Saya setuju dengan pendapat mas Eko mengenai masalah pembajakan hak cipta....
Cuma untuk memangkas masalah pembajakan harus ada solusi yang tepat untuk teman-teman yang berkecimpung di IT...
Saya ingin menunjukan beberapa kasus perusahaan di Indonesia tentang kebijakan mereka di bidang IT sebagai berikut :
1. Saat ini sedang terjadi penyeragaman Hardware & Software di sebuah perusahaan minyak asing di sumatera. Mereka berencana membeli 4000 unit PC baru untuk mengganti PC yang lama dan melakukan standarisasi OS diseluru didepartemennya kebetulan mereka memilih OS Windows2000 untuk seluruh pc yang beroperasi di perusahaan mereka
2. Saat ini telkom sedang mengembang Probis untuk penggunaan internet B2B.Kebetulan mereka memilih Visual Age, Websphere dari IBM dengan sebagai development Tools site mereka dan OS yang dipilih kemungkinan HP-UX dari HP.
3. Salah satu perusahaan konglomerat pabrik kertas di indonesia mengembangkan divisi untuk E-Auction dan E-Procurement. Development Tools yang mereka gunakan Visual Studio dengan OS windows NT/2000
4. BCA menggunakan platform Microsoft untuk internet bankingnya
5. Sebuah bank plat merah diIndonesia saat ini sedang mengembangkan internet banking dengan menggunakan development Tools Visual age dan Websphere sebagai web servernya yang nota bene adalah produk IBM
6. Sebuah perusahaan minyak asing yang beroperasi di Kaltim menggunakan OS HP-UX dan Windows2000 untuk kegiatan operasional mereka
7. Sebuah bank plat merah di Indonesia dengan aset terbesar di Indonesia dan sponsor acara kuis spektakuler di TV swasta menggunakan product Microsoft untuk web servernya
8. Sebuah TV swasta baru dibawah group perusahaan Retail milik pengusaha pribumi sedang mempersiapkan infrastruktur IT mereka dengan platform dari Microsoft & Oracle.
9. Sebuah bank plat merah bergerak diretail banking yang nasabahnya banyak berasal dari pengusaha menengah bawah merencanakan membeli software Silver lake untuk banking application... katanya sih.... harga softwarenya mencapai 1 trilyun rupiah
Sementari itu ada beberapa kasus yang dihadapi oleh teman-teman
1. Sewaktu saya masih kuliah di Undip.. 3-4 tahung yang lalu saya hanya mendapat kan materi yang berhubungan dengan bahasa pemprograman dengan menggunakan Pascal & Assembler
2. Praktikum jaringan komputer saat itu juga amat sangat terbatas... kalo sekarang saya kurang tau..
3. Harga Software original mahal bisa mencapai jutaan rupiah
4. Harga Buku-buku IT yang bersifat teknis bisa mencapai puluhan hingga ratusan dolar
5. uang saku + kerjaan sambilan rata-rata mahasiswa kayaknya kok rada susah menembus angka 1 juta/perbulan.... walaupun mungkin ada tapi sedikit sekali jumlahnya
6. Buku-buku diperpus yang sesuai dengan dunia kerja biasanya mahal dan terbatas kalaupun ada untuk meminjamnya kok kayaknya aturan birokrasinya njelimet ...( mungkin juga saya salah untuk hal ini mohon dikoreksi)
-Nah kalo kita memang mau menerapkan anti produk bajakan harus ada solusi agar bagi lulusan universitas agar bisa lulus dari universitas tapi juga bisa diterima didunia kerja yang requirementnya seperti itu. Disisi lain universitas di Indonesia budget untuk buku dan software original amat terbatas... jadi amat sulit untuk menyediakan buku dan Software original yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
-Kalo kita nekat berprinsip menggunakan produk original dan anti barang bajakan... salah-salah kita tidak terserap di dunia kerja dan bukan tidak mungkin akan banyak posisi yang kosong untuk bidang IT. Akhirnya untuk mengisi posisi kosong tersebut perusahaan mempekerjakan orang asing... itu artinya kita rugi 3 kali...
1. kita rugi karena harus beli software original yang keluaran luar
2. kita rugi harus bayar orang asing dengan biaya mahal
3. kita rugi tenaga kerja kita tidak terserap...
so... ada jalan keluarnya gak mas Eko?
Atau kita mau menyalahkan perusahaan yang menggunakan produk software asing...? padahal disisi lain perusahaan membutuhkan software tersebut untuk operasional usahanya.. Selain itu pemilihan produk disadari atau tidak disadari terkadang juga bisa berpengaruh dalam kita mendapatkan sertifikasi dari ISO ataupun mendongkrak nilai saham di pasar bursa...
Lagi pula orang asing juga suka bertindak tidak adil kok... contoh kasus saat perusahaan-perusahaan di Indonesia berantakan akibat krisis dan terpaksa harus menjual assetnya untuk menutupi hutang.... Perusahaan kita dinilai rendah sekali... karena mereka hanya menilai dari tangible assetnya sementara asset seperti Intelectual Property perusahaan kita tidak diperhitungkan sama sekali... asset karyawan yang menjalin hubungan dengan konsumen yang sudah berjalan sekian lama juga tidak dihitung.... akibatnya perusahaan kita cuma dinilai rendah sekali...
Gimana dong mas?
Kapan Bangsa Kita Punya Rasa Malu
****************************
Sesungguhnya orang disini (Kanada) juga keberatan untuk untuk membeli
software sendiri. Namun ada cara lain untuk dapat mempergunakan software
yang diperlukan tanpa perlu membajak. Seperti saya sebagai staf di U of C
memperoleh supply software dari pihak university. Rupanya pihak university
punya purchase deal untuk bisa menyebarkan software yang dibelinya
ke staf nya. Hanya perlu melakukan pelaporan sesuai dengan perjanjian;
dan diperbolehkan pula untuk menginstal ke komputer dirumah. Tentu saja
software-2 yang sophiscated seperti Delta Vision tidak bisa disediakan
oleh university melainkan pihak (lab) yang bersangkutan membelinya sendiri
dengan grant money.
Untuk student pihak university menyediakan terminal komputer hampir
disetiap sudut (karena saking banyaknya) dan pula sudah disediakan
software basic yang diperlukan seperti microsoft office bundle: microsoft
word, power point, excell; yang selalu diupgrade dengan edisi yang terbaru.
Walaupun demikian saya kira ada juga kegiatan membajak disini namun
jumlahnya amat sedikit karena sudah menjadi kesadaran disini bahwa
membajak software merupakan kegiatan kriminal yang punya konsekuen
sama seperti kalau "ngutil" di supermarket ataupun mengedarkan sabu-sabu.
Melihat situasi di Indonesia tentunya orang bisa menduga bahwa kegiatan
pembajakan software pasti amat santer. Namun orang tidak akan percaya
melihat kenyataan sesungguhnya bahwa kegiatan pembajakan di Indonesia
sudah sangat kelewatan. Tidak saja computer software, tetapi juga VCD,
CD dll. Baru-baru ini orang dihebohkan dengan beredarnya VCD mesum
bajakan.
Disatu pihak saya menyadari bahwa tidaklah fair untuk menyamakan
purchase power dari orang Indonsia dengan orang di negara barat yang
makmur. Namun dipihak lain saya punya kekuatiran besar bahwa kita
akan berkembang menjadi bangsa MALING, yakni addicted to piracy.
Side effect ini bisa jauh lebih merugikan dari pada kalau bangsa Indonsia
dikenal sebagai bangsa yang ketinggalan teknologi. Sebab kalau setiap
orang Indonesia bermental maling SEANDAINYA pinter dan canggihpun,
tetap saja akan mendatangkan kekacauan bahkan dalam skala yang parah.
Sebaliknya kalau kita mempriotaskan TERTIB HUKUM dan cara hidup
yang BERMARTABAT, walaupun mungkin orang Indonsia telihat lebih
kuno, sederhana dan slow namun masyarakat Indonesia akan bisa lebih
tertib, disiplin dan punya martabat.
Menurut saya kebanyakan pembajakan dan kasus pelanggaran hukum
perdagangan lainnya adalah tidak berlatar belakang untuk meminterkan
masyarakat tetapi lebih berdasar karena KERAKUSAN (pihak produsen
bajakan) dan gaya hidup KONSUMERISME (pihak pembeli bajakan).
Dalam banyak hal mulai dari bidang kesehatan, energy, electronic, sampai
software, Indonesia sering mengikuti suatu sistem teknologi yang consumptive
dan mahal yang merugikan masyarakat konsumen namun menguntungkan
pihak broker, produsen bajakan dst. Banyak yang dapat dijadikan contoh,
saya pilih satu yang kebertulan bikin jengkel saya; yakni mengenai penggantian
sistem VCR (Video Cassete Recorder) ke VCD (Video Compact Disc);
sementara sistem lama dienyahkan dari pasaran oleh konspirasi para retailer
(toko-2 elektronik).
Merupakan kebodohan untuk mengenyahkan sistem yang murah dan
serbaguna seperti VCR. Dengan mengganti dengan sistem VCD orang harus
mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli VCD playernya. Dan
tentu saja harga VCD sendiri berlipat-lipat dibanding dengan video cassete
(Betamax maupun VHS). Akibatnya orang akan cari VCD dengan harga
yang terjangkau. Apa artinya ini? Masyarakat digiring untuk menciptakan
market bagi para produsen bajakan!. Sekali orang mengudap barang bajakan,
selama hidup ia akan tergantung dengan lifestyle tsb (tanpa kenal malu).
Kerugian besar lainnya yang orang tidak menyadari adalah sistem lama VCR
sangat mudah dan murah untuk digunakan merekam segala macam kegiatan
dari recreative sampai kegiatan research, baik dari TV, camera maupun
intravital microscope dst.
Saya tercengang bin jengkel ketika saya mau mengirim cassete VCR
rekaman kegiatan kami di Kanada, ternyata tidak ada lagi orang yang
punya VCR player melainkan VCD player. Padahal disini yang sudah
lama dipasarkan DVD (lebih advance dari VCD) bisa dengan mudah
mendapatkan VCR dimana saja. Tidak semua orang, termasuk kegiatan
riset dan pengajaran di U of C, dengan begitu saja mengganti dengan sistem
teknologi baru yang lebih mahal. Tidak lain adalah sistem VCR masih lebih
BERGUNA dan MURAH. Sedangklan alasan orang Indonesia adalah alasan
kualitas gambar VCD lebih baik dari pada VCR. OK, baiknya seberapa?
Tidakkah DVD menghasilkan gambar yang lebih baik dari VCD dan besok
ada sistem baru yang lebih baik lagi, begitu seterusnya. Tentu saja
sah-sah saja untuk memburu kepuasan dan kenikmatan. Namun kalau
memang rakyat Indonesia uangnya cekak kenapa pilih sistem yang
mahal dan buntutnya kemudian menempuh cara-cara tidak halal, alias
maling (membajak)???.
Apakah sistem baru dengan teknologi lebih canggih bikin orang Indonesia
tambah pinter? Belum tentu, contoh diatas malah bikin orang Indonesia
semakin bodoh, consumptive, dan koceknya terkuras atau menjadi maling,
atau kombinasi semua plus tetap jadi maling. Banyak lagi contoh bahwa
encourage pembajakan akan backfire ke kita sendiri. Sudah lama diketahui
bahwa kasus kaset lagu bajakan telah bertanggung jawab membuat banyak
musisi/komponis Indonesia pada melarat. Sama halnya mengenai software
program komputer. Dengan mudahnya mendapat program bajakan maka
akan melesukan orang-2 muda yang ingin berprofesi sebagai pencipta
software. Akibatnya orang Indonesia tidak akan pernah punya kesempatan
berkembang sebagai pencipta. Jadi tetep saja sampai matek orang Indonesia
akan jadi konsumen dengan cara maling lagi!.
Saya yakin kalau ada WILL sesungguhnya masih banyak cara untuk
menghindarkan masyarakat Indonesia terutama kaum terpelajar jadi
kaum maling. Tanpa perlu membayar diluar jangkauan dompet kita dan
tanpa perlu pula menempuh jalan ekstrim seperti para pelajar Taliban.
Salah satunya adalah dengan negosiasi dengan produsen seperti yang juga
dikerjakan di nwgara maju. Kedua pemilihan sistem teknologi yang
bijaksana, murah tapi berguna (bukannya mahal tapi gombal). Hal lain
lagi adalah kaum terpelajar harus kritis ikut mengkontrol kaum bisnismen
Indonesia yang acapkali tanpa moral menggiring masyarakat kearah cara
hidup konsumtif tanpa martabat demi kerakusan mereka semata.
Renungkanlah phenomena yang tragis sekarang ini, yakni memakai
teknologi yang canggih VCD (karena menghasilkan gambar yang lebih
jelas) bukan untuk keperluan research (misalnya menyelidiki mekanisme
neutrophil menembus endothelial cell) melainkan untuk rame-rame nonton
rekaman adegan mesum dari mahasiswa; yang tentu saja diproduksi
dengan cara bajakan pula. Kapan bangsa kita punya rasa malu?!.
Eko Raharjo
Calgary
Wahju wrote:
> Saya sebenarnya nggak setuju software bajakan, tapi saya mengkonsumsi.
> Alasan saya, lha wong saya nggak kuat beli aslinya, sementara saya nggak
> pengen ketinggalan sama orang2 yang mampu beli asli, apalagi menghadapi era
> globalisasi (konsep pembenaran yang keterlaluan saya kira).
> Mudah2an dengan penambahan kemampuan saya di bidang komputer (yang
> menggunakan software bajakan) bisa meningkatkan pendapatan, trus bisa beli
> software asli.
>
> Kembali ke sweeping:
> Mustinya kalau mau sweeping yha ke Manggadua, atau nggak usah jauh2, di
> INDOCOMTECH aja terang2an dijual 20ribuan-itu untuk kelas teri. Mau yang
> kakap, sweeping door to door di perusahaan2.
> Kalau sweeping Notebook, saya kira susah nemuin Windows bajakan soalnya
> rata2 khan pre-loaded semua?
>
> thq,
>
> ----- Original Message -----
> From: "Herwening Kalpiko" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, October 22, 2001 10:03 AM
> Subject: Re: [UNDIP] Gerakan Menyaingi Produk Amerika
>
> > Omong-omong soal sweeping produk Microsoft, hmmm saya sempat terenyuh
> > setelah mendengar dari kawan saya bahwa kantor HAKI di UNDIP menggunakan
> > software Windows bajakan. Tapi nggak apa-apa...saya sih setuju-setuju aja
> > wong saya juga pake Windows XP bajakan juga. Lebih bagus lagi, mungkin
> tidak
> > sih kalau Departemen Komunikasi dan Informasi menggelar tender kepada
> > tim-tim pembuat software di Indonesia untuk membuat OS yang asli Indonesia
> > dan suitable buat orang Indonesia dan bisnis Indonesia yang bebas dari
> > tuntutan perusahaan software OS yang ada.
> >
> > Wasalam,
> > Picko
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: "Taufan" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > Sent: Saturday, October 20, 2001 2:07 PM
> > Subject: RE: [UNDIP] Gerakan Menyaingi Produk Amerika
> >
> >
> > >
> > > --- Ibnu Widiyanto <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
> > > > Kalau Jepang dan Taiwan serta Malaysia berani kenapa
> > > > tidak... sekarang saatnya
> > > > pembajakan dilakukan...AAyo bajak wae......
> > > >
> > > > He...he...he.........
> > > >
> > > >
> > > > CU
> > > > IW
> > > >
> > >
> > > Ikut-ikutan ah..biar rame sekalian....
> > > kalo semua pada ngomongin bajak-membajak, saya pengen
> > > ngomong SWEEPING aja ah, tapi ada hubungannya sama
> > > bajak-membajak.
> > > Kalo FPI dengan bosnya Habib Rizieq mau sweeping (dan
> > > sampai sekarang BELUM PERNAH DILAKSANAKAN!) ternyata
> > > sudah ada yang melakukan sweeping duluan bahkan nggak
> > > tanggung2 AMERIKA yg melakukan, nggak percaya? baca
> > > majalah warta ekonomi baru, orang2 microsoft pada
> > > sweeping di BEJ, nyari orang2 yg bawa laptop siapa tau
> > > di dalamnya windows bajakan. untung yg kena sweeping
> > > pakai yg legal....
> > >
> > > wah kalo gini ceritanya, microsoft "bajak" sweepingnya
> > > FPI nih........
> > >
> > > =====
> > > Wassalammualaikum Wr. Wb.
> > >
> > > Taufan
> > > __________________________________________________________
> > > Get paid to search.....
> > > Just click and sign up
> > http://www.epilot.com/joinnow/referral.asp?friend=taufan
> > >
> > > __________________________________________________
> > > Do You Yahoo!?
> > > Make a great connection at Yahoo! Personals.
> > > http://personals.yahoo.com
> > >
> > > --------------------------
> > > Milis Archive: http://messages.to/archives or
> http://messages.to/archives2
> > > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 111
> > > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
> > >
> >
> >
> >
> > --------------------------
> > Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
> > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 114
> > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
> >
> >
>
> --------------------------
> Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
> to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 116
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 118
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
Do You Yahoo!?
Make a great connection at Yahoo! Personals.
