Mas Taufan, di forward aja ke tempo, minta konfirmasi ke penulisnya (si Seno
itu).
thq,


----- Original Message -----
From: "Taufan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, October 23, 2001 8:54 AM
Subject: [UNDIP] Satu Bukti Lagi Tentang Majalah Tempo


>
>
> Tempo, (Jangan) Nyinyir Terhadap Hukum-Hukum Islam!
> Tgl. publikasi: 22/10/2001 12:09 WIB
>
> eramuslim - Membaca Majalah Tempo, khususnya di rubrik
> Selingan 21 Oktober 2001, saya sangat prihatin. Tiga
> artikel di rubrik itu --khususnya artikel yang ditulis
> Seno Joko Sutoyo-- terlihat kasar dan nyinyir kepada
> hukum-hukum Islam (yang diterapkan atau "diijtihad"
> Taliban).
>
> Artikel-artikel yang sangat berat sebelah itu,
> menampilkan hanya sedikit komentar dari Afghan (atau
> mereka yang pro "Islam model Taliban"), tapi banjir
> kalimat bahkan kadang dimuat mentag-mentah dari media
> Barat seperti Washington Post, Human Right Watch atau
> Revolutionary Association of the Women of Afghanistan,
> sebuah LSM yang didonori Barat dll. Seperti kita
> ketahui, media Barat sulit melepaskan pandangan
> biasnya terhadap Islam dan selalu mencari-cari
> kelemahan -bahkan kadang-kadang menyampaikan informasi
> bohong- terhadap Islam.
>
> Sungguh menyedihkan bagaimana disitu wartawan Tempo,
> Seno Joko "mengecam" pemberlakuan hukum Islam dalam
> masalah sholat berjama'ah bersama ketika terdengar
> azan, pengaturan dokter laki-laki untuk laki-laki,
> doktor perempuan untuk perempuan, hukum qishas dan
> lain-lain.
>
> Cobalah kita renungkan kalimat yang dibuat Tempo ini:
> "Relawan sosial di Provinsi Badghis, Karine Zender,
> punya pengalaman bahwa kaum lelaki pun sama malangnya.
> Suatu hari, dokter asal Inggris ini mengantar seorang
> pria korban diare ke Kalinow -Ibukota Provinsi.
> Perjalanan sudah makan waktu tiga jam ketika kondisi
> laki-laki ini memburuk. Sekitar 10 menit dari rumah
> sakit azan maghrib berkumandang. Jadi orang-orang
> Afghan itu melakukan sholat bersama selama 45 menit.
> Selesai sholat sang pasien mati."
>
> Pertanyaannya benarkah -Tempo tidak konfirmasi ke
> orang-orang Afghan- pasien itu mati ketika orang-orang
> Afghan itu sedang sholat? Atau apakah pasien itu
> meninggal sebelum sholat berjama'ah? Begitu lamakah
> sholat orang-orang Afghan itu sampai 45 menit, padahal
> sholat biasanya hanya memakan waktu 10-15 menit!
> Apalagi orang-orang Afghan itu sudah bersusah payah
> membawa pasien itu ke rumah sakit untuk kesembuhannya,
> logiskah meninggalkan begitu saja dalam kondisi pasien
> sakit parah selama itu? Tempo tidak mengkritisinya dan
> mengkonfirmasikannya (dan hanya mengambil
> mentah-mentah atau "mengadopsi cerita-cerita" dari
> Human Right Watch).
>
> Selain itu dikisahkan di Selingan pula, bagaimana
> tentang adanya pasien perempuan yang sakit parah,
> karena dokter laki-lakinya tidak mau menanganinya
> akhirnya pasien mati, kekejaman hukum qishas dan
> lain-lain.
>
> Kalau Seno Joko kritis, mau sedikit mengapresiasi
> terhadap hukum Islam, mestinya cobalah menambah
> tulisan atau menengok ke praktek-praktek kedokteran ke
> negara-negara Islam atau klinik-klinik Islam di sini.
> Disana meski dipisahkan dengan antara pasien laki-laki
> dan perempuan (dokter laki-laki untuk laki-laki,
> perempuan untuk perempuan) --memang masalah ini
> "ikhtilaf", ada mazhab hukum Islam yang membolehkan
> dalam pengobatan boleh antar jenis-- tidak ditemui
> kasus-kasus pasien mati secara gampang yang anda
> ceritakan itu.
>
> Memang ada perbedaan yang sangat mendasar antara Barat
> (AS dll) dalam Islam soal pengaturan hubungan wanita
> dan laki-laki dalam kehidupan ini. Misalnya, Barat
> menghalalkan --juga tidak
> "mendakwahkan"/mensosialisasikan-- zina, selingkuh,
> mencium laki-laki atau perempuan bukan muhrim,
> pornografi, dll. Sementara Islam mengharamkannya.
> Dimana hikmah pengharaman itu diantaranya adalah zina,
> selingkuh adalah penyebab rusaknya rumah tangga,
> penstimulus korupsi atau penipuan serta dalam konteks
> negara, penghalalan penindasan atau penjeratan dengan
> hutang ke negara-negara miskin (untuk mempertahankan
> kebebasan sistem di negara itu).
>
> Begitu pula dengan penerapan hukum Islam sholat tepat
> waktu (awal waktu). Di Mekah atau Madinah yang
> menerapkan model seperti itu --sholat tepat waktu--,
> tidak terjadi kasus-kasus yang diceritakan Tempo itu.
> Bahkan disana aman-aman saja barang dagangannya -tidak
> ada pencurian atau pencurian angkanya mendekati nol-
> ketika para pedagang meninggalkan toko atau warungnya
> begitu saja, ketika waktu sholat.
>
> Dalam masalah hukum qishas, negeri-negeri Islam juga
> telah menerapkannya. Sehingga kriminalitas atau
> pembunuhan semena-mena oleh masyarakat disana angkanya
> jauh lebih rendah dibanding Barat atau disini
> (bandingkan dengan kasus orang curi sepeda motor
> dibakar)! Dengan diterapkannya hukum qishas, orang
> akan berpikir beratus-ratus kali untuk membunuh orang
> lain.
>
> Artikel Seno Joko itu juga ditutup dengan kata-kata
> yang jauh dari rasa kemanusiaan --kalimat-kalimat di
> akhir tulisan biasanya adalah terpenting--, yang bisa
> disimpulkan bahwa Tempo khususnya Joko, mendukung
> kematian rakyat-rakyat muslim Afghanistan. Tempo
> menulis: "Perselisihan rezim demi rezim, dari zaman
> Babrak Karmal sampai Taliban, membuat masyarakat
> Afghan terus menerus dipaksa lebih mencintai kematian
> daripada kehidupan, dan dokter-dokter Amerika yang
> berjatuhan di Afghanistan pada hari-hari ini kian
> jelas mengabarkan kematian itu,"
>
> Nuim Hidayat
> Mahasiswa Pasca Sarjana UI/Staf Humas KISDI
> Kom. Timah CCII/18, Kelapa Dua, Depok 16951
>
>
>
>
> =====
> Wassalammualaikum Wr. Wb.
>
> Taufan
> __________________________________________________________
> Get paid to search.....
> Just click and sign up
http://www.epilot.com/joinnow/referral.asp?friend=taufan
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Make a great connection at Yahoo! Personals.
> http://personals.yahoo.com
>
> --------------------------
> Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
> to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 115
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id
>
>

--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 117
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke