http://www.ruangkusepi.blogspot.com
SEORANG DIRI MENCARI YANG HAKIKI
Seputar Awliya Allah
Wali atau dalam bentuk jamaknya auliyaa yang berarti teman yang akrab atau juga
kekasih (Allah) merupakan suatu keniscayaan adanya. Mengenai ciri-ciri dari
seorang wali terekam dalam Surah Yunus: 62, ”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali
Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati. Dua ayat selanjutnya mengabarkan bahwa ciri wali yang lain
adalah beriman dan selalu bertakwa; dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan
akhirat.
Yahya bin Mu’adz berkata dalam kitabnya yang berjudul Kitab Sirojut Tholibin
jilid awal hal. 17: “Wali itu adalah wangi-wangian Allah yang masyhur di muka
bumi, yang menciumnya hanyalah orang-orang yang kebenarannya mendominasi
dirinya, maka sampailah ia kesemerbakannya ke dalam hati mereka, maka dengan
itu terpesonalah mereka kepada Tuhannya serta selalu bertambah-tambah dalam
ibadahnya dalam keadaan sikap serta sifat yang berbeda”.1
Dalam ayat lain, Al-Quran mengisyaratkan tentang wali ini dengan sebutan “hamba
di antara hamba-hamba Kami.” Dalam surah tersebut (Al-Kahfi: 65) Allah
melanjutkan: “...yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan
yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”
Adanya hamba Allah itu abstrak dalam kekonkritannya dan konkrit dalam
keabstrakannya. Semua ahli tafsir sepakat mengatakan bahwa hamba Allah tersebut
adalah Nabi Khidir as, yang segala apa yang beliau kerjakan bukan kemauannya
sendiri (QS Al-Kahfi: 82).2
Kalau kita perhatikan, relasi antara Nabi Khidir dengan nabi Musa ini seperti
relasi antara Nabi Muhammad SAW dengan malaikat Jibril as. Relasi ini
mejelaskan pada kita bahwa dalam suatu perjalanan ruhani (suluk) seseorang
memerlukan mediator yang akan membimbing dan memberikan pengetahuan yang benar
sehingga seorang salik (pelaku suluk) tidak terjebak dalam perjalanan
menyesatkan yang syarat dengan bisikan-bisikan halus syaitan yang tidak rela
kita sampai kepada Allah (wushul). Rasulullah pun yang notabene merupakan
manusia paling agung ("Sesungguhnya,engkau --Muhammad-- memiliki watak yang
agung''), memerlukan ”guru” yang membimbing dan me-medias-i dirinya dengan
Tuhan. Perjalanan Isra’ Mi’raj merupakan satu pengecualian.
Dalam literatur tasawuf, hal ini dikenal dengan istilah khalwat. Seorang murid
(pelaku suluk/salik) harus berkhalwat kepada seorang guru atau syekh yang
mempunyai tingkatan spritiual atau ruhani yang tinggi bahkan telah suluk kepada
Allah. Guru itu disebut dengan Mursyid. Dalam tradisi tasawuf, peran seorang
Mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan syarat mutlak untuk mencapai
tahapan-tahapan puncak spiritual. Perhatikan Surah Al-A’raf: 186: ”Barangsiapa
yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk
(Mursyid)”.
Jadi teranglah pada kita bahwa dalam melakukan perjalanan menuju Tuhan Yang
Maha Satu kita memerlukan media atau seseorang yang bisa mendekatkan diri kita
kepada Allah. Berperantara ini (wasilah) atau dalam berdoa disebut juga dengan
tawassul bukanlah suatu bid’ah atau bikinan para ulama sekarang! Bahkan Allah
menyuruh kita untuk mencari jalan atau orang tersebut. Perhatikan ayat berikut:
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu
mendapat keberuntungan” (QS Al-Maidah: 35). Dan mursyid sejatilah, diantaranya
yang dapat menghantarkan dan membimibing kita menuju cahaya Allah.
Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili mengatakan, “Siapa yang menunjukkan dirimu kepada
dunia, maka ia akan menghancurkan dirimu. Siapa yang menunjukkan dirimu pada
amal, ia akan memayahkan dirimu. Dan barangsiapa menunjukkan dirimu kepada
Allah Swt. maka, ia pasti menjadi penasehatmu.”; Ibnu Athaillah as-Sakandari
dalam kitab Al-Hikam mengatakan, “Janganlah berguru pada seseorang yang yang
tidak membangkitkan dirimu untuk menuju kepada Allah dan tidak pula menunjukkan
wacananya kepadamu, jalan menuju Allah”; Seorang Mursyid yang hakiki, menurut
Asy-Syadzili adalah seorang Mursyid yang tidak memberikan beban berat kepada
para muridnya.3
Sekarang kita beranjak ke tahap selanjutnya yaitu mencari seorang mursyid
dengan terlebih dahulu mengidentifikasi dari ciri-ciri sebagai berikut: Dalam
kitab Khozinatul Asror, Syekh Suhrowardi dalam salah satu wasiatnya berkata :4
Seorang syek Mursyid itu mesti menjalani tarekat yang haq; yaitu terpelihara
dari akhlak yang buruk/hina.
Statusnya sebagai pengganti/penerus Rasulullah Saw. "al-ulamaa-u warotsaatul
ambiyaa".
Dia seorang pengikut yang setia seorang syekh yang mata hati/bathinnya bisa
melihat dan silsilahnya bersambung kepada Rasulullah Saw. (Silislah Abah Anom
(TQN) dapat dilihat di kitabnya Uquduul Jumaan-Penulis)
Dia adalah seorang yang 'alim/berilmu bukan orang yang bodoh/Jahil. Karena
kalau orang bodoh tidak dapat memberikan petunjuk. Abah Anom menyusun kitab
Miftahus-Shudur berbahasa Arab. Inilah salah satu ciri bahwa beliau seorang
yang berilmu.
Tidak mencintai dunia. Bukan berarti harus miskin. Jangan sampai hatinya
disibukkan oleh urusan-urusan dunia.
Dia harus sanggup melatih nafsunya sendiri, diantaranya melatih sedikit makan,
sedikit tidur, sedikit bicara atau tidak bicara yang tidak perlu.
Banyak sholatnya. Banyaknya shalat Ikhwan TQN Suryalaya dapat dilihat di kitab
IBADAH karangan Abah.
Banyak sodaqohnya; Ikhwan yang datang pada saat manaqib, dijamu makan oleh Abah.
Banyak puasanya.
Akhlaknya seperti Rasulullah Saw.
Mudah-mudahan kita semua diperjumpakan oleh Allah dengan mursyid kamil yang
akan membawa kita ke jalan yang benar dan mendekatkan diri kita yang hina dina
ini kepada Allah, seperti sabdaNya dalam QS. At-Taubah: 119: ”Hai orang-orang
yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang
yang benar.”. Juga seperti sabda Nabi Suci Muhammad SAW dalam kitab Ghoyatul
Wushul: ”Adalah kamu sekalian bersama Allah, dan jika kamu sekalian tidak
bersama Allah, adalah kamu bersama orang yang bersama Allah, maka sesungguhnya
dia menghantarkanmu kepada Allah”
Tetapi ketahuilah, bahwa adanya sosok orang tersebut lebih susah mencarinya
daripada belerang merah dan bila engkau berbahagia dan kebahagiaan yang tidak
ada duanya apabila engkau menemukan sosok seperti itu, bila engkau telah
bertemu dengan dia, jangan sampai berpisah lagi dan layanilah dia dengan:
tangan dan kemampuanmu;
harta kekayaanmu;
kekuaaanmu;
peliharalah hatinya
peliharalah waktunya
pelihara jejak langkahnya atau sunnah-sunnahnya.5
Karena dia adalah—sekali lagi—ahli waris atau penerus Rasulullah SAW yang wajib
kita bela dan kita cintai.
1 Op.Cit, hal. 2.
2 Ibid, hal. 3.
3 Urgensi Mursyid Dalam Tarekat, sufinews.com
4 KH. Drs. Golib Siregar, Ciri-Ciri Mursyid Kamil, suryalaya online.
5 Saefulloh Maslul Menjawab 165 Masalah, Op.Cit, hal. 4.
Diposkan oleh Insan Setia N di Senin, September 29, 2008 | 0 komentar Link ke
posting ini
Lihat tulisan lain di:http://www.ruangkusepi.blogspot.com