"Bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan cahaya nabi-Nya 

dari

> cahaya-Nya"
Maha benar Engkau Tuhanku...tambahkan bagi kami ilmu...Amiiin


> Allah Subhanahu Wa Ta'ala membantah keyakinan keji ini dengan 

menyatakan

> bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam adalah seorang manusia

> sedangkan manusia itu diciptakan dari tanah bukan dari cahaya. Allah

> berfirman (artinya):

> "Katakanlah (wahai Muhammad) :" Maha Suci Tuhanku, aku tidak lain 

adalah

> seorang manusia dan rasul." (Al Israa': 93)
Maha benar Allah dalam Firman dan ketetapan-Nya, sesungguhnya kami ini lemah
dan terhijab dengan ilmu....
Kawan-kawan, sekedar sharing aja,berkaitan dengan hal ini, saya baca buku yang 
bagus, "perisai gaib"
yang ditulis oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, semoga bermanfaat....




--- On Wed, 8/6/08, hudan_ibnul_iman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: hudan_ibnul_iman <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [tqn] Re: Fwd: [syiar-islam] Tasawuf dan Pengkultusan Rasulullah 
Sallallahu alaihi wa sallam
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 6, 2008, 12:43 AM










    
            tema dan isi dibawah ini, adalah berasal dari kaum anti tarekat.

Pengkultusan itu perlu, karena fitrah manusia.



Akibat kultus tidak diperbolehkan:

-Tidak ada yang patuh murid kepada guru,

-tidak ada yang patuh anak kepada orang tua,

-tidak ada yang patuh rakyat kepada pemimpin,

-tidak ada yang patuh umat kepada pewaris nabi, dll.



Pengkultusan yang dilarang, seperti yang dikatakan Nabi SAW adalah 

menganggap Nabi Isa AS adalah anak Tuhan, sedangkan kaum tarekat 

berbuat tidak demikian.



Sebagai kaum tarekat, mari pandai-pandai memilah-milah, mana lebih 

lurus jalannya, bukan mana yang lebih benar.



Allah mengajarkan do'a kepada kita,:"Ihdinasy- syiraathal 

mustaqim" "tunjukilah kami ke jalan yang lurus".



"Kebenaran" itu bersifat relatif, benar kata suku Dayak yang pakai 

koteka, benar kata orang barat yang pakai Jas, benar kata orang 

Jepang yang pakai kimono, benar kata orang jawa yang pakai blangkon, 

apakah benar kata Nabi Muhammad SAW yang pakai gamis dan sorban.



So, benar kata ulama tarekat belum tentu benar kata ulama anti 

tarekat.



Kecintaan manusia terhadap sesuatu, akan melihat sesuatu itu lebih 

berkilau dari wujud sebenarnya.



Seseorang yang cinta kepada Nabi SAW, melihat Nabi seperti Cahaya 

yang berkilau. Bagaimana yang katanya umat Nabi Muhammad SAW, tapi 

menganggap beliau manusia biasa pada umumnya.



Salam.

 

--- In [EMAIL PROTECTED] com, "Roosdiana Ischak" <roosdiana.ischak@ ...> 

wrote:

>

> ---------- Forwarded message ----------

> From: Assamar Asrar <[EMAIL PROTECTED] ..>

> Date: Jul 31, 2008 5:01 PM

> Subject: [syiar-islam] Tasawuf dan Pengkultusan Rasulullah 

Sallallahu alaihi

> wa sallam

> To: Syiar Islam <syiar-islam@ yahoogroups. com>, Sjachrul Firdaus <

> sjachrulfirdaus@ ...>, Berry Antonio <dewadwipangga@ ...>, Meta

> Meta <[EMAIL PROTECTED] ..>, Edi Sugito <edidie_coy@ ...>,

> [EMAIL PROTECTED], Asep Wahyu <wye_mxblue@ ...>, Baharuddin

> Bahar <udinbaharuddin@ ...>, Hani Hani <[EMAIL PROTECTED]>

> 

>   Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam adalah sebaik-baik 

manusia, tidak

> ada yang melebihi beliau dalam hal kemuliaan dan kehormatan. Oleh 

karena

> itu, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan beliau sebagai suri 

tauladan

> terbaik bagi umat manusia. Allah berfirman (artinya): "Sungguh 

telah ada

> pada diri Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam itu suri tauladan 

bagi

> kalian." (Al Ahzab: 21)

