Jalan yang Selamat adalah Jalan Kita!
Lefke, Cyprus, Tanggal 5 Maret 2008
Maulana Syaikh Muhammad Nazim Adil qs


Destur, ya Sayyidi, ya Sultanu-l Awliya. Madad, ya
Rijalallah. A'udzu bi-llahi mina syaitanir rajim,
Bismillahir Rahmanir Rahim!

Sebagian besar manusia datang dari jarak yang jauh dan
mereka memahami bahasa Inggris. Oleh karenanya, insya
Allah, aku meminta kepada syaikh-syaikh kita terutama
master dari master, Sultanu-l Awliya, untuk mendukung
diri kita dan menganugerahi kita sesuatu yang mungkin
dapat berguna bagiku dan bagi kalian.
Kita mengucap: Asyadu an la ilaha illallah wa asyadu
sayyidina muhammadan 'abduhu wa habibihu wa rasulu.
Ini dikenal dengan baik kalimatu-l ikhlas. La ilaha
ill-Allah, Muhammadan rasulullah. Inilah kesenangan
terbesar bagi seseorang yang mampu mengucap: 'La ilaha
ill-Allah, Muhammadan Rasulullah'. Ada jutaan manusia
yang tidak bisa bicara tentang ini. Bagi kita mudah
untuk mengucap: 'La ilaha ill-Allah'...(Dzikr pendek:)
La ilaha ill-Allah... la ilaha ill-Allah... la ilaha
ill-Allah...Kesenangan terbesar, harta terbesar, bagi
seseorang yang mampu mengucap: 'La ilaha ill-Allah,
Muhammadan Rasulullah'!

Wahai manusia, ini adalah kehidupan yang singkat.
Sebagaimana sang Nabi (saw) katakan: "Masa kehidupan
ummahku antara 60 dan 70 tahun. Dan  sangat langka
bagi seseorang untuk berusia lebih dari 70 tahun
hingga 80 tahun, 90 atau 100 tahun, sangat sedikit.
Jadi ini adalah kehidupan yang singkat dan kita harus
berusaha menggapai sesuatu melalui masa hidup kita
yang singkat untuk mengumpulkan sesuatu  yang
berharga. 

Melalui semua buku yang sudah dituliskan begitu banyak
sejarah dan ajaran-ajaran baik mereka berikan kepada
manusia. Telah dituliskan dalam buku-buku Islami bahwa
pada suatu waktu sebuah karavan melintas, hendak
menuju dari satu kota ke kota lain. Dan mereka belum
samapai kekota tujuan karena malam hari mulai
menjelang dan semua orang sudah letih. Mereka berhenti
untuk beristirahat. Satu orang datang dan bertanya
kepada mereka: "Wahai orang karavan, apakah kau tahu
dimana kita berada?"
"Kita tidak melihat apapun disini karena gelap
sekali!"  

"Ya, benar, tapi aku tahu - ini disebutkan dalam
kitab-kitab tua kita- bahwa di bukit ini terdapat
banyak bebatuan berharga seperti zamrud, rubi,
berlian, mutiara, begitu banyaknya! Tiap jengkal tanah
ini terdapat sebuah batu berharga. Wahai manusia,
dengarkan aku, maka berusahalah kalian mengambil
sesuatu dari tanah ini!"

Sebagian dari mereka menanggapi: "Kini kami begitu
letih, kami tidak sanggup untuk bergerak, mencari
batu-batu atau benda-benda berharga itu. Tidak
mengapa! Kami bisa tidur, kami bisa istirahat."
Sebagian lagi dari mereka percaya kepada orang
tersebut dan berusaha mengumpulkan bebatuan. Sebagian
dari mereka mengumpulkan banyak sekali batu dan
sebagian lagi mengambil batu segenggam penuh lalu
memasukkannya ke dalam saku-saku mereka. 

Mereka berada dalam situasi yang berbeda satu orang
dengan orang lainnya. Ada yang mengambil batu, ada
banyak orang yang tidak mengambili batu. Jadi, banyak
orang mengambil lebih banyak, ada yang mengambil lebih
sedikit. Sebagian lainnya tidak  mengambil batu
samasekali.

Dan waktu fajar menyingsing mereka menyiapkan diri
untuk melanjutkan perjalanan dan semua orang mengambil
apa yang dibutuhkan. (Mereka) menyiapkan diri dan
mulai berjalan. Sampai matahari muncul dan menyinari,
mereka berusaha: "Apakah yang kami kumpulkan?" Mereka
melihat bebatuan berharga yang indah." 

Sebagian dari mereka begitu  bahagia karena telah
memenuhi kantong-kantong mereka dengan begitu banyak
batu berharga, mereka sangat bahagia! Sebagian lagi
berkata: "Mengapa kantong kita hanya sedikit isinya,
mengapa kita tidak mengambil lebih banyak lagi?"
Sebagian dari mereka berkata: "(Kami) bahkan tidak
mengambil satu batu pun dari tempat itu!"

Ini adalah sebuah ajaran baik bagi manusia yang masih
hidup. Itulah sebuah contoh dunya, kehidupan, hidup
kita diplanet ini, melalui dunia ini. Dan siapa yang
berkata: "Wahai manusia, bangunlah! Wahai manusia,
bangun dan isilah tas-tasmu sebanyak yang kau bisa
karena ini adalah sebuah tempat yang dipenuhi dengan
bebatuan berharga"? 
Kini, kita hidup dimuka bumi ini dan Allah yang Maha
Kuasa mengutus Anbiya ( Para Nabi) , dan para Nabi
berseru: "Wahai manusia, dengarlah! Bawalah, dalam
kehidupanmu yang singkat, sebanyak yang bisa kau bawa.
Bawalah! 

Apakah material-material berharga itu? Itulah
'amaalu-l shalih' perbuatan-perbuatan baik dan
penghambaan, dan Iman! Iman. Cari dan ambillah
sebanyak mungkin karena ketika kau mencarinya ketika
fajar menyingsing dan matahari bersinar. Kau harus
tahu apa yang kau kumpulkan!" Namun sebagian besar
manusia mabuk. Mereka berkata, "apakah yang kami
lakukan dengan batu-batu ini! Tas-tas kami penuh
dengan berbagai macam barang, dan kita masih mengambil
banyak batu? Untuk apa? Tidak perlu. Lalu kami tidak
mendengarkan kebodohan seperti itu!" 

Mereka berkata-kata dan tidak mempedulikan apapun.
Datang tanpa apa-apa, pergi tanpa apa-apa, ya, oleh
karena itu kita kini melalui kegelapan dalam hidup
ini. Para nabi datang dan berseru: 'Wahai manusia!
Berusahalah mengumpulkan sebanyak mungkin penghambaan
yang sangat berharga untuk meraih kesenangan Tuhan-mu,
wahai manusia!" Mereka memanggilmu, namun mereka
berkata: Agh aku tak peduli, karena mereka tidak
percaya pada kehidupan Akhirat.
 
Suatu kali datang sekelompok orang atheis, tidak
beriman dan ingin mengunjungi Sayyidina 'Ali ra
karamawlahau wajhah -Allah merahmati beliau- dan
berkata: "Kami datang untuk mengunjungimu dan
melakukan diskusi."  Sayyidina Ali ra menjawab:
"Diskusi- boleh saja, tapi argumentasi- Aku tidak
menerimanya. Argumentasi dilarang, namun mendiskusikan
sesuatu- tidak apa-apa."

Mereka berkata: "Semau anda saja. Katakanlah, wahai
Imam bagi kaum Muslim. Anda berkata bahwa ada
kehidupan lain setelah kehidupan dimuka bumi ini. Ini
adalah kehidupan yang singkat dan diatas itu ada
kehidupan abadi dan kau percaya akan hal itu dan
berkata sesuatu tentang 'Ini Halal' dan 'Itu Haram'.
Dan kau juga melakukan begitu banyak shalat dan puasa
dan melakukan banyak hal dan kau memberikan masalah
terhadap dirimu sendiri -kau tidak hidup dengan bebas”

“ Kebebasan adalah begitu, begitu indah. Menjadi bebas
-tidak ada Halal, tidak ada Haram. Segala sesuatu
Halal, tidak ada yang Haram- inilah ide-ide filosofi
kita. Dan kau membawa begitu banyak kesulitan -kita
bebas! Kita bebas melakukan apapun yang kita mau!
Apakah yang akan anda katakan?"
 
Sayyidina Ali ra menjawab: "Aku ingin bertanya
kepadamu. Kau berkata bahwa kau begitu bahagia dengan
hidupmu karena kau bebas melakukan apapun, tidak
mencegah apapun dari ego-egomu. Ya, bisa saja. Dan kau
berkata bahwa kita membawa beban yang berat karena ada
masalah Haram, yang kau tidak boleh melakukan ini dan
lalu kita harus shalat, kita harus puasa, kita harus
melakukan amal, kita harus melakukan haji- hal-hal
seperti itu. Benar, wahai kalian, kau berkata ini", 
Sayyidina Ali menjawab pertanyaan. 

"Satu pertanyaan kepada kalian, Apakah kau pikir bahwa
disana akan datang suatu hari dimana kau dan kami akan
berada pada satu titik yang sama?" Mereka segera
mengerti... (Sunyi)...." Kini semua orang -baik yang
melakukan perbuatan baik dan buruk- hidup mereka akan
sampai pada satu hari mencapai titik nol. Pakah
Benar?" Mereka menjawab: "Benar." "Itu artinya suatu
hari kau akan menjadi nol dan kami juga akan menjadi
nol. 

Apa yang kau dapat dari kesenangan melakukan segala
sesuatu, ketika kehidupan kami akan menjadi nol, atau
tamat. Nol, tamat! Dan kau berkata: 'Kami mencicipi
segala sesuattu dalam kehidupan kami'. Namun pada hari
itu seluruh kesenangan yang kau kejar akan menjadi
nol, tamat. Dan apa yang kau katakan kepada kami,
bahwa: 'Oh, kau membawa begitu banyak beban berat
dengan melakukan ini, melakukan itu, dari shalat'-
juga beban kita mendekat... mendekat... (dan pada)
hari Akhir ini akan menjadi nol. Itu artinya kau akan
menjadi nol dan kami juga akan meraih nol. 

Kini, ada satu pertanyaan. Sebuah pertanyaan. Ketika
kau akan menjadi nol dan kami akan menjadi nol, nol
adalah sama dengan nol. Kau tidak mampu meraih apapun
yang seharusnya diperuntukkan bagimu. Juga kami akan
menjadi nol dan kami tidak bisa membawa apapun juga-
setelah nol, tidak ada apa-apa. Kau akan menjadi nol,
kami akan menjadi nol. Benar?"  "Benar, sebagaimana
anda katakan, kami menerima."

"Kini pertanyaan lainnya," Sayyidina Ali berkata,
"Wahai orang-orang beriman, wahai orang-orang
materialistis, orang-orang atheis! Seperti yang kau
katakan, kau bukan siapa-siapa di alam baka. Kau dan
diri kami adalah sama. Namun kau harus berpikir: Jika
kami harus menemukan apa yang kami percayai maka kami
akan meraih kesenangan-kesenang an tanpa batas.
Pikirkan tentang dirimu sendiri, apakah yang akan
terjadi terhadap kepalamu!" 

Dan Hazrati Sayyidina  Ali ra membuat pada kepala
mereka tak... tak... "Apakah yang akan datang ke
kepala kalian, kepada kalian, jika ada Neraka dan
Surga? Dimanakah posisimu? Pada waktu itu, jika tidak
ada sesuatu dari Neraka dan Surga, kau dan aku, kita
akan berada diposisi yang sama. Namun jika disana ada
Neraka dan Surga, sebagaimana yang mereka yakini,
mereka akan masuk ke dalam Surga dan kau kehilangan
segalanya dan kau akan masuk ke dalam Neraka.
Pikirkanlah! "

Mereka berpikir dan menjawab: "Oh Imam. Anda sangat
benar! Opinimu, apa yang anda katakan memenuhi 100%
kerohanian kami. Kini kami mengerti bahwa kami harus
memelihara jalan keselamatan. Jalan keselamatan adalah
jalanmu. Jalan yang salah adalah jalan kami! Kami juga
mengucap: Asyadu an la ilaha ill-Allah, ill-Allah,
ill-Allah, wa asyadu ana SayyidinaMuhammadan ´abduhu
wa habibihu wa rasuluh, salla-llahu ´alayhi wa
sallam!" Bihurmati Habib , Fatiha.

Wa min Allah at Tawfiq

Wasalam, arief hamdani
www.mevlanasufi.blogspot.com


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke