Assalamu'alaikum Mas Iman

Semoga Mas Iman dan keluarga dalam keadaan sehat dan di rahmati Allah, 
Memang benar untuk diri pribadi Input-Proses-Output sesuatu yang penting, namun 
demikian orang lain tidak perlu mengetahui bagaimana cara mendapatkan apa bisa 
kita berikan kepada mereka. Sebenarnya maksudnya sama cuma cara pandangnya yang 
berbeda Mas iman melihat dari luar kedalam, sedangkan yang saya maksud adalah 
dari dalam keluar, mudah-mudahan bisa dimengerti.

Untuk "relatifitas kesepakatan" saya kira sudah jelas, dimana kebenaran dan 
pembenaran jelas berbeda untuk itu saya memakai kata "relatif" artinya 
tergantung dari sudut pandang mana kita melihat dan dalam hal ini mungkin kita 
sepakat bahwa sandaran kita adalah Al Qur'an dan Sunnah Nabi. Mudah-mudahan 
yang ini juga bisa dimengerti Insya Allah, Wallahu 'alam bissawab

Salam

David

  ----- Original Message ----- 
  From: hudan_ibnul_iman 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, August 01, 2008 6:07 PM
  Subject: [tqn] Re: Proses Pembelajaran Tanpa Henti


  Input - Output...
  saya yakin setiap pribadi sudah banyak menerima 'Input' dari berbagai 
  macam 'Metode' walaupun semuanya satu tujuan.
  Kalau dikatakan Output itu lebih penting, mungkin ya jika itu terkait 
  kepada orang lain, bagaimana dengan Input, apakah tidak kurang 
  pentingnya walaupun 'sementara' untuk diri sendiri, toh sebab adanya 
  Output karena pernah adanya Input.

  Kalau menurut saya, hal yang lebih penting itu adalah bagaimana cara 
  diri seseorang mengolah/menyaring "Prossesing/Filtering" semua metode 
  (baca :ilmu & informasi) menjadi lebih berguna dan lebih baik bagi 
  dirinya. Jika dalam memasak walaupun bahan baku (Input) dan hasil 
  masakannya sama, tapi yang berbeda adalah rasa dan mutu dari apa yang 
  dihasilkan (Output).

  Bila Input-Proses-Output ini kita hubungkan dengan hidup manusia, 
  maka Input adalah informasi/metode/jalan/tarekat yang Allah telah 
  sampaikan kepada umat manusia. Sedangkan saat sekarang ini kita masih 
  dalam kondisi 'Proses' belum sampai kepada 'Output', karena hasil itu 
  akan didapat nanti kalau sudah wafat.
  ******

  Tentang relatifitas kesepakatan... bagaimana jika di implementasikan 
  kepada keputusan pribadi dalam menentukan sikap/perbuatan.
  Yang jadi pertanyaan sepakat dengan siapa saat itu, dengan malaikat, 
  iblis, nafsu, Rasul atau Allah, atau tidak dengan siapa-siapa 
  (ateis)... apa bisa?

  Salam persaudaraan,

  Iman

  --- In [email protected], "David Sofyan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > Proses Pembelajaran Tanpa Henti
  > 
  > Manusia adalah mahluk yang unik bahkan orang yang terlahir 
  kembarpun pasti mempunyai suatu perbedaan, baik yang bersifat fisik 
  maupun karakter. Setiap orang juga memiliki keinginan yang berbeda 
  dengan orang lain demikian juga halnya dengan hasil kerja, bisa jadi 
  masakannya sama, bahan dasarnya sama tapi rasanya berbeda karena 
  setiap orang mempunyai cita rasa tersendiri. Ketika seorang guru 
  menerangkan satu pelajaran disekolah maka apakah daya tangkap setiap 
  anak bisa sama ? tidak dan hal ini tidak selamanya terkait dengan 
  masalah pintar atau bodoh (IQ), mungkin ada hal lain yang menjadikan 
  pelajaran tersebut sulit untuk di cerna. Seorang Ibnu Hajar Asqalani 
  pun (penulis Bulugul Marom dan Fathul Baari ; cmiiw) pernah merasa 
  putus asa karena kesulitan menangkap pelajaran yang diberikan, begitu 
  juga dengan James Watt penemu mesin uap yang sempat dikeluarkan dari 
  sekolah sewaktu masih kecil.
  > 
  > Setiap pembelajaran memerlukan sebuah yang metode tidak hanya dalam 
  menguraikan masalah tetapi juga dalam merangkai sebuah jawaban dan 
  kita juga harus menyadari bahwa sebuah keluaran (output) jauh lebih 
  penting daripada sebuah masukan (input) karena keluaran jelas akan 
  melibatkan pihak lain. Masukan yang diterima oleh Rasulullah 
  Shallallahu Alaihi Wassallam berupa wahyu diterima dalam berbagai 
  cara yang terkadang sangat melelahkan (seperti denting lonceng yang 
  membuat tubuh beliau menggigil) dikeluarkan dalam perkataan dan 
  perbuatan beliau yang begitu santun.
  > 
  > Ketika kita merangkai pengetahuan yang telah kita miliki yang 
  membentuk suatu konsep yang kita beri nama Islam, maka pertanyaannya 
  adalah apakah Islam yang telah kita pahami adalah Islam yang 
  seseungguhnya dimaksudkan oleh Allah ? atau kita harus membalik 
  metode ini dimana kita dituntut untuk mengetahui dahulu konsep Islam 
  secara utuh baru kemudian kita dalami dan jalani sebagai sebuah 
  kerangka berfikir. Lalu ketika pertayaan di tingkatkan yaitu untuk 
  apa Islam di turunkan ? apakah sebagai rahmatan lil 'alamin yang 
  mencakup seluruh mahluk hidup yang ada di muka bumi ini beserta isi 
  dari alam semesta atau sekedar rahmatan lil muslimin yang berujung 
  pada syurga dan yang bukan akan berakhir di neraka ? Jika rahmatan 
  lil 'alamin maka ajakanlah jawabannya sedangkan yang berfikir hanya 
  rahmatan lil muslimin maka penyangkalan-penyangkalan yang menjadi 
  dampaknya.
  > 
  > Apa yang kita lakukan hari ini adalah buah dari pemahaman kita 
  terhadap pengetahuan yang kita miliki yang berasal dari berbagai 
  kumpulan informasi baik berupa buku, artikel , tulisan, televisi, 
  majalah maupun mendengarkan pengajian walaupun informasi tersebut 
  belum tentu saling mendukung. Didalam artikel saya 
  terdahulu "Relatifitas sebuah Kesepakatan" saya sempat menjelaskan 
  bahwa terkadang kebenaran yang kita yakini itu bisa berasal dari 
  sebuah kesepakatan, seperti kesepakatan para ulama bahwa hadist 
  sahih dari Bukhari adalah yang paling utama yang di tinjau dari 
  keketatan beliau dalam meriwayatkan hadist. pertanyaanya apakah hasil 
  dari kesepakatan itu adalah kebenaran mutlak ? belum tentu. namun 
  demikian sebelum ada yang bisa melemahkannya sandaran itu harus tetap 
  di pakai karena dalam kaidah ilmu seribu hipotesa belum tentu bisa 
  menjadi sandaran kebenaran sebaliknya cukup satu penyangkalan yang 
  berdasar untuk menjadikannya di ragukan.
  > 
  > 
  > Salam
  > 
  > David
  >



   

Kirim email ke