weladalahhh.. masalah begini kok jadi ribut2 sampe saling menyalahkan?

padahal gampang sekali. yg anti rokok dan menafsirkan rokok haram 
berdasarkan qiyas, ya jangan merokok. sedangkan yng menganggap rokok 
mubah atau makruh, ya silahkan merokok. seperti kata Gus Dur, gitu aja 
kok repot.

nah perkara amalnya diterima oleh Allah atau tidak, kita ga bakal 
tahu, kecuali Allah. perkara apakah hati bisa ditembusi cahaya atau 
terhalang asap rokok, kita ga pernah tahu, hanya Allah yg tahu. Bukan 
hak kita untuk menghakimi diterima atau tidaknya amal kita.

jadi kita tak usahlah repot-repot ngurusi pahala dan amal orang lain. 
sudah ada yg ngurus kok. kalo kita masih suka menyalah2kan orang lain. 
dan merasa bahwa pendapat kitalah yang paling benar, paling didukung 
oleh ayat-ayat qur'an,  ya apa gunanya kita ikut tarekat...

mengapa kita tidak berlaku bijak seperti sufi-sufi yang kita kagumi 
bersama? 

Kyai Ihsan Jampes Kediri, ulama bertaraf internasional yang kitabnya 
jadi rujukan di timur tengah dan mesir, pernah menulis masalah 
perbedaan pendapat rokok dengan amat bagus sekali - beliau sendiri 
adalah perokok. Apakah orang seperti Kyai Ihsan Jampes yang menulis 
kitab tasawuf yng bermutu tinggi pada usia 33 thn itu dadanya tidak 
ditembusi cahaya Allah hanya karena asap rokok?

Kyai Hamid Pasuruan - beliau adalah Wali ALlah era 70-an dan 80-an yg 
amat dihormati oleh sesepuh mursyid tarekat mu'tabarah, tidak anti 
rokok dan tidak pernah mengharamkan rokok. Apakah kyai sekaliber Mbah 
Hamid ini shalatnya tidak diterima oleh ALlah hanya karena merokok?

Kyai As'ad Syamsul Arifin - yg menurut sebagian ulama sufi menduduki 
Qutub pada zamannya, yg juga merokok .. apakah beliau ini akan masuk 
neraka hanya karena berpendapat merokok tidak haram?

itu baru tiga contoh. masih banyak lagi ulama besar yang tidak 
mengharamkan rokok. Apakah ulama-ulama semacam itu begitu bodoh? Saya 
rasa tidak. dan pendapat mereka yg tidak mengharamkan rokok pasti ada 
dalilnya. sekali lagi, mereka bukan ulama bodoh dan bukan ulama yg sok 
merasa paling benar dan paling suci.

ah, kita kok hendak jadi mirip seperti Wahabi ya? begitu mudahnya 
menuduh orang yang tak sependapat dengan kita sebagai pihak yang 
salah, amalnya tidak diterima, sesat, bidah... Masya Allah.. 

betapa sia-sianya kita berdebat soal furu' semacam ini, Mengapa kita 
tak belajar dari sejarah?  perdebatan soal furu' tak akan bakal 
mencapai titik temu. yg bisa kita lakukan adalah menghormati meskipun 
kita tidak setuju atau berbeda pendapat, dan tidak dengan unsur 
menyalah-nyalahkan dengan embel-embel alasan amar ma'ruf nahi mungkar, 
seolah-olah kita sajalah yang paling benar dan yg lain salah dalam 
memahami al qur'an dan hadits. Naudzubillah min dzalik

salam damai
triwibs











--- In [email protected], "Hudan Ibnul Iman" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> tak ada gading yang tak retak disadari atau tidak oleh sang Gajah,
> tapi tak ada Gajah yang rela mati menyerahkan gadingnya.
> Selama masih hidup di dunia tak akan pernah lepas dari dosa disadari 
atau tidak,
>  tapi tak ada yang rela amal kebajikannya tertolak di akherat kelak.
> Kita manusia lemah, tak punya daya upaya menghindar dari segala
> keburukan datang menimpa, tapi kita manusia telah diberi 'akal-
fikir'
> untuk bisa memilih mana yang baik mana yang buruk, dan sudah diberi
> 'rambu-rambu' melalui kitab2 suci.
> Apakah lampu merah rambu lalu lintas menjelaskan tertulis secara 
detil
> makna dari warna 'merah-kuning-hijau'? tentu saja tidak,
> demikian pula dalam ayat-ayat Al-Qur'an tidak perlu detail 
menyebutkan
> apa saja yang haram dan apa saja yang halal.
> 'Maka, nikmat Tuhan manalagi kah yang kamu dustai?'.
> 
> Memang tidak ada larangan untuk membuat, menjual, membeli rokok
> sehingga roda perekonomian terus berjalan baik, secara hukum jual-
beli
> sah.
> 
> tapi yang ada adalah larangan perbuatan yang merusak di atas muka 
bumi,
> termasuk merusak/menyakiti diri sendiri terlebih kepada diri yang 
lain.
> 
> Dengan katalain  'Silahkan beli, tapi jangan dihisab', perusahaan
> untuk, lapangan pekerjaan terbuka, APBN kaya karena kita beli, juga
> badan sehat, orang lain sehat-tidak terganggu karena tidak dihisab
> rokoknya, (he he..., emang ada yang mau begitu?)
> 
> sebagai tambahan, menurut Imam Al-Ghazali, Nur-Allah atau Cahaya 
Allah
> itu masuknya melalui dada terus tembus ke dalam hati.
> bagaimana Cahaya Allah bisa masuk kedalam hati jika dalam dada nya
> penuh dengan asap.
> Coba saja bila kita berada di suatu ruangan atau daerah yang penuh
> asap tebal, walaupun sudah memnyalakan lampu apakah jelas terlihat
> apa2 yang ada di sekeliling kita, rela kah membiarkan diri kita
> terhijab dari CAHAYA ALLAH!.
> 
> Wassalam.
> 
> Pada tanggal 21/04/08, Himawan Muhammad <[EMAIL PROTECTED]> 
menulis:
> > check this :
> >
> > http://sylviatjahyadi.blogspot.com/2007/11/ketika-indonesia-tanpa-
cukai-rokok.html
> > http://www.customs.go.id/news/print_news.php?
newsID=995&channelID=01
> > http://www.antara.co.id/arc/2007/7/2/target-penerimaan-cukai-2007-
diperkirakan-tercapai/
> > http://www.indomedia.com/bpost/022005/26/depan/utama1.htm
> >
> > nah itu masalahnya...
> > jika semua orang nggak ngerokok... abis deh APBN kita...
> > pemerintah nggak bisa membiayai operasional negara... pengangguran
> > banyak.... penjahat jadi banyak... malah nggak bisa ibadah...
> >
> > ini hanya ngingetin aja temen-temen yang nggak suka/anti rokok... 
klo selama
> > ini pemerintah kita membangun negara dan membiayai negara selama 
ini ya dari
> > rokok... temen-temen ikut menikmati pembangunannya nggak?...
> >
> >
> > Himawan Muhammad
> >
>


Kirim email ke