PARTIKEL UNIVERSAL
  

  Di bagian terakhir bab ini saya ingin mengajak pembaca untuk memahami asal 
usul makhluk hidup dari sudut pandang yang lebih universal. Allah mencontohkan 
banyak hal dalam ciptaanNya bahwa sesuatu yang ada ini adalah bagian dari 
keberadaan yang lebih besar.
  

  Memahami keberadaan manusia dari sudut pandang ini ternyata bisa mengantarkan 
kita kepada pemahaman yang holistik tentang nenek moyang kita sendiri. Ini 
memang teori yang dikembangkan bukan berdasar penelitian khusus, melainkan 
sekadar memahami ayat-ayat Allah secara universal. Qauliyah & Kauniyah.
  

  Saya menyebutnya sebagai ‘Teori Benih’. Bahwa alam semesta ini mulai dari 
alam besar yang kita kenal sebagai makrokosmos, sampai alam kecil alias 
mikrokosmos, berfungsi dan bertingkah laku seperti benih.
  

  Apakah sifat benih yang paling menonjol? Setiap benih ternyata sudah memiliki 
‘rencana’ di dalam dirinya. Sebutir benih tinggal menerima perlakuan tertentu 
saja, maka ia akan berkembang biak dengan sendirinya mengikuti tahap-tahapan 
yang sudah direncanakan.
  Ibarat sebutir benih pohon mangga misalnya. Benih itu cukup ditempatkan di 
tanah dan disirami dengan cukup, maka benih itu bakal tumbuh dengan sendirinya. 
Tahapan-tahapan tumbuhnya pun sudah diatur dari dalam sesuai kondisi yang 
menyertainya.
  

  Ia sudah tahu, kapan harus mengeluarkan akar. Kapan keluar batang. Kapan 
tumbuh daun. Kapan menghasilkan buah. Dan seterusnya. Di dalam dirinya sudah 
ada rencana, perintah, dan mekanisme untuk menumbuhkan benih menjadi pohon 
mangga yang berbuah.
  

  Pohon mangga itu tentu saja diciptakan oleh Allah. Dengan kalimat kun 
fayakun. Tetapi kita melihat pohon mangga itu tetap saja berproses secara 
alamiah mengikuti sunnatullah yang telah ditetapkan. Proses dan tahapannya 
telah dimasukkan Allah ke dalam benihnya.
  

  QS. Ar Ra'd (13): 4
  Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun 
anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak 
bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian 
tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada 
yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
  

  Begitulah kata Allah, meskipun disirami dengan air yang sama, dan tempat 
tumbuhnya pun berdampingan, ternyata rasa buah anggur, dan kurma tidaklah sama. 
Semua itu bukan dikarenakan tanah dan air yang berbeda, melainkan oleh 
benihnya. Perintah genetika yang berada di dalam inti benih itu.
  

  Hal ini, bukan hanya terjadi pada tumbuhan melainkan juga pada hewan. Ada 
yang benihnya dimasukkan ke dalam telurnya. Ada pula yang benihnya berupa 
sperma dan ovum di dalam organ reproduksi dalam. Tapi, semuanya memiliki benih 
itu.
  

  Kalau anda melihat sebutir telur ayam yang dalam proses menetas, mekanismenya 
kurang lebih sama. Telur ayam itu hanya butuh suhu tertentu untuk menetas dan 
‘melahirkan’ anak ayam. Ketika suhu itu diberikan secara kontinu dalam waktu 
tertentu, maka telur itu pun menetas. Meskipun, ia tidak dierami oleh induknya. 
Menggunakan mesin penetas. Asal syaratnya terpenuhi, maka benih itu pun tumbuh 
menjadi makhluk yang telah diprogramkan di dalam benih tersebut. Hal itu, juga 
terjadi pada kura-kura, penyu, dan buaya, yang mengeramkan telur-telurnya di 
hangatnya pasir pantai, misalnya.
  

  Pada makhluk yang tidak bertelur, mereka pun punya benih di dalam sperma dan 
ovumnya. Mereka membutuhkan keberadaan rahim untuk menggantikan cangkang telur. 
Tapi, sesungguhnya tidak ada perbedaan prinsip dari sudut pandang benih. Di 
dalam sperma dan ovum itu terdapat pesan-pesan genetika untuk melakukan proses 
pembiakan secara terencana.
  

