Tidak Selalu Menjadi Jebakan Budaya 

Suatu sore di pojok salah satu masjid tampak seorang pemuda dengan mengenakan 
stelan Jas seperti seorang eksekutif muda yang sedang sibuk berdzikir bahkan 
saking asyiknya sampai tidak menghiraukan orang yang lalu lalang di sekitarnya. 
Seorang Ustadz dengan pakain gamis putih bersih mendekati pemuda tersebut 
sambil mengucapkan salam dia menyapa pemuda tersebut, " Baru pulang kerja ya 
nak ?" sapa pak Ustadz "tidak stadz , saya dari rumah" jawab si pemuda " atau 
mungkin mau berangkat kerja ?" , " ya tidak lah stadz kan udh sore gini, paling 
habis maghrib atau mungkin habis Isya kali baru pulang biar gak bolak-balik" 
jawab si pemuda dengan santai

" tapi kok anak ini aneh, masak ya cuma ke masjid pake stelan jas jadi  mirip 
orang mau ke gereja " sahut si Ustadz penasaran   " Trus harusnya pake apa dong 
stadz, soalnya ini pakaian kesenangan saya dan saya berharap suatu ketika jadi 
eksekutif muda, gito loh stadz" jawab si pemuda cengengesan tapi terus 
mendawamkan dzikir di bibirnya " Loh kita kan punya pakaian untuk beribadah ya 
paling tidak seperti saya inilah ", dengan sabar sang ustadz memberi pengarahan 
" memangnya dulu Rasulullah membeda-bedakan pakaian berdagang dan pakaian 
sholat, trus pakaian yang ustadz pake itu pakaian orang islam atau orang arab, 
soalnya teman saya yang beragama hindu di pakistan juga berpakaian seperti 
ustadz ini bahkan tutup kepala yang biasa di gunakan para kiyai sini tetapi  di 
Banglades di pakai oleh para tukang becak atau pengangkut sampah atau buruh 
pada umumnya" balas sipemuda tidak mau kalah.

Cuplikan dialog diatas bisa jadi memang merupakan produk budaya yang terkondisi 
jadi produk agama yang bertajuk identitas, namun tidak juga bisa disalahkan 
seseorang yang berpakaian seperti orang yang dicintainya, seperti anak saya 
yang suka meniru cara berpakaian ibunya karena terkadang karakter bisa di 
bentuk oleh kebiasaan cuma yang menjadi permasalahan adalah banyak diantara 
kebiasaan itu yang hanya membentuk tampilan fisik. Seperti banyaknya kita 
membaca referensi sifat sholat Nabi, lalu bagaimana dengan sifat khusyuk Nabi ? 
sehingga jangan heran kalimatullah "innassholata tanha anil fakhsa' i' wal 
mungkar" (QS 29:45) tidak pernah benar-benar kita rasakan.

Budaya memang di bentuk oleh sebuah kebiasaan pada suatu masyarakat, namun 
kebiasaan tanpa kesadaran adalah kelatahan sedangkan kebiasaan dengan kesadaran 
akan membentuk kemampuan. Seseorang yang terbiasa sholat karena dikondisikan 
oleh orang tuanya tetapi tidak mempunyai kesadaran akan makna sholat yang di 
jalaninya maka suatu ketika dia akan mengalami titik jenuh dan berkata " 
sekali-kali sholatnya istirahat dulu ah "

Nilai seperti apa yang mesti di berikan kepada seseorang yang dikondisikan oleh 
budaya tanpa mau tau untuk apa dia melakuakn semua itu, namun jika sebuah 
keinginan untuk berusaha lebih baik dilakukan terus menerus sehingga menjadi 
kebiasaan bahkan menjadi suatu budaya maka hal inilah yang semestinya kita 
terapkan pada diri kita, keluarga kita dan lingkungan kita

Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang sehingga keunggulan bukanlah 
sebuah perbuatan tetapi sebuah kebiasaan. (Aristotles)

Salam 

David


Kirim email ke