Proses Pembelajaran Tanpa Henti

Manusia adalah mahluk yang unik bahkan orang yang terlahir kembarpun pasti 
mempunyai suatu perbedaan,  baik yang bersifat fisik maupun karakter. Setiap 
orang juga memiliki keinginan yang berbeda dengan orang lain demikian juga 
halnya dengan hasil kerja, bisa jadi masakannya sama, bahan dasarnya sama tapi 
rasanya berbeda karena setiap orang mempunyai cita rasa tersendiri. Ketika 
seorang guru menerangkan satu pelajaran disekolah maka apakah daya tangkap 
setiap anak bisa sama ? tidak dan hal ini tidak selamanya terkait dengan 
masalah pintar atau bodoh (IQ), mungkin ada hal lain yang menjadikan pelajaran 
tersebut sulit untuk di cerna. Seorang Ibnu Hajar Asqalani pun (penulis Bulugul 
Marom dan  Fathul Baari ; cmiiw) pernah merasa putus asa karena kesulitan 
menangkap pelajaran yang diberikan, begitu juga dengan James Watt penemu mesin 
uap yang sempat dikeluarkan dari sekolah sewaktu masih kecil.

Setiap pembelajaran memerlukan sebuah yang metode tidak hanya dalam menguraikan 
masalah tetapi juga dalam merangkai sebuah jawaban dan kita juga harus 
menyadari bahwa sebuah keluaran (output) jauh lebih penting daripada sebuah 
masukan (input) karena keluaran jelas akan melibatkan pihak lain. Masukan yang 
diterima oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam berupa wahyu diterima 
dalam berbagai cara yang terkadang sangat melelahkan (seperti denting lonceng 
yang membuat tubuh beliau menggigil) dikeluarkan dalam perkataan dan perbuatan 
beliau yang begitu santun.

Ketika kita merangkai pengetahuan yang telah kita miliki yang membentuk suatu 
konsep yang kita beri nama Islam, maka pertanyaannya adalah apakah Islam yang 
telah kita pahami adalah Islam yang seseungguhnya dimaksudkan oleh Allah ? atau 
kita harus membalik metode ini dimana kita dituntut untuk mengetahui dahulu 
konsep Islam secara utuh baru kemudian kita dalami dan jalani sebagai  sebuah 
kerangka berfikir. Lalu ketika pertayaan di tingkatkan yaitu untuk apa Islam di 
turunkan ? apakah sebagai rahmatan lil 'alamin yang mencakup seluruh mahluk 
hidup yang ada di muka bumi ini beserta isi dari alam semesta atau sekedar 
rahmatan lil muslimin yang berujung pada syurga dan yang bukan akan berakhir di 
 neraka ? Jika rahmatan lil 'alamin maka ajakanlah jawabannya sedangkan yang 
berfikir hanya rahmatan lil muslimin maka penyangkalan-penyangkalan yang 
menjadi dampaknya.

Apa yang kita lakukan hari ini adalah buah dari pemahaman kita terhadap 
pengetahuan yang kita miliki yang berasal dari berbagai kumpulan informasi baik 
berupa buku, artikel , tulisan, televisi, majalah maupun mendengarkan pengajian 
walaupun informasi tersebut belum tentu saling mendukung. Didalam artikel saya 
terdahulu "Relatifitas sebuah Kesepakatan" saya sempat menjelaskan bahwa 
terkadang kebenaran yang kita yakini itu bisa berasal dari sebuah kesepakatan, 
seperti kesepakatan para ulama bahwa hadist sahih  dari Bukhari adalah yang 
paling utama yang di tinjau dari keketatan beliau dalam meriwayatkan hadist. 
pertanyaanya apakah hasil dari kesepakatan itu  adalah kebenaran mutlak ? belum 
tentu. namun demikian sebelum ada yang bisa melemahkannya sandaran itu harus 
tetap di pakai karena dalam kaidah ilmu seribu hipotesa belum tentu bisa 
menjadi sandaran kebenaran sebaliknya cukup satu penyangkalan yang berdasar 
untuk menjadikannya di ragukan.


Salam

David

Kirim email ke