Semua Bisa Berpendapat

Belakangan ini buku-buku islam sangat membanjir di toko buku. Minat baca 
masyarakat begitu meningkat, dan hal inipun tidak sia-siakan oleh para penulis 
maupun penerbit. Mulai dari buku-buku baru maupun buku lama yang dicetak 
kembali telah bertengger diatas rak buku menunggu pembaca menghampirinya. 
Belakangan ini saya baru tahu kalau penerbit juga ada yang sektarian. Dideretan 
buku-buku islam seseorang berbicara dengan temannya dengan nada setengah 
berbisik " kalau mau beli buku lihat penerbitnya dulu, kalau mau aman pake 
penerbit yang ini saja , soalnya jauh dari perkara-perkara bid'ah, dan 
penulisnya semuanya ahlussunnah" katanya kepada temannya dan di iyakan oleh 
temannya tersebut. 

Dideretan tafsir masih terlihat Al Misbagh karangannya pak Quraish Sihab, Al 
Azhar karangan Buya Hamka, belum lagi tulisan dari ulama dulu seperti tafsir 
ibnu katsir, fi zilalil Qur'an, Al Manar, dan lain sebagainya. Untuk 
tafsir-tafsir luar memang tidak semua toko buku memajangnya pada 'rack 
display'. Buku-buku syariah dan muamalah bertebaran dengan berbagai versi 
dideretan lain yang banyak disambangi oleh para remaja dan beberapa orang 
dewasa. Bisa dikatakan bahwa buku-buku yang terhidang adalah kumpulan pendapat 
para penulis terhadap satu sumber yaitu Al Qur'an dan Assunnah. Kok bisa beda 
yah. Jika ada sepuluh orang ulama yang berguru pada satu orang yang sama dan 
mengambil pada sumber yang sama yaitu Al Qur'an dan Hadist Rasulullah, mengapa 
pendapat mereka bisa berlainan, dan anehnya ada saja orang yang fanatik pada 
salah satu diantara mereka.

Kita bisa membuat pemetaan pada pola berfikir kita. Diantara sepuluh ulama yang 
kita anggap mempunyai ilmu yang sama, pastilah hanya satu yang kita merasa 
cocok dengan pendapatnya walaupun kita tetap menyukai dan menghormati yang 
lain, mengapa begitu ? Allah menciptakan pola berfikir setiap orang berbeda 
dengan yang lain, hal ini juga bersinggungan dengan masalah suka atau tidak 
suka, sama seperti berbedanya selera humor setiap orang. Bisa jadi tulisan saya 
ini juga dianggap sampah bagi sebagian orang dan ini adalah hal yang wajar. 
Kumpulan memori atau file dalam otak kita yang membentuk pola tersebut. 
Seseorang yang sehari-harinya berkutat pada masalah ekonomi dan keuangan maka 
ada kemungkinan ketika berbicara dalam konteks islam maka lebih besar titik 
dominasi muamalah ketimbang syariah, kalaupun ada syariahnya maka orientasi 
pastilah menuju ke arah muamalah seperti perbankan syariah, asuransi syariah 
dan sebagainya.

Untuk substansi akherat saja beberapa penulis berjalan pada arah yang 
berbeda-beda, Ada yang memfokuskan pada pembersihan diri, ada yang fokus pada 
peningkatan amal ibadah, ada yang fokus pada membersihkan amal ibadah. Dan 
untuk amal ibadah saja terpecah lagi menjadi beberapa sub bagian, bahkan ada 
ustadz yang berhasil fokus dan meraih massa pada sub ini seperti ada ustadz 
terkenal dengan dzikirnya , ada juga yang terkenal dengan fadilah sedekahnya. 
Jika ada pertanyaan apakah yang menyukai dzikir tidak suka bersedekah ? Tentu 
saja konteksnya tidak seperti itu karena ini adalah masalah "prefer" dalam 
istilah bahasa asingnya, atau kecenderungan. Dalam matematika Kita bisa membuat 
metode substitusi untuk bisa mendapatkan polanya. Lalu yang mana yang paling 
benar ? itulah masalahnya sampai saat ini kita belum pernah mendengar ada orang 
atau kelompok merasa paling salah, pasti kebalikannya. Jika sudah seperti itu 
pendapat anda sajalah yang benar paling tidak bagi diri anda sendiri tentunya.

Salam


David
www.sebuahtitik.blogspot.com

Kirim email ke