malu sebenarnya menanggapi hal ini, karena diri sendiri pun masih 
termasuk produk budaya.
walau demikian ingin berbagi pendapat dengan ikhwan/ahwat.

Dalam suatu lembaga pendidikan, tentunya kita mengenal TK, SD, SLTP, 
SLTA.
Dalam suatu lembaga pemerintahan, kita mengenal AU, AL, AD, Polisi, 
dsb.

Semua lembaga tersebut mempunyai peraturan tentang pakaian yang juga 
merupakan sebagai identitas diri seseorang dianggap termasuk dalam 
lembaganya.

Mari coba sama-sama renungi, jika seseorang berpakaian TK masuk ke 
SLTP, apakah dianggap murid SLTP?
Jika seseorang berpakaian Polisi masuk ke AU, apakah ia dianggap 
anggota AU? Pasti TIDAK!

Sekarang kita ke identitas pakaian ISLAM, yang sama-sama kita ketahui 
bagaimana pakaian Islam yang di akui Allah dan Rasul sebagai 
identitas hamba Allah dan umat Muhammad SAW.

Kalau sekiranya ada pertanyaan, bagaimana jika Nabi Muhammad SAW itu 
berasal dari pulau Jawa, apakah ia akan berpakaian budaya jawa yaitu 
pakai belangkon dan baju batik. Jika benar demikian berarti ungkapan 
bahwa Nabi SAW adalah Al-Qur'an berjalan adalah salah besar, karena 
ia telah mengangat budaya setempat bukan mengangkat ajaran Islam.

Maksudnya kalau ada yang mengatakan bahwa pakaian yang di contohkan 
Nabi SAW adalah pakaian bangsa Arab, sama saja ia telah mendoktrin 
Nabi SAW mengajarkan budaya Arab bukan ajaran Islam.

Lalu bila ditanyakan, kalau begitu bagaimana kita bisa istiqamah 
berpakaian seperti yang di contohkan Nabi SAW yaitu memakai Gamis dan 
bersurban saat sekolah, bekerja di kantor atau di sawah, itu hal yang 
tidak bisa dilakukan karena ada peraturan dan keadaan yang membatasi?

Jawabnya, itulah mengapa Allah memberikan rukhsoh atau keringan-
keringan, semoga Allah mengampuni dan memaklumi ketidak berdayaan 
kita terhadap halang rintang yang berat untuk dijalani.

Tapi setidaknya, sekurang-kurangnya, mari tanamkan dalam hati yang 
dalam, rasa keinginan untuk memakai pakaian yang di contohkan Nabi 
SAW, minimal bisa dilakukan saat mengerjakan Sholat.
Kalau mau menghadap Peresiden kita harus berpakaian sopan, rapih, 
bersih dan bersepatu sesuai standar peraturan yang telah diberikan 
oleh sang protokol...kalau tidak standar apakah diterima atau 
diperbolehkan bertemu masuk ke Istana Negara? Tentu TIDAK! Masuk 
Istana Negara aja tidak diterima apalagi untuk bertemu. tapi giliran 
akan menghadap Allah kita cuek aja hanya memakai kaos oblong 
bergambar kepala tengkorak, bercelana jins robek-robek seperti mau 
menghadiri kontes Rocker saja...jika demikian apakah diterima masuk 
ke Istana Allah, apakah diterima bertemu Allah...?

Salam

--- In [email protected], "David Sofyan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Tidak Selalu Menjadi Jebakan Budaya 
> 
> Suatu sore di pojok salah satu masjid tampak seorang pemuda dengan 
mengenakan stelan Jas seperti seorang eksekutif muda yang sedang 
sibuk berdzikir bahkan saking asyiknya sampai tidak menghiraukan 
orang yang lalu lalang di sekitarnya. Seorang Ustadz dengan pakain 
gamis putih bersih mendekati pemuda tersebut sambil mengucapkan salam 
dia menyapa pemuda tersebut, " Baru pulang kerja ya nak ?" sapa pak 
Ustadz "tidak stadz , saya dari rumah" jawab si pemuda " atau mungkin 
mau berangkat kerja ?" , " ya tidak lah stadz kan udh sore gini, 
paling habis maghrib atau mungkin habis Isya kali baru pulang biar 
gak bolak-balik" jawab si pemuda dengan santai
> 
> " tapi kok anak ini aneh, masak ya cuma ke masjid pake stelan jas 
jadi  mirip orang mau ke gereja " sahut si Ustadz penasaran   " Trus 
harusnya pake apa dong stadz, soalnya ini pakaian kesenangan saya dan 
saya berharap suatu ketika jadi eksekutif muda, gito loh stadz" jawab 
si pemuda cengengesan tapi terus mendawamkan dzikir di bibirnya " Loh 
kita kan punya pakaian untuk beribadah ya paling tidak seperti saya 
inilah ", dengan sabar sang ustadz memberi pengarahan " memangnya 
dulu Rasulullah membeda-bedakan pakaian berdagang dan pakaian sholat, 
trus pakaian yang ustadz pake itu pakaian orang islam atau orang 
arab, soalnya teman saya yang beragama hindu di pakistan juga 
berpakaian seperti ustadz ini bahkan tutup kepala yang biasa di 
gunakan para kiyai sini tetapi  di Banglades di pakai oleh para 
tukang becak atau pengangkut sampah atau buruh pada umumnya" balas 
sipemuda tidak mau kalah.
> 
> Cuplikan dialog diatas bisa jadi memang merupakan produk budaya 
yang terkondisi jadi produk agama yang bertajuk identitas, namun 
tidak juga bisa disalahkan seseorang yang berpakaian seperti orang 
yang dicintainya, seperti anak saya yang suka meniru cara berpakaian 
ibunya karena terkadang karakter bisa di bentuk oleh kebiasaan cuma 
yang menjadi permasalahan adalah banyak diantara kebiasaan itu yang 
hanya membentuk tampilan fisik. Seperti banyaknya kita membaca 
referensi sifat sholat Nabi, lalu bagaimana dengan sifat khusyuk 
Nabi ? sehingga jangan heran kalimatullah "innassholata tanha anil 
fakhsa' i' wal mungkar" (QS 29:45) tidak pernah benar-benar kita 
rasakan.
> 
> Budaya memang di bentuk oleh sebuah kebiasaan pada suatu 
masyarakat, namun kebiasaan tanpa kesadaran adalah kelatahan 
sedangkan kebiasaan dengan kesadaran akan membentuk kemampuan. 
Seseorang yang terbiasa sholat karena dikondisikan oleh orang tuanya 
tetapi tidak mempunyai kesadaran akan makna sholat yang di jalaninya 
maka suatu ketika dia akan mengalami titik jenuh dan berkata " sekali-
kali sholatnya istirahat dulu ah "
> 
> Nilai seperti apa yang mesti di berikan kepada seseorang yang 
dikondisikan oleh budaya tanpa mau tau untuk apa dia melakuakn semua 
itu, namun jika sebuah keinginan untuk berusaha lebih baik dilakukan 
terus menerus sehingga menjadi kebiasaan bahkan menjadi suatu budaya 
maka hal inilah yang semestinya kita terapkan pada diri kita, 
keluarga kita dan lingkungan kita
> 
> Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang sehingga 
keunggulan bukanlah sebuah perbuatan tetapi sebuah kebiasaan. 
(Aristotles)
> 
> Salam 
> 
> David
>


Kirim email ke