Berbagai Kesusahan adalah Sebuah Kebaikan dari Allah  
Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani qs
Zawiya Oakland USA, 26 Pebruari 2008            

 
Allahuma shalli ala Muhammadin wa ala 'ali Muhammadin
wa sallam A`udzu billahi min asy-syaitaan ir-rajiim
Bismillahir- Rahmanir- Rahiim Nawaytu'l-arba`iin,
nawaytu'l-`itikaaf, nawaytu'l-khalwah,
nawaytu'l-riyaada, nawaytu's-suuuk, nawaytu'l-`uzlah
lillahi ta`ala fii hadzal-masjid .
 
Ati` Allah wa ati` ar-Rasula wa uli 'l-amri minkum 
 
Kita lanjutkan sohbet dari pertemuan sebelumnya bahwa
dalam setiap kesempatan, Allah swt mengirimkan
kebaikan-kebaikan- Nya kepada kita. Dalam setiap
kesempatan Allah swt  mengirimkan rahmat-Nya atas
kita. Mengapa? Dan bagaimana kita dapat mengetahuinya?
Bagaimana kita dapat tahu bahwa Allah swt memberi kita
kehormatan dengan kebaikan-kebaikanNya itu? Benar,
Allah swt memberi kita kehormatan dengan
kebaikan-kebaikanNya secara terus menerus. Allah hanya
datang untuk sebuah kebaikan. Kita menunggu dia untuk
memulai. Kita hanya manusia, kau tidak ketinggalan
apa-apa. 
 
Jadi, bagaimana kita mengetahui tentang
kebaikan-kebaikan yang datang atas kita? Antara lain
bahwa Allah swt tidak menghentikan kita untuk tetap
bisa bernafas. Ketika seseorang berhenti bernafas,
apakah artinya? Dia mati. Jadi bisa menghirup udara
dan bernafas adalah sebuah kehormatan dan kebaikan
besar yang Allah swt kirimkan, bahwa selalu ada udara
yang mampu kita hirup dan hembuskan setiap saat. Jika
itu berhenti maka kita akan mati, selesai.
 
Apa yang pertama-tama dihentikan ketika kita mati?
ketika menarik nafas atau ketika menghembuskan nafas?
Tanda pertama adalah ketika nafas keluar namun nafas
yang baru tidak masuk. Jadi bernafas adalah ni`mat
yang Allah swt berikan atas kita bahwa Dia merahmati
kita dengan begitu banyak tarikan nafas yang Allah
berikan kepada kita setiap hari? Apakah kalian tahu
jumlah udara yang masuk dan keluar. Kalian mengambil
oksigen dan membuang sisanya. Bagaimanakan tubuh dapat
mengetahui bahwa gas ini oksigen dan sisanya bukan
oksigen? Di Laboratorium, saat ini jika mereka ingin
mengidentifikasikan dan memisahkan jenis gas (udara)
dan mengeceknya, maka hal ini adalah sebuah proses
besar untuk menentukan dan memisahkan yang mana
oksigen, helium, hidrogen dan berbagai jenis gas
lainnya. 

SubhanAllah, Allah swt memberikan kita kemampuan untuk
tahu apa yang baik dan buruk untuk tubuh kita. Jika
tubuh kita tahu apa yang baik buatmu, bahwa oksigen
baik bagimu. Kemudian oksigen mengalir ke jantung
untuk mengambil darah ke otak serta ke seluruh tubuh.
Apakah kau pikir tubuh kita tidak tahu apa yang baik
dan buruk? Jika tubuh kita tahu gas mana yang baik
buat tubuh kita, bahwa oksigen baik dan bukan yang
lainnya, tidakkah Allah swt juga mengetahui untuk
memberi kita kesadaran tentang mana perbuatan yang
buruk dan mana yang baik. Lalu mengapa kita tetap
mengikuti langkah yang buruk?

Jika kita tahu, tubuh kita tahu dan jiwa kita tahu,
lalu mengapa kita tidak menghentikan diri kita sendiri
dari terjerumus ke dalam jebakan setan? Itulah mengapa
seperti yang kami katakan sebelumnya, bahwa Allah swt
menyukai hamba-Nya yang selalu meminta, seperti ketika
seorang murid meminta dari seorang gurunya.
Grandsyaikh Abdullah Faiz almarhum ( semoga Allah
merahmatinya)  pernah berkata, "Jangan jadikan dirimu
sebagai Syaikh, sebagai Ulama, tetapi jadikan dirimu
sebagai seorang murid." 
 
Tidak ada Syaikh. Tiap Syaikh adalah seorang murid
dari Syaikh yang diatasnya. Dalam tiap bidang ada
Ulama-ulama dan mereka adalah murid dari Ulama-ulama
yang ada diatas mereka namun ego tidak ingin kau
menganggap dirimu seperti itu, bahwa engkau hanyalah
seorang murid. Ego yang membuat kita terjatuh dalam
segala jenis masalah. Grandsyaikh Abdullah qs berkata
(semoga Allah swt merahmati jiwa beliau), bahwa
"kesulitan-kesulitan datang kepada kita, adalah untuk
mengubah diri kita, meskipun kita menerimanya sebagai
kesulitan-kesulitan. Kesulitan yang kita alami dan
kita berada didalamnya, namun kenyataannya nantinya
kesulitan tersebut berubah menjadi nikmat."
 
Dan ini memiliki makna yang besar yang harus kita
pahami, bagaimana sebuah kesusahan menjadi sebuah
nikmat. Bagaimana sebuah kesulitan menjadi sebuah
kebaikan. Apa yang manusia katakan ketika mereka
menderita sakit? Mereka tidak mengatakan penyakit itu
sebagai sebuah nikmat atau kebaikan. Mereka
mengatakannya sebagai kesulitan dan masalah dan mereka
mencari jalan keluar darinya. Jadi, kesusahan atau
kesulitan apapun yang datang atas kita, Grandsyaikh
Abdullah qs katakan, "Ini adalah sebuah nikmat." 
 
Apakah yang beliau maksudkan? Maksudnya adalah bahwa
karena itu adalah sebuah kesusahan, maka sejak kau
mendapatkan kesusahan itu dan kesusahan menempel
kepadamu, maka karena sebab itulah Allah swt akan
membersihkanmu dari dosa-dosamu dan menjadikan
kesulitan dan penderitaanmu tersebut sebagai pahala
bagi dirimu.
 
“Illaa man taaba wa aamana wa'amila 'amalan shaalihan
fa ulaa-ika yubaddilullaahu sayyi-aatihim hasanaatiw
wa kaanallaahu ghafuurar rahiimaa”.
 
Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan
mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti
Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al Furqaan (25):70] 
 
Karena ketika kalian bersabar atas kesusahan atau
kesulitan itu, maka Allah swt akan mengubah dosa-dosa
kalian menjadi kebaikan (hasanaat). Coba kalian
perhatikan, berapa banyakkah Umat Nabi yang tidak
memiliki kesulitan? Apakah kau mempunyai kesulitan?
Kadang-kadang. Pastilah. Kau punya kesulitan? Kita
semua punya kesulitan. Jadi, Allah swt membersihkan
keburukanmu dan kejahatanmu  dengan kesulitan. 

Perhatikan si Ikramullah Khan, orang berjanggut dengan
pakaian tersetrika rapi. Kau perhatikan bahwa dia
sangat tampan dengan pakaian yang tersetrika sangat
rapi. Kita semua duduk didepan cermin setiap hari.
Kalian berteriak kepada istri kalian untuk menyetrika
baju kalian. Berapa kalikah kau berteriak pada
istrimu, berapa kali dalam sehari kau berkata,
"Mengapa kau tidak menyetrika bajuku!" Kau berteriak
juga? Kau juga berteriak? Kau juga. Dia lebih sabar
darimu. Kau orang Perancis.apakah kau berteriak pada
istrimu?, "Mengapa kau tidak menyetrika baju-bajuku? "


Mengapa kau menyetrika bajumu? Agar saat kau pergi
keluar orang-orang akan menghormatimu dan menganggap
kau tampan.  Namun sebelum pakaian-pakaian itu
disetrika dimana pakaian itu berada? Mengapa kita
harus menyetrikanya? Karena pakaian kita kusut.
Mengapa pakaian-pakaian itu kusut? Aku bertanya kepada
mereka di internet. Mengapa pakaian kusut? Karena
pakaian itu sehabis dicuci. Mengapa pakaian dicuci?
Karena Kotor. Mengapa pakaian kita kotor? Karena kita
yang mengotorinya.
 
Jadi, ketika kau membuat dirimu dan egomu kotor,
begitu kotornya maka kau butuh sebuah mesin cuci
sekarang. Apakah mesin cuci itu? Ketika kau menaruh
pakaian didalam mesin cuci, apakah yang terjadi? Mesin
cuci mulai memeras dan memeras pakaian-pakaian itu.
Kemudian apa yang terjadi? Pakaian yang keluar dari
mesin cuci menjadi sangat kusut.
 
Kita kotor, maka untuk membersihkan diri kita sendiri,
Allah swt memasukkan kita ke dalam mesin cuci. Mesin
cuci itu akan meremas-remas kita. Kita diremas secara
menyeluruh dan diremas lalu mengeluarkan kita. Mesin
cuci membuatmu keluar dalam keadaan kusut namun
bersih. Allah swt mengirimmu kesusahan dan pada
akhirnya kau menjadi bersih. 

Allah swt mencintai kita. Mengapa? Karena Dia
menjadikan kita sebagai bagian dari ummat Sayyidina
Muhammad (saw). Allah swt mencintai semua Nabi namun
Dia lebih mencintai Sayyidina Muhammad (saw)
dibandingkan mereka semua. Dia menciptakan kita dari
cahaya-Nya dan Dia menciptakan segala sesuatu demi
kepentingan beliau. Jadi kita bersyukur, karena Allah
swt tidak menjadikan kita bagian dari ummat nabi lain
dan itu artinya Dia lebih mencintai kita dibandingkan
ummat lainnya. 

Mereka melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku di Noor
TV: "Mengapa komunitas Muslim saat ini mempunyai
banyak masalah?" Karena kami kotor, mereka mencuci
kami. Kita selalu kehilangan saat ini karena kita
lebih kotor dan lebih kotor dan lebih kotor lagi.
Allah swt ingin kita menjadi bersih maka muslim
mengalamai banyak masalah. Sang Nabi Muhammad (saw)
adalah manusia yang sempurna dan bersih. Allah swt
tidak akan mengirim kita agar bersama beliau (saw)
dalam keadaan kotor. Jadi, Dia membersihkan kita
dengan memberi kesulitan , dengan dengan meremas kita
dan pada akhirnya kita butuh disetrika. Penyetrikaan
bermakna bertaubat, karena kesusahan-kesusahan yang
mempengaruhi kita, maka kita menjadi demikian
kusut.Saat disetrika kita mempunyai tubuh dan jiwa
yang lebih baik 
 
Jadi kesusahan adalah sebuah ni'mat. Manusia tidak
melihatnya dari sudut pandang itu namun awliyaullah
melihat hal tersebut dari sudut pandang itu. Sang Nabi
(saw) berkata,  "Akulah nabi diantara para nabi dan
manusia diantara manusia yang paling teraniaya." Dan
beliaulah rasul terakhir. Perhatikan Sayyidina Musa
(as) tersesat selama 40 tahun di gurun pasir. Allah
swt memberitahu beliau, "Aku akan memberimu kemenangan
atas Fir'aun" dan selama 40 tahun dia tersesat. Dan
selama 40 tahun Fir'aun menganiaya dan menggilas Bani
Israel dan Sayyidina Musa (as). 
 
Sayyidina `Isa (as), mereka mengejar untuk
membunuhnya. Sayyidina Muhammad (saw), mereka
menyiksa, melempari batu dan memaki serta berusaha
beberapa kali membunuh Nabi Muhammad saw. Sayyidina
Ibrahim (as) dianiaya dan dilempar ke dalam kobaran
api. Sayyidina Nuh (as), mereka melempari dengan batu
dan menganiaya beliau ketika sedang membangun bahtera.

 
Jadi, apakah kita lebih baik dibandingkan para Nabi?
Allah swt mengirim kesusahan demi kesusahan untuk
membersihkan kita. Jadi, jangan katakan saat
kesusahan-kesusahan datang bukanlah suatu nikmat.
Ucapkan, "Ya Allah, Kau mengirimnya dan Kau dapat
mengambilnya dan aku bertaubat. Allah swt mengirim
kesusahan agar kita bertaubat sehingga kita akan
berada diposisi yang baik dihadapan Allah swt pada
Hari Pembalasan."
 
