SAVE PALESITNA JALUR GAZA

 
Rintihan dari Reruntuhan 

Rintihan dari Reruntuhan
Butuh US$ 2 miliar untuk membangun kembali Gaza. Setumpuk persoalan menghadang.
Ketika keluarga Samir al-Sultan berhamburan lari dari rumah, mereka lupa 
­menutup pintu depan. Panik. Yang ada di otak mereka saat itu hanyalah lari. 
Lari dan lari, demi menyelamatkan selembar nyawa mereka dari amuk­an roket yang 
dihamburkan tank-tank Merkava Israel, pada awal Januari lalu. 

Pintu itu tak pernah lagi tertutup. Rumah tiga lantai di Kota Gaza yang mulai 
dibangun Sultan, 52 tahun, sejak 37 tahun lalu itu sekarang tinggal tumpukan 
puing dan pecahan kaca. Nasib rumah Samir serupa dengan ribuan rumah di Jalur 
Gaza lainnya yang remuk-redam oleh 22 hari serbuan berbagai mesin perang 
Israel. 

Selama 19 hari dalam pelarian, keluarga Sultan pindah tempat tiga kali. 
Pertama, mereka pindah ke rumah salah satu putrinya. Namun lagi-lagi serbuan 
tank Merkava membuat mereka ­lin­tang-pukang ke salah satu sekolah yang 
dikelola Perserikatan Bangsa-Bangsa. ”Kami diberi tahu, di tempat itu kami akan 
terlindung,” kata Intisar al Sultan, istri Samir. Namun justru di tempat ini 
salah satu putra mereka, Abdullah, 20 tahun, tewas dihajar roket Israel. 

Pekan lalu, Samir, istrinya, beserta putra-putri, menantu, dan cucunya masih 
mengenakan pakaian yang sama dengan saat lari dari rumah, terdampar di salah 
satu sekolah lain milik PBB. ”Kami tak tahu lagi harus ke mana,” kata Intisar. 
Israel menghancurkan semua milik keluarga Sultan. ”Mereka tak menyisakan apa 
pun. Tak ada pohon. Tak ada ternak. Tak pula pakaian. Kami tak punya apa pun.” 

Cerita Sultan itu juga terjadi pada Mansur Abu Khalil, warga Jabaliyah Timur, 
kota kecil empat kilometer arah utara Kota Gaza. Sembilan puluh persen bangunan 
di wilayah ini rata dengan tanah. 

Kepada Tempo di Gaza, Jumat pekan lalu, dia mengatakan istri dan tiga anaknya 
tewas dihajar roket Israel. 

Pagi itu, ketika Mansur berangkat bekerja di sebuah toko perkakas di Pasar 
Jabaliyah, istrinya sedang membersihkan rumah dari debu bom. Anak-anaknya 
sempat makan satu meja. ”Putri sulung saya, Hanna Abu Khalil, masih mengenakan 
baju tidur. Ia sibuk memin­dahkan makanan dari dapur ke meja makan,” Mansur 
mengisahkan. ”Itu terakhir saya melihat mereka bernyawa.” 

Tatkala pulang ke rumah petangnya, Mansur hanya menemui reruntuhan rumahnya dan 
juga semua bangunan di sekitarnya. Ketiga anaknya tewas terkubur puing. 
Sekarang Mansur bertahan hidup di gubuk kecil di atas tanah bekas rumahnya 
tanpa air bersih, tanpa listrik, tanpa pekerjaan. Ia tak jarang pindah ke tenda 
pengungsian yang tak jauh dari rumahnya untuk bisa merasakan tidur lebih 
nyenyak. 

Kala malam tiba, dia meringkuk melawan suhu membeku dalam gelap. ”Kami sudah 
biasa hidup beratapkan langit dan tanpa penerangan,” ujarnya. Toko perkakas 
elektronik tempat dia bekerja juga sudah tak bersisa ditembak pesawat F-16. 
”Kami tak akan meninggalkan tanah ini, apa pun yang terjadi,” kata Mansur. 

Merujuk pada penaksiran biro statistik Palestina, serangan roket Israel 
meluluh-lantakkan 4.100 rumah dan bangunan milik pemerintah serta merusak 17 
ribu bangunan lain. Akibat invasi 22 hari itu, 1.500 pabrik, 20 masjid, dan 31 
gedung keamanan di Gaza turut ringsek. 

Sir John Holmes, salah satu petinggi Badan PBB untuk Misi Kemanusiaan, mengaku 
terguncang setelah melihat kerusakan sistematis di Gaza. Menurut Holmes, PBB 
mesti menuntut Israel membayar semua kerusakan di Gaza. ”Saya sangat terkejut,” 
kata Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon di muka reruntuhan kantor badan PBB di 
Gaza. 

Untuk menegakkan kembali rumah-rumah yang rata tanah, Hamas bermurah hati 
mengulurkan bantuan. Taher El-Nono, juru bicara Hamas di Gaza, menjanjikan akan 
mengucurkan duit US$ 35 juta hingga US$ 40 juta pada tahap pertama. Mereka yang 
rumahnya sepenuhnya roboh akan mendapat US$ 5.000, sementara yang hanya 
sebagian rumahnya rusak akan memperoleh separuhnya. 

Uluran tangan Hamas itu rupanya malah membuat Israel waswas. Mereka takut, 
berdasarkan pengalaman setelah menyerang Hizbullah di Libanon pada 2006, 
bantuan itu akan memperkuat pengaruh Hamas. Salah seorang penasihat Perdana 
Menteri Israel Ehud Olmert mengatakan, pemerintah Israel sedang merancang cara 
untuk ”menyelundupkan” bantuan ke Gaza. Jalan ­memutar ini ditempuh supaya 
kredit pembangunan kembali Gaza tak sepenuhnya diklaim Hamas. 

Membangun kembali Gaza tak akan semudah dan secepat saat meruntuhkannya. 
Sejumlah soal sudah menghadang di depan mata. Yang paling dekat jelas soal 
duit. PBB memperkirakan pemulihan Gaza perlu dana US$ 2 miliar. Belum jelas 
benar dari mana uang itu bisa diperoleh. Seorang pejabat Uni Eropa sudah 
memastikan, selama Gaza masih dikuasai Hamas, tidak akan ada kiriman bantuan 
dari mereka. 

Demi mengirit anggaran, menurut Christopher Gunnes, juru bicara Badan PBB untuk 
Bantuan Kemanusiaan, mereka terpaksa mengutamakan merenovasi rumah yang masih 
bisa ditempati. Rumah yang runtuh total mesti menunggu. 

Kalaupun uang sudah di tangan, begitu sulit menemukan semen dan pasir di Gaza. 
Satu-satunya jalur distribusi barang ke Gaza adalah melalui lorong-lorong bawah 
tanah yang tembus ke Mesir. ”Semua barang, dari Viagra sampai diesel, masuk ke 
Gaza lewat lorong ini,” ujar salah seorang pemilik lorong. 

Sekarang perdagangan dalam lorong ini tersendat akibat serangan Israel. Karena 
langka, harga bahan bangunan melambung tinggi. Uang US$ 5.000 dari Hamas tak 
lagi banyak berarti, karena untuk membangun rumah sederhana saja paling tidak 
butuh US$ 100 ribu. 

Masalah rumit yang juga akan mengganjal adalah siapa yang akan bertanggung 
jawab mengelola pemulihan Gaza. Hamas yang menguasai Gaza selama ini jarang 
sekali akur dengan faksi Fatah yang dipimpin Presiden Palestina Mahmud Abbas. 

”Rekonstruksi selalu menjadi isu tawar-menawar dari semua pihak,” ujar Ghassan 
Khatib, mantan anggota kabinet Otoritas Palestina. Pagi-pagi, Saeb Erekat, 
negosiator Otoritas Palestina, sudah mengingatkan Hamas. ”Tak akan ada uang 
yang dikirim ke Gaza selama belum ada kesepakatan dalam pemerintahan,” kata 
Erekat. 

Namun Sekretaris Jenderal Liga Arab, Amr Moussa, membantah kabar tentang 
keengganan negara Arab menyalurkan bantuan ke Gaza selama Hamas berkuasa. ”Tak 
ada soal. Kami akan membangun sekolah dan fasilitas lain secepatnya,” kata 
Moussa. Bantuan itu akan dikucurkan lewat PBB. 

Di antara potret buram masa ­depan Gaza itu, tak hanya keluh kesah yang tersisa 
di antara puing-puing. ”Gaza, di atas semua kerusakan dan sakit ini, tetap 
hidup,” kata Samir, pemilik toko pakaian di Kota Gaza. Setelah me­nyingkirkan 
segala reruntuhan di muka tokonya, Rabu pekan lalu, Samir kembali membuka gerai 
bajunya. Di toko sebelah, hanya dalam tempo satu jam, buah di keranjang Hamed 
sudah ludes terjual. 

Dan tak semuanya mati setelah hujan roket dari helikopter Apache atau tank 
Merkava milik Israel. ”Israel sudah menghancurkan rumah kami, membakar ladang 
kami dan membunuh saudara-saudara kami, tapi tak pernah bisa mematahkan 
semangat kami,” kata Amir, pegawai pemerintah. ”Gaza akan bangkit dari 
reruntuhan.” 

Sapto Pradityo (Washington Post, Al Jazeera), Akbar Pribadi Brahmana Aji (Kota 
Gaza)



http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/01/26/LU/mbm.20090126.LU129375.id.html
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sumber http://media-klaten.blogspot.com
 


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke