Kalau Sudah Begini, Kita Ini Adil Gak ?

Hari ini saya masih terus membaca salah satu bab dalam kehidupan yang bernama 
keadilan. Bab tersebut sering di salah pahami sebagai suatu sifat yang bernilai 
kuantitatif atau terukur yang searah, artinya seseorang bisa menuntut keadilan 
tanpa harus berbuat adil atau tanpa memperdulikan keadilan dalam hal lainnya. 
Sebagai contoh kita bisa menyaksikan para mahasiswa yang berdemonstrasi dan 
berteriak meminta keadilan kepada penguasa sambil berkonvoi di jalan raya, 
bukankah mereka juga tidak adil terhadap pengguna jalan ? atau para sopir yang 
mogok minta keadilan agar tarif bis dinaikan, lalu mereka berbuat tidak adil 
terhadap penumpang yang terlantar , apakah keadilan mempunyai tingkatan 
prioritas dimana tingkatan yang lebih penting bisa menghilangkan nilai keadilan 
yang dianggap kurang penting ?

Suatu ketika dalam pengajian, saya pernah bertanya kepada Ustad Abbas mengenai 
keadilan " Ustadz tolong gambarkan yang dimaksud dengan adil itu seperti apa 
sih , apakah bersifat relatif atau objectif ? " tanya saya. " Sederhananya 
adalah perlakukanlah orang lain sama seperti kita ingin di perlakukan, oleh 
sebab itu keadilan memang identik dengan kejujuran terhadap diri sendiri, 
berlaku tidak adil sama dengan berlaku tidak jujur pada diri sendiri walaupun 
tidak ada seorangpun yang sadar dengan ketidak adilan yang kita buat" kata 
Ustadz Abbas.

Saya teringat sewaktu masih kecil, paman memberikan uang lima ribu rupiah 
kepada saya untuk di bagikan secara adil dengan ke tiga adik . Saya seharusnya 
membagikan seribu dua ratus lima puluh rupiah perorang , tetapi pada waktu itu 
saya hanya memberikan seribu rupiah kepada adik-adik saya dengan anggapan bahwa 
saya adalah anak yang tertua dan uang itupun di berikan kepada saya tanpa 
memberitahukan besaran angka yang harus di bagikan kepada adik saya. 
Ketidaktahuan masalah membuat semua tampak wajar dan adil dimata mereka. 
Keadilan berasal dari dalam diri dan tidak kasat mata, sehingga untuk 
membuatnya terlihat kita gunakan perangkat yang disebut dengan hukum.

Apakah sama mana adil pada kalimat berikut ini " Hukumlah penjahat itu dengan 
adil" dengan " massa telah mengadili penjahat itu ". Tidak ! yang satu bersifat 
objektif dan yang satu bersifat subjektif. Hukum adalah keadilan yang di 
lembagakan sehingga hukum harus mempunyai aturan yang jelas walaupun hasil dari 
aturan tersebut tidak semuanya sesuai dengan keadilan, akan tetapi jika tidak 
ada hukum akan sulit menegakkan keadilan, karena yang satu berdasarkan bukti 
sedangkan yang satu berdasarkan keimanan, yang satu terlihat yang satu tidak 
terlihat.

" hai kamu ketahuan yah sudah tidak adil kepada perusahaan" kata teman saya 
sambil tersenyum " loh memang kenapa ?" tanya saya " ya iyalah masa ya iya 
dong, kita kan di gaji untuk bekerja delapan jam sehari , tetapi masih ada 
waktu yang kita curi untuk menulis , bermain internet dan bertelepon ria" 
katanya sambil ngeloyor pergi ke pantri untuk membuat kopi. haaa... memang 
susah untuk berlaku adil, sekecil apapun tindakan pembenaran dari apa yang kita 
kerjakan dan dengan alasan paling masuk akal apapun akan di pertanggung 
jawabkan kelak di hadapan Allah , Tuhan Yang Maha Adil.


Salam 


David

Kirim email ke