Dan dia berkata ketika kita melakukan sebuah dosa,
kita melakukannya dengan semangat. Ketika kita jatuh
dalam kesalahan, dosa, hasrat dari ego, kita
melakukannya dengan penuh energi. Tetapi ketika waktu
shalat datang, kita melakukannya dengan penuh
kemalasan. Berapa banyakkah orang yang tidak shalat?
Dan Allah swt berfirman bahwa kalian harus shalat 5
waktu. Ketika orang mulai malas shalat, terutama
shalat Fajr, solat Subuh. Ketika shalat Subuh datang,
kita masih tidur. 
 
Para remaja berkata, "O syaikh, aku tidak bisa bangun
untuk shalat Subuh. Apa yang harus aku lakukan?" Apa
yang harus kalian lakukan? Pukuli dirimu. Dia berkata,
"Aku tidak bisa bangun untuk shalat Subuh." Taruh jam
ber-alarm. Beritahukan istrimu untuk membangunkanmu,
karena dia shalat dan kau tidak. Jadi, letakkan jam
ber-alarm. Mereka berkata, "Kita meletakkan jam
ber-alarm namun kita berpaling ke posisi ini atau itu
untuk mematikannya. " Jadi, segera setelah jam
berbunyi, mereka segera mematikannya. Bukankah begitu?
 
Mengapa bagus mempunyai sebuah masjid di tiap jalan
dan tiap sudut? Karena kau tidak bisa mematikan suara
dari masjid. Ketika muadzin mulai menyerukan adzan,
kau tidak bisa menghentikannya. Suaranya terdengar
diseluruh pelosok. Kini setan berkata kepada manusia,
"Jangan dengarkan suara azan dari masjid terdekat." Di
negara-negara Muslim, mereka menaruh sebuah mikrofon
di menara-menara masjid, 1 buah,  2 atau 4 buah
mikrofon dimenara masjid dan mereka bangun, mereka
menyerukan adzan dari sana. 
 
Kini, mereka meletakkan pengeras-pengeras suara namun
saat shalat Subuh, mereka mengecilkan volume pengeras
suara itu. Mereka tidak menyerukan adzan di
pengeras-pengeras suara. Kini dibanyak negara, ini
menjadi sebuah hukum tidak boleh mengumandangkan azan
terutama subuh. Mengapa? Karena mereka tidak ingin
membangunkan orang diwaktu Subuh/Fajr. Jadi, mereka
berkata, "Aku mematikan alarm." Aku menjawab, Baiklah,
jauhkan posisi alarm dari tempat tidur dan alarm akan
terus bunyi." 

Jika kalian kuatir anak-anak tidak bangun saat solat
Subuh, terutama para remaja dan kemudian kau bangun.
Maka kalian bisa membangunkan mereka. Selesai. Jadi
itulah masalahnya. Dan itulah yang beliau katakan,
Grandsyaikh Abdullah qs (alm), dan Mawlana Syaikh
Nazim Adil qs, semoga Allah mengaruniai beliau umur
panjang, bahwa ketika shalat Subuh kita malas.  Tetapi
untuk melakukan sesuatu yang haram kita begitu
bersemanagat  dan bertenaga. Itulah bagaimana ego kita
memperdaya kita. Dan kemudian apa yang akan terjadi?
Kita semua berada dibawah kesulitan-kesulitan yang
begitu banyak. .
 
Itulah mengapa kita memohon, "Ya Rabbii, kami adalah
hamba-hamba yang penuh dosa. Manusia penuh dosa. Kami
memohon kepada-Mu untuk membantu kami menyingkirkan
hasrat buruk dan Ego dari diri kita dan Kau-lah
satu-satunya yang dapat mengambilnya, demi kepentingan
Sayyidina Muhammad Sallallahu Alayhi Wasalam dan demi
kepentingan Awliyaullah ( Para Wali/Saints )
singkirkanlah karakter buruk yang kami miliki dan
penuhi kami dengan kecintaan beribadah yang lebih dan
lebih, dan cinta untuk amal yang baik. Bila tidak,
maka kami jatuh dalam perangkap setan. Kami tidak
mempunyai kekuatan yang cukup, kekuatan datang
dari-Mu, ya Allah. Tiada yang datang dari kami."
 
Aku akan menceritakan sebuah cerita dari Syaikh Nazim
qs, merujuk kepada seorang ulama paling terkenal dalam
Islam yang tidak memelihara janggut. Kau tahu di Mesir
dan negara-negara Arab ada sebagian ulama yang sangat
tinggi kedudukannya. Bahkan dia adalah Grand Mufti
dinegara-negara Muslim tetapi mereka tidak memelihara
janggut. Grandsyaikh Abdullah qs alm berkata, "Jika
kau membiarkan janggutmu tumbuh, Allah swt akan
membukakan kepadamu tingkat kewalian." Karena dia
adalah seorang alim (berilmu .penerj), maka dia sudah
siap. Tetapi Egonya tidak membiarkan dia menumbuhkan
janggutnya. 

Karena jika dia tidak mempunyai jangut dan juga
berambut gondrong maka dia dapat dengan mudah pergi ke
tempat disko manapun, bukankah begitu Abu Syuaib?
Namun ketika dia mempunyai janggut yang panjang dan
topi turban dikepalanya, dapatkah dia pergi ke disko?
Tidak bisa. Jadi, gambaran Islami ketika kau
mengenakan janggutmu dan turbanmu, maka akan
menyelamatkanmu. Itulah mengapa Nabi Muhammad (saw)
pernah berkata, "al-ama'imu tijaan al-`arab, Tutup
kepala turban adalah mahkota bagi bangsa Arab," Turban
adalah mahkota bagi kaum Muslim. Mereka mempunyai
banyak turban di Afghanistan. 

Tapi pastikan juga bahwa mereka tidak berambut
gondrong / panjang. Sehingga mereka dapat melepaskan
turban mereka dan mengeluarkan rambut panjangnya dan
sedikit janggut memudahkannya pergi kemana-mana, tidak
seorang pun yang tahu bahwa dia alim (berilmu
.penerj). Dan siapa yang tidak memelihara janggut dan
turban, apa yang kau lakukan dengan Sunnah Nabi? Kau
telah membunuhnya. "Barang siapa yang menghidupkan
Sunnahku ketika dimana-mana terdapat penyelewengan,
Allah swt akan memberikan pahala atasnya seperti
pahala 70 orang syahid." 

Ketika para Sahabat dalam keadaan sekarat, mereka 
menginginkan pahala satu orang syahid. Sang Nabi (saw)
berkata bahwa apabila terdapat penyelewengan dalam
Ummah, seperti saat ini, maka siapapun yang
menghidupkan Sunnahku, Allah akan memberikan pahala
kepadanya seperti pahala 70 orang syahid.
 
Mengapa kita tidak melakukan sunah Nabi tersebut?
Perhatikan orang yang satu ini, MasyaAllah meskipun
dia orang Perancis, namun dia memiliki topi turban dan
janggut. Perhatikan orang ini, dia orang Amerika yang
pindah agama, dia mempunyai janggut dan topi turban
bertengger diatas kepalanya. Perhatikan orang itu, dia
terlihat seperti orang Pakistan tapi bukan. Dia
mencukur janggutnya tetapi dia akan menumbuhkan
janggutnya sekarang. Aku menyukainya; itulah mengapa
aku memilihnya.
 
Jadi penampilan juga penting. Seperti sebuah jam. Jika
jam bekerja dari dalamdan baterainya bekerja, tetapi
penampilan luar tidak memiliki jarum penunjuk, maka
apakah manfaatnya? Apakah kau dapat mengetahui waktu?.
Jika penampilan kita tidak seperti penampilan kaum
Muslim, seperti penampilan yang ditunjukan sang Nabi
(saw) dan para Sahabat, maka dia tidak seperti seorang
Muslim. Ini seperti ketika kita kehilangan jarum-jarum
jam. Dan jarum-jarum ini  ibarat penampilan Islami
yang mengikuti sunah Nabi saw..
 
Jagalah penampilan Islami setidaknya ketika kita
shalat. Orang-orang kini shalat tanpa penampilan
Islami, tanpa tutup kepala, turban. Hal ini tidak
mengapa selama mereka tahu akan hal itu dan mereka
berusaha menjadi hamba yang setia kepada Allah swt.
Apa yang dapat kita lakukan dimasa yang sangat sulit
untuk mengamati hal itu dan melakukan apa yang perlu
dilakukan. Tetapi ketahuilah bahwa Allah swt mengirim
kesulitan-kesulitan ini karena kita jauh dari tingkah
laku Islami dan Allah swt mengingatkan dan
membersihkan serta membawa kita kembali bersih dalam
Hadirat Allah swt. 
 
Kita kembali kepada cerita diatas tentang Mufti yang
tidak memelihara janggutnya, beliau memberitahukan
kepada ulama tersebut, "Jika kau menumbuhkan janggutmu
maka kau akan menjadi seorang wali." Artinya bahwa
ketika kita mempunyai dukungan, maka kau akan dapat
membunuh setan yang bersamamu. Ketika kau jadi berbeda
dengan orang lainnya, orang akan melihatmu, kau merasa
bahwa kau bukanlah bagian dari tempat itu. Kau aneh
dalam sebuah komunitas yang telah diselewengkan. 

Dia masih menumbuhkan janggutnya maka Allah swt akan
memberikan dukungan kepadanya. Dan kita memohon kepada
Allah swt untuk memberikan kita dukungan. Dan dia
bertanya, "Apakah rendah diri (tawadhu') itu? Ma huwa
at-tawadha`. Apakah perbedaan antara kerendah dirian
(tawadhu') dan ke-Egoisan? Apakah perbedaan antara
tawadhu' dan kesombongan? Apakah perbedaan antara
tawadhu' dan membanggakan diri?" Beliau berkata, "Ada
perbedaan yang sangat besar”. 

Kau telah dicangkok, seperti kau mencangkok sebuah
pohon liar agar buahnya manis, bagaimana kau
mencangkoknya, tawadhu' adalah saat kau dicangkok oleh
sang Nabi (saw), yang mempunyai tingkatan tertinggi
ke-tawadhu'-an yang telah Allah swt karuniakan kepada
beliau. Itu artinya kau mewarisinya dari sang Nabi
(saw). Ke-Egoisan, kesombongan dan membanggakan diri
sendiri kau warisi dari Iblis. Iblis adalah yang
paling sombong, paling bangga dan paling egois. Allah
swt mendeskripsikannya ketika dia berkata, 
 
“Qaala ana khairum minhu khalaqtanii min naariw wa
khalaqtahuu min thiin”. Iblis berkata: "Aku lebih baik
daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api,
sedangkan dia ( Adam as) Engkau ciptakan dari tanah".
[Shaad (38):76] dan Allah melempar Iblis keluar." 
 
Dan Nabi Muhammad Sallallahu alayhi wasalam adalah
manusia yang paling tawadhu', paling rendah hati.
Bagaimanakah kita mengetahui hal itu? Yaitu karena
Beliau saw diundang ketika Isra Miraj "qaaba qausaini
au adnaa” – hanya berjarak dua busur panah atau lebih
dekat lagi dihadirat Ilahi. Tidak ada Nabi lain yang
diundang ke sana. Jadi ke-tawadhu'-an, kerendah hatian
mengangkatmu lebih tinggi, sangat tinggi dan
kebanggaan diri mengantarmu ke tingkat yang sangat
rendah.
 
Kita memohon kepada Allah swt untuk memenuhi kita
dengan ke-tawadhu'-an dan menjadi sangat dekat dengan
Nabi Muhammad saw, dan mengambil kesombongan,
membanggakan diri sendiri dan keegoisan dari hati
kita, serta menjaga kita jauh dengan jalan setan.
Dengan cara ini kita akan sanggup menghancurkan rumah
Setan yang dia bangun dalam hati kita dan kita akan
sanggup membangun kebahagiaan, kedamaian dan kepuasan
bersama hati kita dan membangun diri kita menjadi
hamba-hamba yang lebih baik bagi Allah swt. Semoga
Allah swt mendukung dan merahmati kita.Bi-hurmatil
habib, bi-hurmatil Fatiha. 

Wa min Allah at Tawfiq

Wasalam, arief hamdani
www.mevlanasufi.blogspot.com

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke