Invasi Pemikiran  
 Publikasi: 15/11/2001 15:10
 

eramuslim - Seorang wanita berjilbab rapi tampak
sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada
murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di
tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada
penghapus. 

Sang guru berkata, "Saya punya permainan... Caranya
begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan
ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka
berserulah Kapur!", jikasaya angkat penghapus ini,
maka berserulah "Penghapus!" 

Murid-muridnya pun mengerti dan mengikuti. Sang guru
berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri
tangannya, semakin lama semakin cepat. 

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata,
"Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur,
maka berserulah "Penghapus!", jika saya angkat
penghapus, maka katakanlah "Kapur!". 

Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, tentu saja
murid-murid kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit
untuk merubahnya. Namun lambat laun, mereka bisa
beradaptasi dan tidak lagi sulit. Selang beberapa
saat, permainan berhenti. 

Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya. "Anak-anak,
begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq,
yang
bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya.
Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada
kita lewat berbagai cara, untuk membalik sesuatu, dari
yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya. 

Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menerima hal
tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan
cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun
kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai
mengikutinya.

"Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik
nilai. Pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, zina
tidak lagi jadi persoalan, pakaian mini menjadi hal
yang lumrah, sex before married menjadi suatu hiburan,
materialistis dan permisive kini menjadi suatu gaya
hidup pilihan, tawuran menjadi trend pemuda... dan
lain lain." 

"Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian
sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Ibu
Guru kepada murid-muridnya. "Paham buu..." 

"Baik permainan kedua..." begitu Bu Guru melanjutkan.
"Bu Guru punya Qur'an, Ibu letakkan di tengah karpet.
Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet.
"Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil
Qur'an yang ada di tengah
tanpa menginjak karpet?" 

Nah, nah, nah. Murid-muridnya berpikir keras. Ada yang
punya alternatif dengan tongkat, dan lain-lain.
Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, ia gulung
karpetnya, dan ia ambil Qur'annya. Ia memenuhi syarat,
tidak menginjak karpet.

"Anak-anak, begitulah ummat Islam dan
musuh-musuhnya... Musuh-musuh Islam tidak akan
menginjak-injak kalian dengan terang-terangan...
Karena tentu kalian akan menolaknya mentah mentah.
Premanpun tak akan rela kalau Islam dihina di
hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kalian
perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak
sadar." 

"Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka
dibangunnyalah pondasi yang kuat. Begitulah Islam,
jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat.
Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah
kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja
hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi
dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu satu
persatu, baru rumah dihancurkan..." 

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia
tidak akan menghantam terang-terangan, tapi ia akan
perlahan-lahan mencopot kalian. Mulai dari perangai
kalian, cara hidup kalian, model pakaian kalian, dan
lain-lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi
kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti
cara yang mereka... Dan itulah yang mereka
inginkan." 

"Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (invasi
pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh
musuh kalian... Paham anak-anak?" "Paham buu!" 

"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan
menginjak-injak Islam, Bu?" tanya seorang murid.
"Sesungguhnya dahulu mereka terang-terangan menyerang,
semisal Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain.
Tapi sekarang tidak lagi." 

"Begitulah Islam, Kalau diserang perlahan-lahan,
mereka tidak akan sadar, akhirnya ambruk. Tapi kalau
diserang serentak terang-terangan, mereka akan bangkit
serentak, baru mereka akan sadar." Kalau saja ummat
Islam di Ambon tidak diserang, mungkin umat Islam akan
lengah terhadap sesuatu yang sebenarnya selalu
mengincar mereka. Paham anak-anak?" "Paham Buu.." 

"Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali
ini, dan mari kita berdoa dahulu sebelum pulang..."
Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar
meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran
masing-masing di kepalanya. (Enggar Tri W
[EMAIL PROTECTED])  


=====
Wassalammualaikum Wr. Wb.

Taufan
__________________________________________________________
Get paid to search.....
Just click and sign up http://www.epilot.com/joinnow/referral.asp?friend=taufan

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Find the one for you at Yahoo! Personals
http://personals.yahoo.com

--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 186
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke