---------- Forwarded message ----------
From: Assamar Asrar <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Jul 31, 2008 5:01 PM
Subject: [syiar-islam] Tasawuf dan Pengkultusan Rasulullah Sallallahu alaihi
wa sallam
To: Syiar Islam <[EMAIL PROTECTED]>, Sjachrul Firdaus <
[EMAIL PROTECTED]>, Berry Antonio <[EMAIL PROTECTED]>, Meta
Meta <[EMAIL PROTECTED]>, Edi Sugito <[EMAIL PROTECTED]>,
[EMAIL PROTECTED], Asep Wahyu <[EMAIL PROTECTED]>, Baharuddin
Bahar <[EMAIL PROTECTED]>, Hani Hani <[EMAIL PROTECTED]>

  Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam adalah sebaik-baik manusia, tidak
ada yang melebihi beliau dalam hal kemuliaan dan kehormatan. Oleh karena
itu, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan beliau sebagai suri tauladan
terbaik bagi umat manusia. Allah berfirman (artinya): "Sungguh telah ada
pada diri Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam itu suri tauladan bagi
kalian." (Al Ahzab: 21)

Beliaulah yang harus kita cintai melebihi kecintaan terhadap diri kita
sendiri, orang tua, anak, istri dan seluruh umat manusia. Namun Rasulullah
Shalallahu'alaihi Wassallam melarang umatnya dari sikap berlebihan,
terkhusus sikap pengkultusan terhadap diri beliau Shalallahu'alaihi
Wassallam. Sebagaimana beliau bersabda:
لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مِرْيَمَ ، إِنَّمَا أَنَا
عَبْدٌ ، فَقُوْلُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ
"Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani
mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka
katakanlah: "(Aku adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya." (H.R Al Bukhari)
Sangatlah disayangkan ternyata kaum Sufi merupakan kaum yang paling gencar
melanggar perintah Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam tersebut. Sekian
banyak bukti pengkultusan mereka terhadap Rasulullah Shalallahu'alaihi
Wassallam
terdapat dalam karya tulis tokoh-tokoh tersohor mereka. Sampai-sampai
pengkultusan tersebut menjerumuskan mereka ke dalam jurang kesyirikan, baik
dalam hal rububiyah, uluhiyah, ataupun asma' wa sifat.

DIANTARA BUKTI PENGKULTUSAN KAUM SUFI TERHADAP RASUL Shalallahu'alaihi
Wassallam

Gambaran pengkultusan kaum Sufi terhadap Rasulullah Shalallahu'alaihi
Wassallam sangatlah beraneka ragam, yang kesemuanya bermuara dari kedustaan,
khayalan atau kebodohan. Dapatlah kita simak gambaran-gambaran tersebut
melalui bukti-bukti berikut ini :
1. Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam Diciptakan Dari Nur (Cahaya) Allah
Subhanahu Wa Ta'ala

Diantara tokoh Sufi yang berpendapat demikian adalah Ibnu Arabi di dalam Al
Futuhat Al Makkiyyah 1/119, Abdul Karim Al Jaili di dalam Al Insaanul Kaamil
2/46 dan beberapa yang lainnya.
Demi memudahkan penyebaran aqidah sesat ini, mereka memunculkan hadits yang
tidak diketahui asal usulnya yang didustakan atas nama Rasulullah
Shalallahu'alaihi Wassallam yaitu:
أَنَّ اللهَ تَعَالى خَلَقَ نُوْرِ نَبِيِّهِ مِنْ نُوْرِهِ
"Bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan cahaya nabi-Nya dari
cahaya-Nya"
Allah Subhanahu Wa Ta'ala membantah keyakinan keji ini dengan menyatakan
bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam adalah seorang manusia
sedangkan manusia itu diciptakan dari tanah bukan dari cahaya. Allah
berfirman (artinya):
"Katakanlah (wahai Muhammad) :" Maha Suci Tuhanku, aku tidak lain adalah
seorang manusia dan rasul." (Al Israa': 93)

Dia juga berfirman (artinya): "Dan Allah menciptakan kalian (manusia) dari
tanah, kemudian nuthfah lalu menjadikan kalian berpasang-pasangan."
(Faathir: 11)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa Nabi
Shalallahu'alaihi Wassallam diciptakan dari unsur tanah dan tidak ada
satupun manusia yang diciptakan dari cahaya. Disamping itu, keutamaan
sebagian makhluk dibanding makhluk lainnya bukanlah karena unsur
diciptakannya. Bahkan Nabi Adam beserta anak keturunannya yang shalih itu
lebih utama dari malaikat walaupun malaikat tersebut diciptakan dari cahaya.
(Disarikan dari Majmu' Fatawa 11/94-95)

2. Seluruh Alam Semesta Diciptakan Dari Nur (cahaya) Muhammad (Aqidah Nur
Muhammadi)
Abdul Karim Al Jaili berkata: "Dan tatkala Allah Subhanahu Wa Ta'ala
menciptakan seluruh alam semesta ini dari nur Muhammad, maka hati Muhammad
Shalallahu'alaihi Wassallam itu merupakan bagian yang malaikat Israfil
diciptakan darinya –lalu dia mengatakan– sesungguhnya Al Aqlu Al Awwal yaitu
Muhammad Shalallahu'alaihi Wassallam, Allah ciptakan darinya Jibril
sehingga Muhammad Shalallahu'alaihi Wassallam adalah ayah Jibril dan asal
usul dari seluruh alam." (Al Insaanul Kaamil 2/26-27).
Dari dua jenis keyakinan kufur ini, dapat disimpulkan bahwa Allah
menciptakan Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam dari cahaya-Nya,
kemudian dari cahaya tersebut terciptalah seluruh alam semesta. Sehingga
tidaklah yang ada di alam semesta ini melainkan bagian dari Dzat Allah
Subhanahu Wa Ta'ala. Muncullah dari sini keterkaitan kedua keyakinan itu
dengan aqidah Manunggaling Kawula Gusti. Sebuah skenario yang benar-benar
keji. Wallahul Musta'an!!

3. Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam Memiliki Beberapa Sifat Ketuhanan
(Rububiyyah) Sehingga Berhak Diibadahi
Keyakinan kufur ini tidaklah terlepas dari konsekuensi yang diraih ketika
mereka menyatakan tentang aqidah Manunggaling Kawula Gusti. Dan inilah yang
ditegaskan sendiri oleh pujangga-pujangga syair tersohor mereka.
Al Bushiri berkata di dalam syairnya yang terkenal:
Maka sesungguhnya diantara kedermawananmu (Muhammad) adalah adanya dunia dan
akhirat
Dan diantara ilmumu adalah ilmu tentang Lauhul Mahfudh dan Al Qalam (yaitu
ilmu tentang segala takdir di alam semesta ini)
(Burdatul Madiih hal. 35 yang terkenal dengan Qasidah Burdah).
Yusuf An Nabhani menukil perkataan Syamsuddin At Tuwaji Al Mishri:
Wahai utusan Allah, sesungguhnya aku ini lemah
Maka sembuhkanlah aku karena sesungguhnya engkau adalah pangkal kesembuhan
Wahai utusan Allah, bila engkau tidak menolongku
Maka pada siapa lagi menurutmu aku akan bersandar
(Syawaahidul Haq hal. 352)
Betapa jauhnya penyimpangan mereka dari aqidah yang benar?!!, padahal Allah
Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (artinya):
"Katakanlah (wahai Muhammad): "Aku tidaklah memiliki manfaat atau dapat
mencegah bahaya dari diriku sendiri kecuali yang Allah kehendaki. Kalau
seandainya aku mengetahui yang ghaib maka tentunya aku dapat memperbanyak
kebaikan untukku dan tidak ada satupun bahaya yang menimpaku". (Al
A'raaf:188)

"Dan bila Allah menimpakan kepadamu suatu kejelekan maka tidak akan ada yang
dapat menghilangkannya kecuali Dia saja. Dan apabila Dia mendatangkan
kebaikan kepadamu maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu". (Al An'aam:17)

4. Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam Dapat Dilihat Di Dunia Dalam
Keadaan Terjaga (Setelah Beliau Meninggal Dunia)
Keyakinan ini mereka ambil berdasarkan hikayat-hikayat dusta yang berasal
dari tokoh-tokoh tarekat mereka.
Asy Sya'rani menyatakan bahwa Abul Mawaahib Asy Syadzali berkata: "Aku
pernah melihat Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam lalu berkata kepadaku
tentang diri beliau: "Aku sebenarnya tidaklah mati. Hanyalah kematianku
(sekarang ini) sebagai persembunyianku dari orang-orang yang tidak mengerti
tentang Allah." Maka akupun melihat beliau dan beliaupun melihat aku."
(Thabaqatul Kubra 2/69 karya Asy Sya'rani).
Bahkan dengan tegas Abul Mawaahib membawakan sabda Nabi Shalallahu'alaihi
Wassallam
dengan dusta bahwa barangsiapa yang tidak percaya dengan pertemuan dirinya
dengan beliau, kemudian dia mati, maka dia mati dalam keadaan sebagai
seorang Yahudi, Nashrani atau Majusi!! (Thabaqatul Kubra 2/67)
Sebagian murid Khaujili bin Abdirrahman (seorang tokoh Sufi jaman ini)
menceritakan bahwa gurunya ini pernah melihat Rasulullah sebanyak 24 kali
dalam sehari sedangkan dia dalam keadaan sadar. (Thabaqat Ibni Dhaifillah
hal. 190)
Hikayat-hikayat yang mereka ceritakan ini sebenarnya mengandung beberapa
perkara yang batil, diantaranya:
a. Jasad Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam yang ada di kubur dapat
kembali ke alam dunia. Padahal Allah Subhanahu Wa Taala berfirman
(artinya): "Dan di belakang mereka terdapat dinding (pemisah antara alam
kubur dengan alam dunia) sampai hari mereka dibangkitkan (hari kiamat)". (Al
Mu'minuun: 100)
b. Rasulullah sekarang ini tidak meninggal dunia. Allah Subhanahu Wa Taala
membantah hal ini dengan firman-Nya (artinya): "Sesungguhnya engkau
(Muhammad) akan mati dan merekapun akan mati (pula)." (Az Zumar: 30)
Kedua kandungan ini cukuplah sebagai bukti tentang sikap berlebihan
(pengkultusan) mereka terhadap pribadi Rasulullah Shalallahu'alaihi
Wassallam.

Ketika aqidah rusak mereka ini mulai terkuak, maka muncullah beragam
pendapat lagi di dalam mengkaburkan maksud kalimat "melihat Rasulullah
Shalallahu'alaihi Wassallam dalam keadaan terjaga". Diantara mereka ada yang
mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam bisa dilihat dengan
menjelma sebagai seorang syaikh terekat mereka, bahwa Rasulullah
Shalallahu'alaihi Wassallam bisa dilihat dengan mata hati bukan mata kepala,
Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam bisa dilihat dalam keadaan antara
tidur dan terjaga ataupun yang dilihat itu adalah ruh beliau bukan jasadnya.
Pendapat terakhir ini diucapkan oleh tokoh Sufi jaman sekarang yaitu
Muhammad Alwi Al Maliki dalam kitab Adz Dzakhaa'ir Al Muhammadiyah hal. 259
(Khasha'ishul Musthafa hal. 217-218).

Ternyata keyakinan ini –yang sebenarnya telah terkuak kebatilannya–
dijadikan kaum Sufi sebagai salah satu jembatan untuk memunculkan
ajaran-ajaran baru (bid'ah) yang belum pernah diajarkan Rasulullah
Shalallahu'alaihi Wassallam di masa beliau masih bersama para sahabatnya
dahulu. Satu lagi skenario jahat untuk menodai ajaran agama suci ini.

Demikian pula pernyataan sesat yang dilontarkan Umar Al Fuuti bahwa Ahmad At
Tijani (pendiri tarekat At Tijaniyah) pernah diijinkan Rasulullah
Shalallahu'alaihi Wassallam untuk mengajari manusia setelah bersemedi,
kemudian beliau menetapkan sebuah wirid tertentu kepada dirinya, yang
sebelumnya beliau mengabarkan tentang kedudukan Ahmad At Tijani yang tinggi,
keutamaan wirid tersebut dan janji Allah kepada siapa saja yang mencintai
Ahmad At Tijani dari kalangan pengikutnya (Rimaahu Hizbirrahiim 1/191).

Muhammad As Sayyid At Tijani mengungkapkan bahwa Rasulullah
Shalallahu'alaihi Wassallam bersama para Al Khulafaur Rasyidin pernah
menghadiri majelis wirid Ahmad At Tijani. Lalu beliau Shalallahu'alaihi
Wassallam memberikan syafa'at kepada hadirin ketika itu. (Al Hidayah Ar
Rabbaniyah hal. 12)

WIRID-WIRID BID'AH KAUM SUFI
Mereka tidak hanya menuangkan pengkultusan Rasulullah Shalallahu'alaihi
Wassallam melalui pendapat ataupun untaian-untaian syair saja, tetapi juga
melalui wirid dalam bentuk shalawat nabi. Bahkan, dengan shalawat inilah
banyak sekali kaum muslimin –walaupun tidak terikat dengan ajaran mereka–
terjatuh ke dalam jeratan mereka. Hal ini disebabkan beberapa perkara,
diantaranya:

a. Mereka tidak jarang membawakan ayat-ayat ataupun hadits-hadits shahih
yang masih bersifat umum yang menganjurkan seorang muslim untuk bershalawat
atau berdzikir.
b. Hikayat-hikayat dusta yang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan
membaca shalawat tertentu.

Di antara shalawat yang sangat terkenal di tengah kaum muslimin adalah
shalawat Al Faatih yang apabila membacanya mendapatkan keutamaan seperti
membaca Al Qur'an sebanyak 6000 kali, shalawat Nariyah yang apabila
membacanya sebanyak 4444 kali maka hajatnya akan terpenuhi atau terlepas
dari kesulitan, dan juga beberapa shalawat lainnya yang kental dengan nuansa
kesyirikan di dalam kitab Dalaailul Khairaat karya Muhammad bin Sulaiman Al
Jazuli yang sering dibaca sebagian kaum muslimin terutama pada hari Jum'at.
(Untuk lebih rincinya, insya Allah akan diangkat topik "Sufi dan
Shalawat-shalawat Bid'ah Mereka")

HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU YANG TERSEBAR DI KALANGAN UMAT
Hadits Ibnu Umar  :
مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ
"Barangsiapa yang menziarahi kuburku maka berhak baginya syafa'atku"
Keterangan:
Hadits ini mungkar karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang
bernama Musa bin Hilal Al 'Abdi. Beberapa ulama ahli hadits seperti Abu
Hatim, Al Bukhari, An Nasai, Al Hakim, Ibnu Abdil Hadi, Ibnu Hajar dan Al
Baihaqi sendiri (yang meriwayatkan hadits tersebut) mengkritik perawi
tersebut. Asy Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits tersebut mungkar.
(Irwa'ul Ghalil no. 1128)

Hadits-hadits yang semakna dengan hadits di atas kerapkali dibawakan para
tokoh Sufi didalam mengajak kaum muslimin untuk meyakini adanya keutamaan
tertentu di dalam menziarahi makam beliau, sampai akhirnya mengkultuskan
beliau seperti bertawasul atau berdoa kepada beliau dan mengkeramatkan makam
beliau.
Adapun ziarah ke kubur beliau dan juga selain beliau maka hal ini
diperbolehkan selama dengan tujuan dan cara yang diajarkan Rasulullah
Shalallahu'alaihi Wassallam.

(Sumber : Buletin Islam Al Ilmu Edisi 49/II/III/ 1426, Jember.

[Non-text portions of this message have been removed]




-- 
Roosdiana

Kirim email ke