggota keluarga terdekat. Seorang
ayah, secara sadar atau tidak, melepas anaknya. Suami istri saling melepas
pasangannya ketika diamuk gelombang dan disaat mulai tenggelam.
Perhatikan juga Al Quran Surat Abasa [80] ayat 33-37:
Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua) (33)
pada hari ketika manusia lari dari saudara-saudaranya (34) dari ibu dan
bapaknya (35) dari istri dan anak-anaknya (36) Setiap orang dari mereka pada
hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya (37)
Dengan kemajuan teknologi, manusia akhirnya berasumsi kiamat rasanya masih
panjang, karena segala macam problem-problem alam, bencana-bencana alam, masih
bisa diatasi oleh manusia secara kolektif. Tetapi lain halnya dengan kematian.
Ia tidak bisa dihindari secara kolektif maupun individual. Ia kapan saja bisa
datang, sehingga wajar orang bilang kematian adalah kiamat kecil.
Jika kita renungkan, semakin hari kiamat kecil semakin dekat dengan kita.
Usia kita, meski secara urut baris selalu bertambah, tetapi ternyata semakin
mendekati azal, sementara kita tidak sadar apa yang sudah kita perbuat dalam
hidup ini.
Allah Swt berfirman dalam surat Al Hasyr [59]:18
Artinya: Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)
Lagi-lagi itu tadi; Iqtaraba linnas artinya telah semakin dekat bagi
manusia saat-saat evaluasi untuk dirinya, saat-saat perhitungan untuk dirinya.
Namun kebanyakan manusia terlena dalam kelalaiannya sehingga mengingkari
keberadaan mati dan kiamat itu. Secara kolektif mungkin masih berpikiran kiamat
masih panjang tetapi secara individual tidak lama lagi kita akan mati.
Apabila pada setiap pertambahan tahun terjadi pengurangan jatah kehidupan.
Sedangkan Allah membatasi usia hingga umur 40 tahun, sekarang 39 tahun, maka
sisa satu tahun lagi. Betapa singkat waktu tersisa bagi kita. Rugilah kita
apabila hidup tidak diisi dengan iman dan amal shaleh.
Berbicara masalah waktu ada beberapa hal yang berhubungan dengan waktu,
antara lain :
Waktu adalah sesuatu yang unrenewable, sesuatu yang tidak bisa diperbaharui,
Waktu adalah sesuatu yang unsubstituted, sesuatu yang tidak bisa diganti,
Waktu adalah sesuatu yang unrecycled, sesuatu yang tidak bisa diulang.
Untuk memahaminya kita ambil permisalan salah satu sumber daya alam kita,
minyak bumi. Minyak merupakan sumber daya alam yang terpendam didalam bumi.
Fosil-fosil yang ratusan ribu mungkin jutaan tahun terpendam di dalam bumi
mendapat tekanan dan temperatur tinggi berubah menjadi minyak. Tetapi ketika
minyak sudah disedot keluar dan dibakar, orang tidak bisa memperbaharui, tidak
bisa menanam bibit minyak lagi, dia sumber daya alam yang unrenewable, yang
tidak bisa diperbaharui. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan, contoh pohon padi,
setelah selesai dipanen, kita bisa cari bibitnya, benihnya. Lalu kita tanami
kembali. Pohon padi adalah sesuatu yang newable, bisa diperbaharui. Sedangkan
waktu tidak bisa diperbaharui kembali.
Tetapi walaupun minyak habis dan tidak bisa diperbaharui, dia masih bisa
tersubstitusi artinya ada alternatif pengganti. Jika minyak habis masih ada
energi batu bara, energi panas bumi, energi nuklir. Sedangkan yang namanya
waktu bukan saja tidak ada alternatifnya, tetapi juga tidak ada pengganti
(unsubstitusi). Jadi jika waktu telah habis/berlalu maka tidak ada apa-apa lagi.
Jika waktu bisa diulang (recycled) mungkin kita ingin jadi kanak-kanak lagi.
Karena masa kanak-kanak itu masa-masa indah, masa-masa tanpa problema.
Terkadang waktu membuat manusia lupa diri bahwa dia sesungguhnya memiliki
kelemahan. Kira-kira melalui cara apa kita bisa introspeksi terhadap diri
kita, karena selama ini kadang kita tidak merasa kalau kita telah berbuat suatu
kedzaliman atau kesalahan kepada pihak lain, mungkin ada langkah-langkah
tertentu agar kita juga mengingat kembali kalau kita salah ?
Masalahnya adalah apakah kita bisa melihat diri kita jika kita masih ada di
dalam diri sendiri? Mari kita ambil sebuah ilustrasi. Mengapa dalam sebuah
pertandingan sepakbola, di dalam stadion, penonton yang berada di tribun atas
lebih pintar dari pemain yang ada di lapangan? Karena penonton yang ada di
tribun atas berjarak dengan permainan, maka penonton bisa melihat seluruh
permainan. Jarak pandang pemain hanyalah apa yang ada di depannya, sedangkan
pendangan penonton di tribun atas lebih luas. Mereka bisa melihat kekosongan,
kekurangan, kelebihan atau kesalahan pemain. Begitu juga dalam hidup, apakah
kita bisa melakukan evaluasi jika kita masih terlibat dalam aktifitas kehidupan?
Kita cenderung baru bisa menghargai isteri kalau sedang jauh darinya. Jika
isteri tak ada terpaksa harus masak sendiri, mencuci sendiri, dan lain-lain.
Para istri juga baru bisa menghargai suami jika sedang jauh dari suami. Jika
suami pergi keluar kota, turun hujan lalu atap rumah bocor, banyak air
tergenang di dalam rumah, lalu mulai berangan-angan jika saja suamiku ada
, ah
kan, lumayan bisa memperbaiki atap yang bocor.
Jadi agar kita bisa mengevaluasi diri, lepaskan ego. Keluar dari kehidupan
diri, keluar dari rutinitas. Untuk bisa melakukan observasi kita harus membuat
jarak.
Source: www.radix.co.id / www.wahfiudin.net
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com