> 

> Beliaulah yang harus kita cintai melebihi kecintaan terhadap diri 

kita

> sendiri, orang tua, anak, istri dan seluruh umat manusia. Namun 

Rasulullah

> Shalallahu'alaihi Wassallam melarang umatnya dari sikap berlebihan,

> terkhusus sikap pengkultusan terhadap diri beliau Shalallahu'alaihi

> Wassallam. Sebagaimana beliau bersabda:

> لاَ تÙ�Ø·Ù'رÙ�ÙˆÙ'Ù†Ù�ÙŠÙ' كَمَا Ø£ÙŽØ·Ù'رَتÙ� 

النÙ`َصَارَى ابÙ'Ù†ÙŽ Ù…Ù�رÙ'ÙŠÙŽÙ…ÙŽ ØŒ Ø¥Ù�Ù†Ù`ÙŽÙ…

َا أَنَا

> عَبÙ'دٌ ØŒ Ù�ÙŽÙ‚Ù�ÙˆÙ'Ù„Ù�وا عَبÙ'دÙ� اللهÙ� 

وَرَسÙ�ÙˆÙ'Ù„Ù�Ù‡Ù�

> "Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang 

Nasrani

> mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka

> katakanlah: "(Aku adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya." (H.R Al 

Bukhari)

> Sangatlah disayangkan ternyata kaum Sufi merupakan kaum yang paling 

gencar

> melanggar perintah Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam tersebut. 

Sekian

> banyak bukti pengkultusan mereka terhadap Rasulullah 

Shalallahu'alaihi

> Wassallam

> terdapat dalam karya tulis tokoh-tokoh tersohor mereka. Sampai-

sampai

> pengkultusan tersebut menjerumuskan mereka ke dalam jurang 

kesyirikan, baik

> dalam hal rububiyah, uluhiyah, ataupun asma' wa sifat.

> 

> DIANTARA BUKTI PENGKULTUSAN KAUM SUFI TERHADAP RASUL 

Shalallahu'alaihi

> Wassallam

> 

> Gambaran pengkultusan kaum Sufi terhadap Rasulullah 

Shalallahu'alaihi

> Wassallam sangatlah beraneka ragam, yang kesemuanya bermuara dari 

kedustaan,

> khayalan atau kebodohan. Dapatlah kita simak gambaran-gambaran 

tersebut

> melalui bukti-bukti berikut ini :

> 1. Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam Diciptakan Dari Nur 

(Cahaya) Allah

> Subhanahu Wa Ta'ala

> 

> Diantara tokoh Sufi yang berpendapat demikian adalah Ibnu Arabi di 

dalam Al

> Futuhat Al Makkiyyah 1/119, Abdul Karim Al Jaili di dalam Al 

Insaanul Kaamil

> 2/46 dan beberapa yang lainnya.

> Demi memudahkan penyebaran aqidah sesat ini, mereka memunculkan 

hadits yang

> tidak diketahui asal usulnya yang didustakan atas nama Rasulullah

> Shalallahu'alaihi Wassallam yaitu:

> Ø£ÙŽÙ†Ù`ÙŽ اللهَ تَعَالى خَلَقَ Ù†Ù�ÙˆÙ'رÙ� 

نَبÙ�ÙŠÙ`Ù�Ù‡Ù� Ù…Ù�Ù†Ù' Ù†Ù�ÙˆÙ'رÙ�Ù‡Ù�

> "Bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan cahaya nabi-Nya 

dari

> cahaya-Nya"

> Allah Subhanahu Wa Ta'ala membantah keyakinan keji ini dengan 

menyatakan

> bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam adalah seorang manusia

> sedangkan manusia itu diciptakan dari tanah bukan dari cahaya. Allah

> berfirman (artinya):

> "Katakanlah (wahai Muhammad) :" Maha Suci Tuhanku, aku tidak lain 

adalah

> seorang manusia dan rasul." (Al Israa': 93)

> 

> Dia juga berfirman (artinya): "Dan Allah menciptakan kalian 

(manusia) dari

> tanah, kemudian nuthfah lalu menjadikan kalian berpasang-pasangan. "

> (Faathir: 11)

> 

> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa Nabi

> Shalallahu'alaihi Wassallam diciptakan dari unsur tanah dan tidak 

ada

> satupun manusia yang diciptakan dari cahaya. Disamping itu, 

keutamaan

> sebagian makhluk dibanding makhluk lainnya bukanlah karena unsur

> diciptakannya. Bahkan Nabi Adam beserta anak keturunannya yang 

shalih itu

> lebih utama dari malaikat walaupun malaikat tersebut diciptakan 

dari cahaya.

> (Disarikan dari Majmu' Fatawa 11/94-95)

> 

> 2. Seluruh Alam Semesta Diciptakan Dari Nur (cahaya) Muhammad 

(Aqidah Nur

> Muhammadi)

> Abdul Karim Al Jaili berkata: "Dan tatkala Allah Subhanahu Wa Ta'ala

> menciptakan seluruh alam semesta ini dari nur Muhammad, maka hati 

Muhammad

> Shalallahu'alaihi Wassallam itu merupakan bagian yang malaikat 

Israfil

> diciptakan darinya â€"lalu dia mengatakanâ€" sesungguhnya Al Aqlu 

Al Awwal yaitu

> Muhammad Shalallahu'alaihi Wassallam, Allah ciptakan darinya 

Jibril

> sehingga Muhammad Shalallahu'alaihi Wassallam adalah ayah Jibril 

dan asal

> usul dari seluruh alam." (Al Insaanul Kaamil 2/26-27).

> Dari dua jenis keyakinan kufur ini, dapat disimpulkan bahwa Allah

> menciptakan Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam dari cahaya-

Nya,

> kemudian dari cahaya tersebut terciptalah seluruh alam semesta. 

Sehingga

> tidaklah yang ada di alam semesta ini melainkan bagian dari Dzat 

Allah

> Subhanahu Wa Ta'ala. Muncullah dari sini keterkaitan kedua 

keyakinan itu

> dengan aqidah Manunggaling Kawula Gusti. Sebuah skenario yang benar-

benar

> keji. Wallahul Musta'an!!

> 

> 3. Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam Memiliki Beberapa 

Sifat Ketuhanan

> (Rububiyyah) Sehingga Berhak Diibadahi

> Keyakinan kufur ini tidaklah terlepas dari konsekuensi yang diraih 

ketika

> mereka menyatakan tentang aqidah Manunggaling Kawula Gusti. Dan 

inilah yang

> ditegaskan sendiri oleh pujangga-pujangga syair tersohor mereka.

> Al Bushiri berkata di dalam syairnya yang terkenal:

> Maka sesungguhnya diantara kedermawananmu (Muhammad) adalah adanya 

dunia dan

> akhirat

> Dan diantara ilmumu adalah ilmu tentang Lauhul Mahfudh dan Al Qalam 

(yaitu

> ilmu tentang segala takdir di alam semesta ini)

> (Burdatul Madiih hal. 35 yang terkenal dengan Qasidah Burdah).

> Yusuf An Nabhani menukil perkataan Syamsuddin At Tuwaji Al Mishri:

> Wahai utusan Allah, sesungguhnya aku ini lemah

> Maka sembuhkanlah aku karena sesungguhnya engkau adalah pangkal 

kesembuhan

> Wahai utusan Allah, bila engkau tidak menolongku

> Maka pada siapa lagi menurutmu aku akan bersandar

> (Syawaahidul Haq hal. 352)

> Betapa jauhnya penyimpangan mereka dari aqidah yang benar?!!, 

padahal Allah

> Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (artinya):

> "Katakanlah (wahai Muhammad): "Aku tidaklah memiliki manfaat atau 

dapat

> mencegah bahaya dari diriku sendiri kecuali yang Allah kehendaki. 

Kalau

> seandainya aku mengetahui yang ghaib maka tentunya aku dapat 

memperbanyak

> kebaikan untukku dan tidak ada satupun bahaya yang menimpaku". (Al

> A'raaf:188)

> 

> "Dan bila Allah menimpakan kepadamu suatu kejelekan maka tidak akan 

ada yang

> dapat menghilangkannya kecuali Dia saja. Dan apabila Dia 

mendatangkan

> kebaikan kepadamu maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu". (Al 

An'aam:17)

> 

> 4. Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam Dapat Dilihat Di Dunia 

Dalam

> Keadaan Terjaga (Setelah Beliau Meninggal Dunia)

> Keyakinan ini mereka ambil berdasarkan hikayat-hikayat dusta yang 

berasal

> dari tokoh-tokoh tarekat mereka.

> Asy Sya'rani menyatakan bahwa Abul Mawaahib Asy Syadzali 

berkata: "Aku

> pernah melihat Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam lalu 

berkata kepadaku

> tentang diri beliau: "Aku sebenarnya tidaklah mati. Hanyalah 

kematianku

> (sekarang ini) sebagai persembunyianku dari orang-orang yang tidak 

mengerti

> tentang Allah." Maka akupun melihat beliau dan beliaupun melihat 

aku."

> (Thabaqatul Kubra 2/69 karya Asy Sya'rani).

> Bahkan dengan tegas Abul Mawaahib membawakan sabda Nabi 

Shalallahu'alaihi

> Wassallam

> dengan dusta bahwa barangsiapa yang tidak percaya dengan pertemuan 

dirinya

> dengan beliau, kemudian dia mati, maka dia mati dalam keadaan 

sebagai

> seorang Yahudi, Nashrani atau Majusi!! (Thabaqatul Kubra 2/67)

> Sebagian murid Khaujili bin Abdirrahman (seorang tokoh Sufi jaman 

ini)

> menceritakan bahwa gurunya ini pernah melihat Rasulullah 

sebanyak 24 kali

> dalam sehari sedangkan dia dalam keadaan sadar. (Thabaqat Ibni 

Dhaifillah

> hal. 190)

> Hikayat-hikayat yang mereka ceritakan ini sebenarnya mengandung 

beberapa

> perkara yang batil, diantaranya:

> a. Jasad Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam yang ada di kubur 

dapat

> kembali ke alam dunia. Padahal Allah Subhanahu Wa Taï‚'ala berfirman

> (artinya): "Dan di belakang mereka terdapat dinding (pemisah antara 

alam

> kubur dengan alam dunia) sampai hari mereka dibangkitkan (hari 

kiamat)". (Al

> Mu'minuun: 100)

> b. Rasulullah sekarang ini tidak meninggal dunia. Allah 

Subhanahu Wa Taï‚'ala

> membantah hal ini dengan firman-Nya (artinya): "Sesungguhnya engkau

> (Muhammad) akan mati dan merekapun akan mati (pula)." (Az Zumar: 30)

> Kedua kandungan ini cukuplah sebagai bukti tentang sikap berlebihan

> (pengkultusan) mereka terhadap pribadi Rasulullah 

Shalallahu'alaihi

> Wassallam.

> 

> Ketika aqidah rusak mereka ini mulai terkuak, maka muncullah beragam

> pendapat lagi di dalam mengkaburkan maksud kalimat "melihat 

Rasulullah

> Shalallahu'alaihi Wassallam dalam keadaan terjaga". Diantara mereka 

ada yang

> mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam bisa 

dilihat dengan

> menjelma sebagai seorang syaikh terekat mereka, bahwa Rasulullah

> Shalallahu'alaihi Wassallam bisa dilihat dengan mata hati bukan 

mata kepala,

> Rasulullah Shalallahu'alaihi Wassallam bisa dilihat dalam 

keadaan antara

> tidur dan terjaga ataupun yang dilihat itu adalah ruh beliau bukan 

jasadnya.

> Pendapat terakhir ini diucapkan oleh tokoh Sufi jaman sekarang yaitu

> Muhammad Alwi Al Maliki dalam kitab Adz Dzakhaa'ir Al Muhammadiyah 

hal. 259

> (Khasha'ishul Musthafa hal. 217-218).

> 

> Ternyata keyakinan ini â€"yang sebenarnya telah terkuak 

kebatilannyaâ€"

> dijadikan kaum Sufi sebagai salah satu jembatan untuk memunculkan

> ajaran-ajaran baru (bid'ah) yang belum pernah diajarkan 

Rasulullah

> Shalallahu'alaihi Wassallam di masa beliau masih bersama para 

sahabatnya

> dahulu. Satu lagi skenario jahat untuk menodai ajaran agama suci 

ini.

> 

> Demikian pula pernyataan sesat yang dilontarkan Umar Al Fuuti bahwa 

Ahmad At

> Tijani (pendiri tarekat At Tijaniyah) pernah diijinkan Rasulullah

> Shalallahu'alaihi Wassallam untuk mengajari manusia setelah 

bersemedi,

> kemudian beliau menetapkan sebuah wirid tertentu kepada dirinya, 

yang

> sebelumnya beliau mengabarkan tentang kedudukan Ahmad At Tijani 

yang tinggi,

> keutamaan wirid tersebut dan janji Allah kepada siapa saja yang 

mencintai

> Ahmad At Tijani dari kalangan pengikutnya (Rimaahu Hizbirrahiim 

1/191).

> 

> Muhammad As Sayyid At Tijani mengungkapkan bahwa Rasulullah

> Shalallahu'alaihi Wassallam bersama para Al Khulafaur Rasyidin 

pernah

> menghadiri majelis wirid Ahmad At Tijani. Lalu beliau 

Shalallahu'alaihi

> Wassallam memberikan syafa'at kepada hadirin ketika itu. (Al 

Hidayah Ar

> Rabbaniyah hal. 12)

> 

> WIRID-WIRID BID'AH KAUM SUFI

> Mereka tidak hanya menuangkan pengkultusan Rasulullah 

Shalallahu'alaihi

> Wassallam melalui pendapat ataupun untaian-untaian syair saja, 

tetapi juga

> melalui wirid dalam bentuk shalawat nabi. Bahkan, dengan shalawat 

inilah

> banyak sekali kaum muslimin â€"walaupun tidak terikat dengan ajaran 

merekaâ€"

> terjatuh ke dalam jeratan mereka. Hal ini disebabkan beberapa 

perkara,

> diantaranya:

> 

> a. Mereka tidak jarang membawakan ayat-ayat ataupun hadits-hadits 

shahih

> yang masih bersifat umum yang menganjurkan seorang muslim untuk 

bershalawat

> atau berdzikir.

> b. Hikayat-hikayat dusta yang menceritakan tentang keutamaan-

keutamaan

> membaca shalawat tertentu.

> 

> Di antara shalawat yang sangat terkenal di tengah kaum muslimin 

adalah

> shalawat Al Faatih yang apabila membacanya mendapatkan keutamaan 

seperti

> membaca Al Qur'an sebanyak 6000 kali, shalawat Nariyah yang apabila

> membacanya sebanyak 4444 kali maka hajatnya akan terpenuhi atau 

terlepas

> dari kesulitan, dan juga beberapa shalawat lainnya yang kental 

dengan nuansa

> kesyirikan di dalam kitab Dalaailul Khairaat karya Muhammad bin 

Sulaiman Al

> Jazuli yang sering dibaca sebagian kaum muslimin terutama pada hari 

Jum'at.

> (Untuk lebih rincinya, insya Allah akan diangkat topik "Sufi dan

> Shalawat-shalawat Bid'ah Mereka")

> 

> HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU YANG TERSEBAR DI KALANGAN UMAT

> Hadits Ibnu Umar � :

> Ù…ÙŽÙ†Ù' زَارَ قَبÙ'رÙ�ÙŠÙ' وَجَبَتÙ' Ù„ÙŽÙ‡Ù� 

Ø´ÙŽÙ�َاعَتÙ�ÙŠÙ'

> "Barangsiapa yang menziarahi kuburku maka berhak baginya syafa'atku"

> Keterangan:

> Hadits ini mungkar karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi 

yang

> bernama Musa bin Hilal Al 'Abdi. Beberapa ulama ahli hadits seperti 

Abu

> Hatim, Al Bukhari, An Nasai, Al Hakim, Ibnu Abdil Hadi, Ibnu Hajar 

dan Al

> Baihaqi sendiri (yang meriwayatkan hadits tersebut) mengkritik 

perawi

> tersebut. Asy Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits tersebut 

mungkar.

> (Irwa'ul Ghalil no. 1128)

> 

> Hadits-hadits yang semakna dengan hadits di atas kerapkali 

dibawakan para

> tokoh Sufi didalam mengajak kaum muslimin untuk meyakini adanya 

keutamaan

> tertentu di dalam menziarahi makam beliau, sampai akhirnya 

mengkultuskan

> beliau seperti bertawasul atau berdoa kepada beliau dan 

mengkeramatkan makam

> beliau.

> Adapun ziarah ke kubur beliau dan juga selain beliau maka hal ini

> diperbolehkan selama dengan tujuan dan cara yang diajarkan 

Rasulullah

> Shalallahu'alaihi Wassallam.

> 

> (Sumber : Buletin Islam Al Ilmu Edisi 49/II/III/ 1426, Jember.

> 

> [Non-text portions of this message have been removed]

> 

> 

> 

> 

> -- 

> Roosdiana

>




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke