Bukankah itu Ghibah

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa 
Sallam bersabda: "Tahukah kalian, apa itu ghibah" Mereka menjawab: Allah dan 
Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: "Yaitu, engkau menceritakan 
saudaramu apa yang tidak ia suka." Ada yang bertanya: Bagaimana jika apa yang 
aku katakan benar-benar ada pada saudaraku?. Beliau menjawab: "Jika padanya 
memang ada apa yang engkau katakan, maka engkau telah mengumpatnya 
(menjadikannya ghibah) dan jika tidak ada, maka engkau telah membuat kebohongan 
atasnya (menjadikannya fitnah)." Riwayat Muslim. 

Ilmu dan pengetahuan biasanya disandingkan dalam satu kata, padahal keduanya 
mempunyai substansi yang berbeda seseorang yang mempunyai pengetahuan belum 
tentu mempunyai ilmu dibidang sesuatu yang dia ketahui, begitu juga dengan 
orang yang berilmu belum tentu selalu menerima informasi atau pengetahuan 
mengenai ilmu yang dia dalami. 

Seiring dengan kemajuan dalam bidang telekomunikasi maka penyebaran informasi 
melalui berbagai media terjadi setiap saat. Sayangnya tidak setiap infomasi 
yang kita terima mempunyai nilai kebenaran atau mempunyai nilai keilmuan 
didalamnya. Namun tetap saja kebutuhan akan informasi tersebut tidak bisa 
dibendung dan hal ini sering dimanfaatkan sebahagian orang untuk menggiring 
opini publik pada tujuan yang di kehendakinya, sehingga tidak salah jika ada 
yang mengatakan bahwa  jika ingin menguasai dunia maka kuasailah berbagai media 
informasi  dan hal ini tebukti dimana ummat Islam sering terpojok oleh 
pemberitaan negatif dari berbagai media baik di luar maupun didalam negeri.

Menyampaikan informasi mengenai keadaan orang lain jika tidak hati-hati maka 
akan menjadi dilema karena jika tidak disebut ghibah maka akan disebut fitnah, 
namun belakangan ini hal tersebut sering diabaikan bahkan dengan menggunakan 
alasan yang paling logis dan tampak bijaksana seperti " mudah-mudahan dengan 
membahas hal ini bisa menjadi pelajaran dan bahan renungan agar kelak tidak 
terjadi lagi dikemudian hari " . padahal pelajaran itu disimpan di hati bukan 
di mulut.

Dalam salah satu kisah celoteh para munafikun, mereka berkata " Cara terbaik 
menyembunyikan keburukan kita adalah dengan mengungkapkan keburukan orang lain, 
dan jika kita tidak mendapatkannya maka lekatkan keburukan kita pada mereka 
sambil kita berpura-pura menasehati mereka dengan logika para dewa"

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang 
kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha 
Perkasa lagi Maha Bijaksana." ( QS 60:5)

Salam


David

Kirim email ke