  Saya ingin mengajak anda mencermati makhluk yang lebih besar yang bernama: 
manusia. Manusia juga tumbuh mengikuti perencanaan yang dibuat di dalam 
benihnya. Selama sembilan bulan ia berada di dalam rahim, benih tersebut 
membelah dan bertumbuh mengikuti perintah genetikanya. Ia sudah tahu kapan 
harus membelah dan dengan cara bagaimana. Kita tidak perlu mengajarinya. Ia 
juga sudah tahu kapan harus membentuk kepala, tangan, kaki dan organ-organ 
lainnya. Ia pun sudah tahu, tentang jenis kelamin janin, dan kapan mulai 
membentuknya. Bahkan ia sebenarnya juga sudah tahu kapan bayi itu harus lahir, 
dan bagaimana mekanismenya.
  

  Ya, benih manusia yang berada di dalam rahim itu sudah tahu semua apa yang 
harus diperbuatnya. Ia hanya membutuhkan suasana yang kondusif saja untuk 
mengamankan proses pertumbuhan yang sedang berlangsung. Jika sudah tiba 
waktunya, maka terlahirlah bayi manusia seperti program yang telah direncanakan 
di dalam genetika benih manusia.
  

  Begitu pula makhluk lebih besar, yang bernama planet Bumi. Ia sebenarnya 
tumbuh dari sebuah ‘benih’. Karena itu ia sudah tahu kapan ia harus melakukan 
sesuatu, dan bagaimana caranya agar Bumi ini mencapai tujuan yang telah 
direncanakan.
  

  Kalau kita melihat perkembangan Bumi sejak miliaran tahun yang lalu sampai 
kini, kita bakal tahu bahwa Bumi berkembang seperti benih-benih tumbuhan, 
binatang atau pun manusia. Ia adalah makhluk hidup yang telah menyimpan 
perintah sejak kelahirannya. Di dalam dirinya sendiri.
  

  Karena itu tidak heran, ia tumbuh dalam tahapan yang sangat terencana. 
Awalnya berupa gas panas, lantas mendingin dan membentuk daratan. Kemudian 
memunculkan zat-zat yang dibutuhkan untuk kehidupan selanjutnya. Sampai 
kemudian memunculkan kehidupan bersel tunggal, bersel lebih banyak, lebih 
banyak lagi, dan akhirnya spesies manusia yang memilki kualitas tertinggi di 
antara makhluk hidup lainnya.
  

  Ini persis seperti tanaman atau hewan yang berkembang dan bertumbuh. 
Benih-benih itu sudah tahu kapan harus memunculkan bagian-bagian tubuh dan 
tahapan kehidupan. Bumi pun demikian. Ia sudah tahu kapan harus memunculkan 
daratan, gunun-gunung, sungai-sungai, samudera, atmosfer, tumbuhan, hewan dan 
akhirnya manusia.
  

  Apakah semua itu berurutan secara evolusi? Tidak harus demikian. Contohnya, 
ketika seorang janin tumbuh di dalam rahim, pertumbuhan antara organ kepala, 
dada, kaki dan tangan, tidak harus berurutan. Apalagi, organ satu harus tumbuh 
dari organ lainnya. Tidak. Semuanya itu tumbuh secara mandiri tetapi 
terkoordinasi secara harmonis.
  

  Kepala tidak harus tumbuh dari badan. Tangan juga tidak harus tumbuh dari 
kepala atau dari kaki, dan seterusnya. Dalam waktu yang bersamaan sel-sel 
membelah dengan sudah memahami tugasnya. Bahwa bagian atas harus membentuk 
kepala. Sebelah bawah harus membentuk kaki. Dan, sebelah kanan-kirinya 
membentuk tangan. Semuanya dikendalikan oleh inti benih tersebut.
  

  Bumi pun demikian. Perintah sudah diberikan oleh Allah kepada Bumi, dan sudah 
terkandung di dalamnya sejak awal kejadian planet ini. Termasuk perintah untuk 
menghadirkan makhluk hidup di permukaannya.
  

  QS. Al Qamar (54): 49-50
  Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
  

  Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.
  

  Ayat diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa setiap kali Allah 
menciptakan sesuatu Dia memberikan kadar atau ukuran tertentu. Ukuran itu 
langsung dimasukkan ke dalam karakteristik makhluk itu. Bentuknya adalah 
perintah untuk berproses secara alamiah. Inilah yang di bagian depan saya sebut 
sebagai variabel informasi. Selalu ada di dalam setiap makhluk ciptaan Allah. 
Variabel informasi itu terdapat di mana saja di bagian alam semesta. Baik di 
alam makro maupun alam mikro. Baik benda mati, maupun benda hidup. Semuanya 
menyimpan ‘perintah’.
  

  Apalagi, kemudian kita ketahui bahwa ternyata tidak ada benda mati di alam 
semesta. Semuanya hidup dalam spesifikasi yang berbeda-beda. Kepada langit dan 
Bumi Allah telah menempatkan ‘perintahNya’ tersebut secara inheren alias 
menyatu dengan makhluk ciptaan itu. Maka, mereka pun lantas tahu harus 
melakukan apa dalam hidupnya. Dan dengan cara bagaimana. Mereka selalu taat 
menjalankan perintah, tanpa pernah membantah.
  

  QS. Ath Thalaaq (65): 12
  Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah 
Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas 
segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala 
sesuatu.
  

  QS. Fushshilat (41): 11
  Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia 
berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku 
dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka 
hati".
  

  Jadi, Bumi sudah memperoleh ‘perintah’ justru ketika ia belum diciptakan 
sebagai planet. Ketika itu langit masih berupa asap panas. Yaitu, saat kondisi 
awal tatasurya. Dengan kata lain, sebenarnya perintah itu sudah turun kepada 
tatasurya. Inheren di dalamnya, sebagai sebuah benih. Benih yang akan 
berkembang biak, dan kemudian menurunkan benih berikutnya berupa planet-planet. 
Termasuk Bumi.
  

  Dan bukan hanya tatasurya. Lebih tinggi lagi dari itu pun sebenarnya adalah 
benih yang ditabur oleh Allah di alam semesta ini. Dalam ayat sebelumnya, 
disebut sebagai langit yang bertingkat tujuh. Semua itu menyimpan perintah 
Allah dalam bentuk kode-kode dan hukum-hukum alam. Jadi, alam semesta ini pun 
sebenarnya adalah benih.
  

  Karena itu, kita lantas bisa memahami bahwa langit yang demikian luas itu 
sebenarnya berasal dari sebuah benih ‘cikal bakal’ yang berukuran sangat kecil 
di pusat alam semesta. Kosmologi menyebutnya sebagai sop kosmos. Ukurannya 
hanya sepersekian mikron. Dalam istilah Al Qur’an disebutkan sebagai 
‘perpaduan’ antara langit dan Bumi di zaman purba. Yang kemudian dipisahkan 
dengan cara meledakkan.
  

  QS. Al Anbiyaa' (21): 30
  Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi 
itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara 
keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah 
mereka tiada juga beriman?
  

  Dalam bukunya the Brief History of Time dan The Theory of Everything, Stephen 
Hawking mengajukan suatu gagasan menarik, bahwa seluruh alam semesta ini 
sebenarnya adalah kesatuan tunggal yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Seluruhnya 
terikat dalam hukum alam yang sama, yang kemudian bisa dirumuskan secara 
terpadu. Ia menyebutnya sebagai Grand Theory.
  

  Meskipun teori itu sebenarnya sudah diperkenalkan sebelumnya oleh Prof. Abdus 
Salam, seorang fisikawan Islam yang memperoleh hadiah Nobel. Ia mengusulkan 
sebuah teori unifikasi alias penyatuan segala komponen alam semesta. Terutama 
yang berkaitan dengan jenis-jenis energi. Ia nnenyebutkan, bahwa segala bentuk 
energi itu sebenarnya adalah penampakan dari sebuah energi tunggal saja. Kadang 
tampak sebagai energi mekanik, kadang menjadi energi kimiawi, kadang muncul 
sebagai energi elektromagnetik, energi nuklir, dan sebagainya.
  

  Ide dasarnya adalah, bahwa alam semesta ini sebenarnya berhubungan erat dan 
saling mempengaruhi satu sama lain. Bahkan, sebenarnya satu kesatuan. ‘Langit 
dan Bumi itu dulunya satu padu,’ begitu istilah Al Qur’an.
  

  Ketika cikal bakal alam semesta diledakkan oleh Allah, sebenarnya di dalam 
sop kosmos itu telah dimasukkan perintah-Nya. Dengan kata lain, sop kosmos itu 
sebenarnya adalah BENIH dari segala yang ada di jagad raya ini. Benih dari 
segala realitas yang kini terhampar di sekitar kita. Di langit maupun di Bumi.
  

  Benih alam semesta itu menghasilkan benih berikutnya yang lebih kecil, berupa 
superkluster. Lebih kecil lagi, berupa galaksi. Lebih kecil lagi, berupa tata 
surya. Lebih kecil berupa Bumi. Lebih
  kecil, berupa makhluk-makhluk yang diciptakan di Bumi. Sampai yang paling 
kecil, bertriliun-triliun sel hidup. Inti sel, molekul-molekul, atom-atom, 
partikel-partikel, sampai pada Quark, dan seterusnya, yang entah apa lagi 
namanya...
  

  Semua itu adalah benih...! Benih melahirkan benih, melahirkan benih, 
melahirkan benih ... !!
  

  Begitulah berkelanjutan tanpa ketahuan batasnya. Semua benih itu tumbuh 
mengikuti perintah yang sudah ada di dalamnya. Sudah ada sejak ia diciptakan. 
Sudah menyatu dalam dirinya. Bahkan sebelum dirinya ada. Semuanya sudah tahu 
dan taat kepada perintah itu... Dan terbentuklah alam semesta dengan segala 
isinya.
  

  Manusia adalah salah satu dari benih itu. Benih yang tumbuh dari benih yang 
lebih besar yang bernama Bumi. Ia tumbuh begitu saja dari permukaan Bumi, 
dimana-mana di seluruh penjuru Bumi. Di Afrika, di Asia, di Eropa, di Amerika, 
di Timur Tengah, di Australia. Di mana pun ia berada ketika Bumi itu memang 
harus ‘melahirkan’ manusia...
  

  Bumi sudah tahu, kapan ia harus menumbuhkan manusia dari dalam dirinya. Ia 
adalah benih yang sudah menyimpan program untuk menumbuhkan ras manusia ketika 
ia sudah menjalankan tugas menumbuhkan segala fasilitas untuk menyongsong 
hadirnya makhluk mulia.
  

  Ketika daratan sudah muncul. Ketika sungai, danau, dan lautan sudah 
mendeburkan ombak. Ketika berbagai jenis tanaman sudah bertumbuhan di seluruh 
penjuru Bumi. Ketika hewan-hewan di perairan, di daratan, dan di udara sudah 
berkeliaran dengan bebasnya. Ketika, Bumi sudah menjadi surga dunia. Saat 
itulah Bumi tahu, ia harus melahirkan benih baru di permukaan planet ini yang 
bernama manusia. Maka lahirlah al Basyar. Spesies tertinggi bernama manusia...
  

  QS. Al Hijr (15): 19
  Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan 
Kami tumbuhkan segala sesuatu menurut ukuran.
  

  QS. Al An'aam (6): 99
  Dan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air 
itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu 
tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir 
yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan 
kebun-kebun anggur, dan zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. 
Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan kematangannya. 
Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang 
beriman.
  

  QS. Luqman (31): 10
  Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan 
gunung-gunung (di) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan 
memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan 
air hujan dari langit, lalu Kami, tumbuhkan padanya segala macam 
tumbuh-tumbuhan yang baik.
  

  QS. Nuh (71): 17
  Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya,
  

  Maka muncullah benih baru di muka bumi. Benih itu bernama manusia. Dan benih 
itu lantas tumbuh dengan cara menumbuhkan benih lainnya lagi. Ia memiliki benih 
di dalam organ reproduksinya. Ia memiliki benih di seluruh sel-selnya yang 
berjumlah triliunan. Ia memiliki benih di semua bagian tubuhnya.
  

  Sehingga ketika benih-benih itu diambil dan dibiakkan secara kloning, ia akan 
menghasilkan manusia lagi dengan bertriliun-triliun benih di dalam dirinya. 
Sebutir benih bakal tumbuh dengan sendirinya ketika diberi suasana yang 
memungkinkan dia untuk tumbuh.
  

  Maka, alam semesta ini pun berisi bertriliun-triliun benih yang semuanya 
saling bekerjasama untuk membentuk tatanan seimbang. Yang tidak mengikuti 
keseimbangan itu bakal menuai masalah. Tak peduli ia makhluk makrokosmos, atau 
pun mikrokosmos. Tak peduli ia benda ‘mati’ atau pun makhluk hidup. Tak peduli 
ia segerombolan benih atau pun cuma sebiji benih dalam bentuk partikel 
universal, seperti proton, elektron & neutron. Semuanya adakah bagian dari 
tatanan seimbang alam semesta.
  

  QS. Al Mulk (67): 3-4
  Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak 
melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka 
lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
  

  Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu 
dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan 
letih.
  

  QS. Al Infithaar (82): 7
  Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan 
(susunan tubuh) mu seimbang.
  


       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke