Sudah ada Distance Learning khan ?
Perlu diyakinkan, ttg
- komitmen anda untuk mengalokasikan waktu bagi undip,
- interaksi dilakukan dengan memanfaatkan sarana khusus spt tele education,
- hal2 lain yg dapat mengkompensasi ketidak hadiran anda di kampus undip.
Shg tidak ada pihak yang dirugikan.
Cyber University aja di Indonesia sekarang sudah ada...
Ini contohnya:
http://www.bisnis.com/bisnis/owa/artikel.preview?cookie=2&inw_id=136194
Salam,
Bdw
At 12:44 PM 1/26/01 -0800, Eko Raharjo wrote:
>Pak Hadi dan kolega-2 di IKK FK Undip semua yang terhormat.
>
>SALAM KANGEN dari saya!
>
>Saya turut bergembira bahwa IKK telah bisa on-line 24 jam. Untuk
>memudahkan komunikasi lebih lanjut saya ingin menginfornasikan
>bahwa alamat e-mail saya bukan [EMAIL PROTECTED] melainkan
>[EMAIL PROTECTED] (ada r sebelum j dan acs nya telah dihilangkan).
>
>Kapan saya pulang?
>Pak Hadi, Sebenarnya saya tidak merasa pergi sebab rumah saya adalah
>di planet bumi dan saya masih tetap disini, belum DUT (just guyon).
>
>Terima kasih atas pertanyaan anda, saya akan berusaha menjawab dengan
>sejujurnya. Pertama-tama merupakan kepastian bahwa saya tidak mungkin
>secara fisik pulang untuk kembali menjadi staf di FK Undip tanpa
>memperoleh kesempatan untuk mengamalkan ilmu yang telah kami dapat
>dengan memperoleh gaji selayaknya. Sebab jika saya mengalami lagi
>situasi seperti saat saya pulang dari Jerman, hal tsb akan merugikan
>semua pihak: pihak Undip, pihak masyarakat dan tentu saja pihak saya
>pribadi. Bagi saya pribadi, yang akan mengalaminya langsung, situasi
>tersebut tidak tertahankan. Situasi seperti itu adalah pengingkaran
>dari nilai-nilai kemanusiaan saya. Dengan kata lain, saya PASTI secara
>fisik akan kembali sebagai staf FK Undip jika telah terjadi perubahan-
>perubahan2 substansial di FK Undip. Kedua, sesungguhnya bukan hal yang
>mustahil dalam era teknologi komunikasi yang sedemikian maju untuk
>tetap menjadi staf FK Undip namun secara fisik menjadi staf di Faculty
>of Medicine, University of Calgary di Kanada seperti status saya dan
>istri saya saat ini.
>
>Jadi pada prinsipnya saya tidak ingin semua pihak rugi!. Yang saya
>inginkan adalah semua pihak untung, win - win situation. Tentu saja
>dalam situasi yang belum jelas pertama-tama saya mengutamakan
>tanggung jawab pribadi terlebih dahulu, yakni memperoleh nafkah yang
>layak, mengembangkan ilmu yang telah saya dapat dan mengusahakan
>pendidikan yang baik bagi keluarga. Hal inilah yang saya lakukan
>sekarang ini. Saya yakin setiap orang yang berada dalam situasi
>seperti saya alami, bila jujur, akan mengambil keputusan yang
>sama. Syukurlah saya dan istri saya diberi kemampuan untuk bisa
>memperoleh pekerjaan yang baik disini. Posisi saya adalah sebagai
>Research Associate di bag Immunology dan istri saya sebagai Lab
>Manager di bag Cell Biology di Faculty of Medicine, University of
>Calgary. Saya yakin kalau pihak FK Undip memang menginginkan, semua
>pihak (termasuk masyarakat) bisa menikmati win-win situation.
>Perkara detail langkah konkritnya akan bisa dibicarakan kemudian.
>
>Saya tahu banyak orang yang salah mengerti terhadap sikap saya.
>Ada orang yang menanggapi sikap JUJUR dari saya sebagai sikap
>SOMBONG, arogant. Saya dapat memaklumi keterbatasan mereka dan
>saya tidak merasa kuatir dengan prasangka mereka. Namun saya kuatir
>apa bila saya tidak mampu bersikap jujur dan adil terhadap diri saya
>keluarga dan masyarakat, sebab saya akan kehilangan kenikmatan hidup.
>Menurut pengalaman saya bersikap jujur dan adil dalam memutuskan
>jalan hidup itu amat membebaskan dan mendatangkan kenikmatan. Tentu
>saja sebagai manusia saya jauh dari sempurna. Saya menyadari saya
>bisa pula berbuat salah oleh karena itu saya amat menghargai suatu
>dialog yang saling menghormat satu sama lain. Terus terang saya
>tidak setuju dengan mentalitas yang dipraktekkan di Undip: bahwa
>hanya yang diatas saja perlu dihormati sedangkan staf biasa tidak,
>bahkan wajar untuk disepelekan, hanya yang diatas saja yang kariernya
>penting, hanya yang diatas saja yang hak-haknya perlu diakui, yang
>diatas saja yang nasibnya dan nasib KELUARGA nya penting oleh karena
>itu segala macam fasilitas dan resources dari Undip dipakai untuk
>menjamin kesuksesan mereka, sedangkan nasib staf biasa dan keluarganya
>wallahualam.
>
>Saya menolak mentah-mentah suatu bentuk komunikasi dengan pejabat
>Undip maupun pejabat pemerintah lainnya, dimana saya diwajibkan
>menghormat mereka, mengakomodasikan kepentingan mereka sedangkan
>mereka tidak memperdulikan hak-2 saya, tidak mengakomodasikan
>keperluan saya dan tidak perduli masa depan saya. Misalnya Undip
>menuntut stafnya untuk memberikan laporan yang teratur namun dari
>pihak mereka tidak ada response (karena tidak pernah dibaca).
>Apa gunanya?!. Disamping itu pihak Undip sendiri tidak pernah
>sekalipun, apa lagi secara teratur, menginformasikan kepada saya
>hal-hal yang sebagai staf saya berhak untuk tahu. (misalnya saya
>tidak pernah diberi informasi ada program S2 yang berhubungan dengan
>keilmuan saya). Kalau pihak Undip tidak menganggap saya penting, tidak
>menganggap saya sebagai asset yang berharga, lalu dasar apa yang bisa
>saya pakai untuk memberikan justifikasi untuk menjadi staf disana.
>Demikian pula mereka menuntut saya pulang tetapi tanpa membicarakan
>saya mau ditempatkan dimana, apa posisi dan tanggung jawab yang akan
>diberikan kepada saya.
>
>Saya menyadari bahwa hal-hal semacam ini bukanlah menjadi problem
>Undip semata melainkan sudah merupakan problem national. Jadi bukan
>merupakan tanggung jawab Undip semata untuk perlu mengadakan reformasi
>melainkan juga pihak pemerintah pusat dan seluruh jajarannnya. Namun
>sebagai lembaga pendidikan tinggi sudah seyogyanya Undip memeloporinya.
>Saya tahu bahwa perubahan yang substansial tidak akan bisa terjadi
>dalam sehari atau dua hari tetapi perlu suatu usaha berkesinambungan
>yang serius dengan disertai integritas yang tinggi. Tindakan saya
>adalah mengikuti prinsip dasar dari problem solving (therapy) kalau
>belum bisa menghilangkan kausanya paling tidak mencegah supaya tidak
>terjadi kerusakan yang lebih lanjut. Saya dan keluarga menolak untuk
>menjadi korban lebih lanjut terhadap sistem, struktur dan mentalitas
>kolektif yang buruk (saya tidak mengarah ke individual) yang ada di
>Indonesia. Saya tahu pula bahwa kebanyakan orang tidak bersikap
>seperti saya melainkan bersedia menurut dan mengikuti situasi yang
>ada untuk berperan menjadi korban yang baik, sambil berharap suatu
>kali akan mendapat posisi diatas dan ganti menjadi perpetrator yang
>jempolan. Saya tidak mau menjadi korban saya dan saya tidak mau pula
>untuk menjadi pelaku. Saya harap orang lain mengikuti jejak saya
>untuk berani menyetop rantai korban dan predator yang telah
>menyebabkan bangsa dan negara Indonesia semakin menjadi kacau,
>terbelakang, miskin dan nista ini.
>
>
>Apakah saya sudah kaya?
>Pak Hadi saya tidak pernah bercita-cita untuk menjadi kaya.
>Sewaktu saya masih di IKK saya banyak belajar dari senior-2 saya,
>pak Sofwan, dll, terutama mengenai filsafat hidup, antara lain:
>wiji kelengkeng akan tumbuh menjadi pohon kelengkeng, wiji duwet
>akan tumbuh menjadi pohon duwet. Saya tidak punya wiji sugih jadi
>tak akan tumbuh sugih (he he he just kidding). Namun saya orang yang
>percaya bahwa setiap manusia punya hak untuk hidup secara layak.
>Sekali lagi saya bersyukur bahwa saya dan keluarga bisa hidup secara
>layak disini. Kabar saya sekeluarga juga baik. Saya mengharap bahwa
>kabar dari semua keluarga staf di IKK juga tidak kurang suatu apa.
>Kami memutuskan untuk punya anak satu saja, sebab ini yang terbaik
>untuk kami. Anak saya sekarang duduk di elementary school grade V.
>Dia aktif di berbagai kegiatan olah raga (gymnastics), musik (piano)
>dan sains. Tahun lalu ia memenangkan banyak perlombaan. Ia berada
>dalam ranking pertama se propinsi Alberta untuk Gymnastics level I,
>kategori umur 10. Tahun ini ia melejit masuk ke tingkat National,
>High Performance, untuk kategori umur 10 tahun. Ia juga pernah dapat
>scholarship di suatu festival piano di Calgary. Bulan Mei ini
>dia akan ikut bertanding di suatu festival piano besar di Calgary.
>Punya anak satu saja sudah menghabiskan semua cadangan energy yang
>kami punyai. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya punya anak tiga
>seperti pak Sofwan dan pak Maryono (dan ditambah lagi perkutut-2nya).
>
>Saya kira sementara ini sekian dulu. Mohon maaf kalau ada perkataan
>yang kurang berkenan. E-mail ini saya cc kan ke [EMAIL PROTECTED],
>jadi kalau oleh suatu hal tidak bisa diterima bisa dilihat di mailing
>list Undip. Akir kata selamat tahun baru 2001 untuk semua.
>
>Wassalam,
>Eko Raharjo
______________________________________________________________
>From Budi Wiyono <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id