Rintihan Tanpa Suara

Barang langka mahal harganya. Semakin unik suatu barang semakin tinggi 
nilainya. Tapi berhenti dulu , kedua kalimat tadi mungkin tidak bisa 'diamini' 
semua orang selain yang memang menyukai kelangkaan dan keunikan apalagi jika 
dipersempit hanya pada benda . Namun demikian secara umum kelangkaan dan 
keunikan pasti akan menyedot perhatian orang banyak. Di kota besar seperti 
Jakarta, silaturahmi dengan kerabat, saudara atau teman lama juga bisa 
merupakan suatu kelangkaan, mungkin hanya lebaran yang mampu membuka arah jalan 
kesana sedangkan diluar itu sangat susah. Adapun kejadian atau kegiatan yang 
bisa mengumpulkan kerabat atau teman diluar hari raya misalnya  acara arisan, 
pernikahan, pengajian dan ta'ziah atau menjenguk kerabat kita yang meninggal 
dunia.

Dua bulan yang lalu sewaktu ibu saya meninggal dunia, setelah diamanah Allah 
kanker di kepalanya selama dua tahun, saya bertemu dengan banyak kerabat yang 
pada hari biasa belum tentu bisa terwujud. Bahkan ada yang datang dari kampung 
walaupun belum pernah menginjakan kaki di Jakarta, namun tetap dilakukan untuk 
memberikan penghormatan terakhir untuk almarhumah ibu. Suatu saat saudara 
tersebut bertanya mengapa banyak sekali pengemis yang ditemuinya dipersimpangan 
jalan sejak dari bandara sampai kerumah. Dia bahkan berseloroh " Fakir miskin 
ada dimana-mana tetapi pengemis hanya ada di Jakarta".

Saya harus mengakui di kampung saya memang banyak fakir miskin tetapi tidak ada 
yang sudi jadi pengemis. Tiga puluh tahun yang lalu, teman yang merupakan 
tetangga di kampung ditinggal mati oleh ayahnya sedangkan adik-adiknya yang 
berjumlah dua orang masih kecil-kecil. Teman tersebut berumur lima tahun 
sedangkan kakaknya berumur tujuh tahun. Keduanya bekerja sebagai buruh di 
pelabuhan, mengangkut ikan yang datang yang dibawa oleh nelayan. Ibunya bekerja 
sebagai tukang cuci pakaian di rumah tetangga sekitarnya, padahal tetangga 
sekitar juga bekerja sebagai nelayan dan pedagang. Dipasar-pasar anak-anak 
meninggalkan bangku sekolah agar bisa mencari nafkah sebagai kuli angkut barang 
dari dalam pasar ke tukang becak didepan pasar tersebut bahkan tidak jarang 
tukang becak tersebut adalah ayahnya. Mereka seperti tidak mengenal kata 
'meminta-minta'.

Fakir miskin belum tentu jadi pengemis dan pengemis belum tentu hidup dalam 
kemiskinan. Didalam Al Qur'an kita diminta untuk menyantuni fakir miskin , 
memang tidak pernah ada kata-kata menyantuni pengemis tetapi itu juga tidak 
menjadi alasan untuk mengabaikan mereka. Diluar kewajiban kita untuk memberi 
kepada siapapun tanpa mempertanyakan status yang meminta, kita harus mampu 
memaknai bahwa menjadi fakir miskin mungkin sudah sebuah ketentuan tetapi 
menjadi pengemis merupakan suatu pilihan.

Diluar sana banyak tangan-tangan yang tidak mau menengadah kecuali kepada 
tuhannya sampai izrail menyapa mereka. Kita dipaksa oleh Allah untuk mencari 
rintihan tanpa suara tersebut dan tidak menjadikan keheningan mereka sebagai 
alasan untuk tidak memberi. Jika yang menengadah tangan didepan mata kita bisa 
terabaikan, lalu bagaimana caranya agar kita bisa perduli pada yang hanya mau 
mengepalkan tangan meremas perutnya yang telah lama tidak terisi.

Salam

David
www.sebuahtitik.blogspot.com

Kirim email ke