PANCASILA TAMENG KITA

Drs. Antonius Bader, wakil direktur sekolah SMA Medak I yang
baru, berdiri tegak di depan kantor mengamati murid-2 yang
berdatangan. Dalam setelan safari abu-abu PNS ia nampak gagah
dan berwibawa. Rambutnya yang disisir rapi dan mengkilat oleh
pomade serta kacamata putihnya memberi kesan cerdas dan
teroganisir. Harus diakui pak Antonius memiliki segala macam
persyaratan sebagai pemimpin. Terlebih dari itu ia adalah orang
yang kaya ide, pandai berbicara namun tegas dalam keputusannya.
Baru beberapa bulan ia menduduki jabatannya sudah banyak
perubahan-2 yang dilakukannya.

Kontras dengan pak Antonius, Drs Moh.Suroto sang direktur sekolah,
nampak ingah-ingih (tidak tegas). Meski setelan safari yang dipakainya
lebih nampak baru tetapi tidak ada sedikitpun kesan berwibawa. Wajahnya
terkesan serba lancip mengingatkan pada kuda laut. Kacamata putih
yang selalu dikenakannya malah memberi kesan juling. Diatas itu semua,
cara jalan pak Suroto yang penuh gaya tetapi clumsy mengingatkan
pada tokoh Jar-Jar Bink dalam filem the Phantom Menace. Pak Suroto
tidak menaruh interest pada pembaharuan. Satu hal yang menjadi
interesnya adalah mengamankan posisinya sebagai direktur SMA. Hal
lain yang disukainya adalah upacara bendera tiap hari Senen. Ia terlihat

amat menikmati momen-2 sebagai sesepuh upacara, terutama ketika
seorang karyawan yang berfungsi sebagai ajudan menyerahkan text
pidato untuk dibacakannya matanya yang juling nampak berkilat-kilat.

Ada sesuatu yang fishy dalam pengangkatan pak Antonius sebagai wakil
direktur sebab pak Indrajit, wakil direktur lama, tidak dipromosikan
menjadi direktur sekolah di SMA lainnya seperti lazimnya. Melainkan
tetap mengajar sebagai guru biasa. Pak Indrajit pengajar mata pelajaran
Fisika adalah tipe guru konservatif. Ia menerapkan disiplin kaku dan
sangat keras memperlakukan murid. Namun mutu pengajarannya
tergolong baik dan tidak membedakan murid satu dengan yang lain.
Hampir setiap murid laki atau perempuan pernah kena pukul dengan
jangka sorong darinya. Oleh karena itu ia amat ditakuti. Mengenai latar
belakangnya sesungguhnya tidak banyak orang yang tahu. Meskipun
demikian terdapat desas-desus bahwa ybs eks anggota organisasi
mahasiswa yang berafiliasi ke PKI.

Pengangkatan pak Antonius yang Katolik sebagai wakil direktur dapat
dibayangkan membuat pak Samir, guru agama Islam, amat sangat unhappy.
Cara ia memperlakukan Siman tempo lalu mencerminkan betapa tidak
puasnya dia dengan situasi tsb. Boleh jadi ungkapan "minoritas-tak-
tahu-diri" yang diucapkan di depan kelas Siman karena ia Katolik,
sesungguhnya ditujukan kepada pak Antonius. Terlebih karena sebagai
wakil direktur pak Antonius terang-terangan lebih dominan dibanding
direkturnya. Dibawah wakil direktur baru SMA Medak I benar-benar
sedang mengalami iklim penertiban dan pendisiplinan. Tentu saja bagi
pak Samir merupakan suatu nightmare!

Rupanya pak Samir tidak sendiri, tidak sedikit guru-guru lain yang
merasa sesak nafas dalam iklim baru tsb. Bahkan dipihak muridpun mulai
muncul banyak keluhan. Pasalnya adalah cara pak Antonius menagih uang
sekolah oleh sementara murid dianggap semena-mena. Tentu saja selalu
ada murid yang suka menggelapkan uang sekolah yang diberikan orang
tua mereka. Tetapi kenyataan bahwa banyak orang tua murid yang hidup
sangat pas-pasan tidaklah dapat dihiraukan. Meskipun uang sekolah
tidak besar namun untuk keluarga-2 tsb sudah merupakan suatu beban.
Rupanya tidak ada dalam kesadaran pak Antonius bahwa murid punya hak
untuk sekolah dengan tenang tanpa diganggu dengan segala macam ancaman
mengenai uang sekolah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa pak Antonius
suka memakai istilah-2 sengak dan merendahkan dalam menagih pembayaran
uang sekolah. Diluar itu pak Indrajit yang posisinya digeser oleh pak
Antonius tentu pula tidak merasa senang.

Pak Antonius simply tidak menggubris atas reaksi kepemimpinannya.
Sebagai seorang yang sejak kecil dalam pendidikan sekolahan Katolik
ia sangat tahu apa arti self confidence. Terlebih lagi di tempat dia
tinggal, di Semarang, ia adalah seorang kader Golkar yang sedang naik
daun. Jadi apa lagi yang perlu dikuatirkan. Semua orang tahu Golkarlah
pemilik negara ini. Ekskutif dan ABRI mutlak dikuasai oleh Golkar.
Sedangkan legislatif dipenuhi oleh para moron yang hanya konsern pada
gaji, fasilitas dan pensiun yang diperolehnya. Sementara itu kekuasaan
yudikatif yang merupakan pertahanan terakhir dari sistem negara republik

tidak lebih bagai wayang kilangan gapit. Kadang dalam penampilannya
pengadilan kelihatan GARANG seolah-olah mampu mengunyah siapa saja,
tanpa terkecuali, tapi dalam pelaksanannnya kemudian lembaga itu berubah

menjadi arena panggung badut Srimulat.

Benar-2 tergolong orang sibuklah pak Antonius. Pagi mengajar, malam
aktif dalam kegiatan politik. Seperti malam itu setelah usai makan malam

pak Antonius nampak bersiap mau keluar rumah. Istrinya ibu Maria Gigi
yang berkulit hitam manis mempersiapkan jas hujan untuknya. Namun
malam itu skuternya tidak meluncur kearah markas Golkar di Kalisari
melainkan ke arah Barat ke Gereja Katolik di paroki Sari Bong. Malam
itu ia menghadiri pertemuan tokoh-2 Katolik masyarakat se Semarang.
Seorang Pastor memimpin pertemuan malam itu. Tokoh Katolik dari
berbagai kalangan dan profesi, dosen, dokter, pejabat pemerintah,
legislatif,
ABRI, pengusaha dst; diantaranya adalah satu-satunya camat wanita se
kabupaten Semarang muncul dalam acara tsb. Pertemuan dibuka dengan
suatu doa. Tetapi topik selanjutnya tidak mengenai soal kerohanian
melainkan membahas mengenai situasi sosial-politik.

Pastor Durkolo yang akrab dengan panggilan Romo Dur sesungguhnya
adalah pastor mahasiswa. Mengenai bagaimana seorang Pastor mahasiswa
yang semestinya bertugas melayani kebutuhan rohani para mahasiswa se
Semarang bisa klayapan malam-2 memimpin rapat mengenai sospol adalah
suatu misteri. Namun begitulah the nature of the Catholic Church penuh
dengan misteri, teka-teki dan secrecy. Sesungguhnya tidak banyak umat
tahu menahu bagaimana mengenai kehidupan didalam hirarkie. Meskipun
kehidupan mereka sering sangat  'ASOR' dan amoral namun umat waton
percaya saja. Kepercayaan mereka kepada hirarkie sama tebalnya dengan
iman kepercayaan mereka terhadap doktrin trinitas.

"Seorang Katolik harus menjadi posisi kunci tidak perduli dikalangan
mana ia berada" begitu sulut Romo Dur!. Selama pancasila masih
dijadikan dasar negara RI maka kita akan selalu punya pengaruh.
"Pancasila adalah TAMENG kita oleh karena itu harus kita pertahankan;
dan adalah tidak benar bahwa Kristen adalah minoritas tengok di
Indonesia bagian timur Kristen/Katolik adalah mayoritas". Indonesia
bagian Timur adalah ibarat kartu TRUF kita". Begitulah kata demi kata
mengalir lancar dari mulut Durkolo. Para hadirin menjadi semringah
seolah-olah Roh Kudus sendiri telah memberi pencerahan kepada mereka.
Wajah mereka kelihatan tambah penuh keyakinan dan percaya diri.
Kecuali satu peserta seorang dokter muda yang duduk di pojok matanya
berkejab-kejab tanda tidak paham dengan apa sedang terjadi. Durkolo
menutup wejangannya dengan satu kalimat yang dibikin menyentuh.
"Ad Majorem dei Gloriem". Seluruh karya kita adalah demi kemulianNya. .

Semarang, 1988

Eko Raharjo
[EMAIL PROTECTED]





--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 221
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke