Saya forward dari milis pengajian Muenchen, format html saya
sederhanakan dengan mengkopi bagian yg perlu saja.


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0111/22/dikbud/emos09.htm
Emosi Spiritual Dibutuhkan untuk Menyatukan IQ dan EQ

Solo, Kompas
Ketika memasuki rutinitas kerja sehari-hari, kita sering lupa
menyatukan pikiran dan hati, sehingga mengalami split personality
(kepribadian terpecah) dan sulit memaknai hasil kerjanya sendiri.
Oleh karena itu, kita membutuhkan emotional spiritual quotient
(ESQ) sebagai bekal untuk menyatukan intelligent quotient (IQ) dan
emotional quotient (EQ).Hal itu dijelaskan oleh Ary Ginanjar
Agustian-pengarang buku ESQ Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan
Emosi dan Spiritual-dalam seminar nasional bertajuk "Spiritual
Quotient, Cerdas Akal-Cerdas Hati-Cerdas Nurani" di Universitas
Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rabu (21/11), di Solo. Seminar yang
diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-43 Fakultas Psikologi
UMS ini juga menghadirkan pembicara Drs Yadi Purwanto MM dan
Juliani Prasetyaningrum (keduanya dosen Fakultas Psikologi UMS),
serta Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM)
Djamaludin Ancok.

Agustian menjelaskan, sejak SD, kemampuan kita sering diukur oleh
kecerdasan rasional atau biasa disebut IQ. Semua diukur berdasarkan
angka. Kemudian, pada tahun 1990, Daniel Goleman mengembangkan EQ
untuk bekal mengukur kesuksesan manusia. 

"Padahal, keduanya tertuju pada sikap materialistis dan
antroposentris. Kita cenderung mengejar kemewahan, uang, pesta
pora, dan kesuksesan dalam berbagai usaha, tetapi lupa memaknai
setiap hasil usaha dan perilaku kita," jelasnya.

Manusia yang mengandalkan IQ dan EQ, katanya, cenderung
berorientasi pada materi, keinginan untuk menjadi orang terkenal,
dan mencari jabatan. Pengalaman Hitler menunjukkan, tokoh ini
memang memiliki IQ dan EQ tinggi, sehingga dengan kemampuannya dia
sanggup mengajak warga Jerman untuk menjadi pengikutnya, lalu
melakukan tindakan-tindakan anarkis.

Di Indonesia, tambahnya, di saat krisis multidimensi melanda,
gerakan hati untuk bersama-sama memelihara kasih sayang sulit untuk
dipergunakan lagi. Akibatnya, manusia tidak lagi malu berbuat
korupsi, membakar orang, berkelahi, dan tidak malu menjadi pasukan
berani mati. Kesadaran diri berdasarkan nurani yang universal
menjadi tumpul.

Kekuatan spritual

Menanggapi pandangan Agustian, Yadi Purwanto mengatakan, pengarang
buku ini meneruskan pandangan dari Danah Zohar dan Marshall (2000)
yang menerbitkan buku tentang SQ. SQ yang dikembangkan kedua orang
ini lebih luas menjelaskan dahsyatnya kekuatan spiritual, meskipun
akhirnya mereka terjebak oleh paralogismenya, yakni kata quotient. 

Menurut Agustian, dua unsur, yakni aspek nilai dan makna, sebagai
unsur penting kecerdasan spiritual. SQ adalah kecerdasan untuk
menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai, sementara
kecerdasan menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks
makna yang lebih luas dan kaya. 

Selain itu, ujarnya, SQ juga memperlihatkan kecerdasan untuk
menilai bahwa tindakan hidup atau jalan hidup seseorang lebih
bermakna dibandingkan lainnya. Kecerdasan ini tidak hanya untuk
mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif
menemukan nilai baru.

Adapun Juliani Prasetyaningrum menyebutkan, ESQ yang ditawarkan
Agustian senantiasa berpusat pada prinsip atau kebenaran hakiki
yang bersifat universal dan abadi. Model ini terdiri dari empat
tahapan, yakni (1) proses penjernihan emosi, (2) membangun mental,
(3) ketangguhan pribadi, dan (4) ketangguhan sosial.

Kebermaknaan hidup

Sementara Djamaludin Ancok menegaskan, modal spiritual menjadi
semakin penting peranannya karena upaya membangun manusia yang
cerdas dengan IQ tinggi dan manusia yang pandai mengelola emosinya
dalam berhubungan dengan sesamanya tidaklah mengantar manusia pada
kebermaknaan hidup. "Padahal, kebermaknaan hidup adalah sebuah
motivasi yang kuat dan mendorong orang untuk melakukan sesuatu
kegiatan yang berguna. Hidup yang berguna adalah hidup yang terus
memberi makna pada diri sendiri dan orang lain," jelasnya. 

Djamaludin menambahkan, modal spiritual ini juga memberikan
perasaan hidup yang komplet (wholeness). Inilah yang disebut
psikolog Abraham Maslow dengan peak experience (pengalaman puncak);
perasaan yang muncul karena kedekatan dengan Sang Pencipta. 

Di mata akademisi yang berpandangan demikian, agama akan menjadi
pembimbing kehidupan, agar tidak menjadi seorang egoistik atau
berorientasi pada diri sendiri. Oleh karena itu, ujarnya, untuk
mengembangkan keagamaan adalah bagian mutlak dan utama bagi
tumbuhnya masyarakat makmur dan sejahtera, serta aman dan damai.
(sto) 



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Autos - Get free new car price quotes
http://autos.yahoo.com

--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 587
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke