Cerita Pandang Memandang

Setelah shalat Maghrib biasanya saya dan beberapa rekan sering diskusi secara 
santai samabil menunggu waktu Isya dan pembahasan waktu itu adalah cara 
memandang tujuan beragama pada orang kebanyakan. Berbagai wacana bertaburan 
mewarnai diskusi walaupun semuanya bersifat subjektif , ya gak apa-apalah buat 
nambah wacana saja. dan saya bingkai lewat sebuah narasi pendek

Setelah beberapa tahun secara tidak disengaja saya bertemu teman lama pada 
suatu majelis,  tampak  terjadi banyak perubahan pada dirinya tidak hanya 
prilakunya tetapi juga penampakan fisik. Semangat dakwah menjalar keseluruh 
tubuhnya sehingga ketika berbicara, mimik mukanya tampak garang dan badannya 
sering bergetar seperti menahan sesuatu. Dia sering menghujat para " the real 
terorist" di palestina, para "aggresor" di amerika dan para " sipilis" di 
negara kita yah seperti JIL itulah dan memang tidak ada yang salah dari cara 
pandangnya semua sesuai dengan apa yang telah di pelajari dan di lakoni baik 
dari majelis , dari buku maupun dari  lingkungan, namun dia sering memberikan 
penilaian menurut apa yang dia pahami. Cara pandang seperti teman saya itu 
adalah cara pandang dari depan yaitu  selalu menilai apa yang tampak didepannya 
baik berupa kelemahan  maupun kelebihan namun akan lebih sering  tampak segala 
kelemahan dan keburukan lawan dan hal ini sering menimbulkan konfrontasi baik 
secara langsung maupun tidak langsung karena dia sering melihat tujuan dia dan 
yang didepannya bertolak belakang.

Berbeda dengan cara pandang tadi, salah satu teman yang lumayan lama aktif 
dalam kepengurusan masjid dan sering bergaul dengan berbagai macam kelompok 
keagamaan tampak lebih persuasif, dia beranggapan bahwa  silahkan berjalan 
menurut keyakinannya selama dalam aqidah yang benar (tidak syirik). Namun untuk 
diluar Islam dia tampak tidak begitu perduli karena menganggap mereka berada 
diluar jamaah.  Cara pandang seperti ini adalah cara pandang dari samping yaitu 
memandang orang seperti dalam satu shaf memanjang dan bersama-sama mengarah 
kedepan ( tujuan yang sama ) tanpa perlu saling sikut menyikut.

Ki Farid, salah satu imam masjid dekat rumah malah lebih bersifat umum yang 
memandang semua manusia adalah mahluk ciptaan Allah, dan Ki Farid beranggapan 
bahwa selalu ada garis-garis ketetapan Allah pada setiap mahluknya, dan mudah 
bagi Allah mempersatukan atau mencerai-beraikan manusia karena Allah maha 
berkehendak dan tidak ada satupun kejadian di muka bumi ini selain atas 
kehendak Allah dan salah satu kehendak Allah menurut Ki Farid adalah membiarkan 
manusia dalam kesesatan selama mereka tidak berusaha mencarinya kecuali atas 
orang-orang yang dipilih olehNya. Ki Farid memang tekenal dengan keramahannya 
dan dia sering memberikan pertolongan kepada siapapun dan ke pada agama apapun 
yang ada didekat tempat tinggalnya. Cara pandang Ki Farid ini adalah cara 
pandang dari atas melihat orang lain dengan berbagai macam tujuan tetapi tidak 
mencampuri tujuan mereka.

Cara pandang yang lain adalah seperti ustadz Najib, guru ngaji saya. Tidak 
banyak memang yang mengikuti pengajian ustadz Najib, namun selalu banyak 
pelajaran  yang bisa di peroleh, dia tidak pernah melihat status, tingkatan 
maupun agama  seseorang jika salah maka dia akan langsung memperingatkan dengan 
santun sebatas apa yang bisa dia lakukan. Untuk para muridnya dia sering 
menuntun tanpa berusaha menggurui, berusaha memberikan berbagai macam sudut 
pandang yang dinilai sebagai kebenaran tanpa menekankan pada sebuah pembenaran. 
Hal ini bisa lebih merangsang kreativitas berfikir para murid untuk bisa 
memberikan penilaian dari berbagai referensi tadi. Cara pandang ustadz Najib 
ini adalah cara pandang dari belakang yaitu memberikan pandangan kedepan dan 
membiarkan berjalan sendiri-sendiri tetapi tetap menuntun dari belakang.

Dan yang kebanyakan adalah cara melihat dari bawah yaitu mengikuti cara pandang 
orang yang di idolakannya baik itu ustadz, kiyai, ajengan, syaikh, murobi atau 
apapun istilah lainnya tanpa pernah mau bersifat kritis dan enggan mempelajari 
sumber, dasar atau dalil dari para idola mereka dalam menyampaikan ilmu atau 
dalam mengambil keputusan dalam sebuah masalah, atau sering di istilahkan 
'taqlid buta'.

Tapi memang benar semuanya bersifat subjektif dan pembuktianlah yang bisa 
menjadikannya objektif, karena seperti kata voltaire ' fikiran di buktikan 
dengan perbuatan, dan segala perbuatan di simbolkan dengan perkataan dan 
perkataan di wakili oleh bahasa maka bahasalah yang sering menyembunyikan 
fikiran"

Salam

David

Kirim email ke