Kapan Bangsa Kita Punya Rasa Malu ****************************
Sesungguhnya orang disini (Kanada) juga keberatan untuk untuk membeli software sendiri. Namun ada cara lain untuk dapat mempergunakan software yang diperlukan tanpa perlu membajak. Seperti saya sebagai staf di U of C memperoleh supply software dari pihak university. Rupanya pihak university punya purchase deal untuk bisa menyebarkan software yang dibelinya ke staf nya. Hanya perlu melakukan pelaporan sesuai dengan perjanjian; dan diperbolehkan pula untuk menginstal ke komputer dirumah. Tentu saja software-2 yang sophiscated seperti Delta Vision tidak bisa disediakan oleh university melainkan pihak (lab) yang bersangkutan membelinya sendiri dengan grant money. Untuk student pihak university menyediakan terminal komputer hampir disetiap sudut (karena saking banyaknya) dan pula sudah disediakan software basic yang diperlukan seperti microsoft office bundle: microsoft word, power point, excell; yang selalu diupgrade dengan edisi yang terbaru. Walaupun demikian saya kira ada juga kegiatan membajak disini namun jumlahnya amat sedikit karena sudah menjadi kesadaran disini bahwa membajak software merupakan kegiatan kriminal yang punya konsekuen sama seperti kalau "ngutil" di supermarket ataupun mengedarkan sabu-sabu. Melihat situasi di Indonesia tentunya orang bisa menduga bahwa kegiatan pembajakan software pasti amat santer. Namun orang tidak akan percaya melihat kenyataan sesungguhnya bahwa kegiatan pembajakan di Indonesia sudah sangat kelewatan. Tidak saja computer software, tetapi juga VCD, CD dll. Baru-baru ini orang dihebohkan dengan beredarnya VCD mesum bajakan. Disatu pihak saya menyadari bahwa tidaklah fair untuk menyamakan purchase power dari orang Indonsia dengan orang di negara barat yang makmur. Namun dipihak lain saya punya kekuatiran besar bahwa kita akan berkembang menjadi bangsa MALING, yakni addicted to piracy. Side effect ini bisa jauh lebih merugikan dari pada kalau bangsa Indonsia dikenal sebagai bangsa yang ketinggalan teknologi. Sebab kalau setiap orang Indonesia bermental maling SEANDAINYA pinter dan canggihpun, tetap saja akan mendatangkan kekacauan bahkan dalam skala yang parah. Sebaliknya kalau kita mempriotaskan TERTIB HUKUM dan cara hidup yang BERMARTABAT, walaupun mungkin orang Indonsia telihat lebih kuno, sederhana dan slow namun masyarakat Indonesia akan bisa lebih tertib, disiplin dan punya martabat. Menurut saya kebanyakan pembajakan dan kasus pelanggaran hukum perdagangan lainnya adalah tidak berlatar belakang untuk meminterkan masyarakat tetapi lebih berdasar karena KERAKUSAN (pihak produsen bajakan) dan gaya hidup KONSUMERISME (pihak pembeli bajakan). Dalam banyak hal mulai dari bidang kesehatan, energy, electronic, sampai software, Indonesia sering mengikuti suatu sistem teknologi yang consumptive dan mahal yang merugikan masyarakat konsumen namun menguntungkan pihak broker, produsen bajakan dst. Banyak yang dapat dijadikan contoh, saya pilih satu yang kebertulan bikin jengkel saya; yakni mengenai penggantian sistem VCR (Video Cassete Recorder) ke VCD (Video Compact Disc); sementara sistem lama dienyahkan dari pasaran oleh konspirasi para retailer (toko-2 elektronik). Merupakan kebodohan untuk mengenyahkan sistem yang murah dan serbaguna seperti VCR. Dengan mengganti dengan sistem VCD orang harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli VCD playernya. Dan tentu saja harga VCD sendiri berlipat-lipat dibanding dengan video cassete (Betamax maupun VHS). Akibatnya orang akan cari VCD dengan harga yang terjangkau. Apa artinya ini? Masyarakat digiring untuk menciptakan market bagi para produsen bajakan!. Sekali orang mengudap barang bajakan, selama hidup ia akan tergantung dengan lifestyle tsb (tanpa kenal malu). Kerugian besar lainnya yang orang tidak menyadari adalah sistem lama VCR sangat mudah dan murah untuk digunakan merekam segala macam kegiatan dari recreative sampai kegiatan research, baik dari TV, camera maupun intravital microscope dst. Saya tercengang bin jengkel ketika saya mau mengirim cassete VCR rekaman kegiatan kami di Kanada, ternyata tidak ada lagi orang yang punya VCR player melainkan VCD player. Padahal disini yang sudah lama dipasarkan DVD (lebih advance dari VCD) bisa dengan mudah mendapatkan VCR dimana saja. Tidak semua orang, termasuk kegiatan riset dan pengajaran di U of C, dengan begitu saja mengganti dengan sistem teknologi baru yang lebih mahal. Tidak lain adalah sistem VCR masih lebih BERGUNA dan MURAH. Sedangklan alasan orang Indonesia adalah alasan kualitas gambar VCD lebih baik dari pada VCR. OK, baiknya seberapa? Tidakkah DVD menghasilkan gambar yang lebih baik dari VCD dan besok ada sistem baru yang lebih baik lagi, begitu seterusnya. Tentu saja sah-sah saja untuk memburu kepuasan dan kenikmatan. Namun kalau memang rakyat Indonesia uangnya cekak kenapa pilih sistem yang mahal dan buntutnya kemudian menempuh cara-cara tidak halal, alias maling (membajak)???. Apakah sistem baru dengan teknologi lebih canggih bikin orang Indonesia tambah pinter? Belum tentu, contoh diatas malah bikin orang Indonesia semakin bodoh, consumptive, dan koceknya terkuras atau menjadi maling, atau kombinasi semua plus tetap jadi maling. Banyak lagi contoh bahwa encourage pembajakan akan backfire ke kita sendiri. Sudah lama diketahui bahwa kasus kaset lagu bajakan telah bertanggung jawab membuat banyak musisi/komponis Indonesia pada melarat. Sama halnya mengenai software program komputer. Dengan mudahnya mendapat program bajakan maka akan melesukan orang-2 muda yang ingin berprofesi sebagai pencipta software. Akibatnya orang Indonesia tidak akan pernah punya kesempatan berkembang sebagai pencipta. Jadi tetep saja sampai matek orang Indonesia akan jadi konsumen dengan cara maling lagi!. Saya yakin kalau ada WILL sesungguhnya masih banyak cara untuk menghindarkan masyarakat Indonesia terutama kaum terpelajar jadi kaum maling. Tanpa perlu membayar diluar jangkauan dompet kita dan tanpa perlu pula menempuh jalan ekstrim seperti para pelajar Taliban. Salah satunya adalah dengan negosiasi dengan produsen seperti yang juga dikerjakan di nwgara maju. Kedua pemilihan sistem teknologi yang bijaksana, murah tapi berguna (bukannya mahal tapi gombal). Hal lain lagi adalah kaum terpelajar harus kritis ikut mengkontrol kaum bisnismen Indonesia yang acapkali tanpa moral menggiring masyarakat kearah cara hidup konsumtif tanpa martabat demi kerakusan mereka semata. Renungkanlah phenomena yang tragis sekarang ini, yakni memakai teknologi yang canggih VCD (karena menghasilkan gambar yang lebih jelas) bukan untuk keperluan research (misalnya menyelidiki mekanisme neutrophil menembus endothelial cell) melainkan untuk rame-rame nonton rekaman adegan mesum dari mahasiswa; yang tentu saja diproduksi dengan cara bajakan pula. Kapan bangsa kita punya rasa malu?!. Eko Raharjo Calgary Wahju wrote: > Saya sebenarnya nggak setuju software bajakan, tapi saya mengkonsumsi. > Alasan saya, lha wong saya nggak kuat beli aslinya, sementara saya nggak > pengen ketinggalan sama orang2 yang mampu beli asli, apalagi menghadapi era > globalisasi (konsep pembenaran yang keterlaluan saya kira). > Mudah2an dengan penambahan kemampuan saya di bidang komputer (yang > menggunakan software bajakan) bisa meningkatkan pendapatan, trus bisa beli > software asli. > > Kembali ke sweeping: > Mustinya kalau mau sweeping yha ke Manggadua, atau nggak usah jauh2, di > INDOCOMTECH aja terang2an dijual 20ribuan-itu untuk kelas teri. Mau yang > kakap, sweeping door to door di perusahaan2. > Kalau sweeping Notebook, saya kira susah nemuin Windows bajakan soalnya > rata2 khan pre-loaded semua? > > thq, > > ----- Original Message ----- > From: "Herwening Kalpiko" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Monday, October 22, 2001 10:03 AM > Subject: Re: [UNDIP] Gerakan Menyaingi Produk Amerika > > > Omong-omong soal sweeping produk Microsoft, hmmm saya sempat terenyuh > > setelah mendengar dari kawan saya bahwa kantor HAKI di UNDIP menggunakan > > software Windows bajakan. Tapi nggak apa-apa...saya sih setuju-setuju aja > > wong saya juga pake Windows XP bajakan juga. Lebih bagus lagi, mungkin > tidak > > sih kalau Departemen Komunikasi dan Informasi menggelar tender kepada > > tim-tim pembuat software di Indonesia untuk membuat OS yang asli Indonesia > > dan suitable buat orang Indonesia dan bisnis Indonesia yang bebas dari > > tuntutan perusahaan software OS yang ada. > > > > Wasalam, > > Picko > > > > ----- Original Message ----- > > From: "Taufan" <[EMAIL PROTECTED]> > > To: <[EMAIL PROTECTED]> > > Sent: Saturday, October 20, 2001 2:07 PM > > Subject: RE: [UNDIP] Gerakan Menyaingi Produk Amerika > > > > > > > > > > --- Ibnu Widiyanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Kalau Jepang dan Taiwan serta Malaysia berani kenapa > > > > tidak... sekarang saatnya > > > > pembajakan dilakukan...AAyo bajak wae...... > > > > > > > > He...he...he......... > > > > > > > > > > > > CU > > > > IW > > > > > > > > > > Ikut-ikutan ah..biar rame sekalian.... > > > kalo semua pada ngomongin bajak-membajak, saya pengen > > > ngomong SWEEPING aja ah, tapi ada hubungannya sama > > > bajak-membajak. > > > Kalo FPI dengan bosnya Habib Rizieq mau sweeping (dan > > > sampai sekarang BELUM PERNAH DILAKSANAKAN!) ternyata > > > sudah ada yang melakukan sweeping duluan bahkan nggak > > > tanggung2 AMERIKA yg melakukan, nggak percaya? baca > > > majalah warta ekonomi baru, orang2 microsoft pada > > > sweeping di BEJ, nyari orang2 yg bawa laptop siapa tau > > > di dalamnya windows bajakan. untung yg kena sweeping > > > pakai yg legal.... > > > > > > wah kalo gini ceritanya, microsoft "bajak" sweepingnya > > > FPI nih........ > > > > > > ===== > > > Wassalammualaikum Wr. Wb. > > > > > > Taufan > > > __________________________________________________________ > > > Get paid to search..... > > > Just click and sign up > > http://www.epilot.com/joinnow/referral.asp?friend=taufan > > > > > > __________________________________________________ > > > Do You Yahoo!? > > > Make a great connection at Yahoo! Personals. > > > http://personals.yahoo.com > > > > > > -------------------------- > > > Milis Archive: http://messages.to/archives or > http://messages.to/archives2 > > > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 111 > > > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id > > > > > > > > > > > -------------------------- > > Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 > > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 114 > > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id > > > > > > -------------------------- > Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 116 > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id -------------------------- Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 118 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
