Saya forward dari milis pengajian Muenchen, format html saya
sederhanakan dengan mengkopi bagian yg perlu saja.

http://www.lppm.ac.id/majalah/sep-2001/topik04.htm
MANAJEMEN/No. 157/SEPTEMBER 2001

Perlukah Mengukur SQ?
Olaf Masrur
Direktur Program Yayasan Gapura
Sumber Daya Mitranda

Membendakan hal-hal yang bersifat abstrak, mengkuantitatifkan yang
kualitatif, memasuki wilayah yang bukan wilayah kita, nampaknya
kurang bisa diterima oleh akal sehat (common sense), kalau tidak
mau dikatakan sebagai hal yang tidak berdasar.

Aktivitas pengukuran biasanya ditujukan untuk hal-hal yang bersifat
kebendaan (materi atau fisik), sedangkan mengukur sesuatu yang
abstrak adalah pekerjaan sia-sia, reaksi dan tanggapannya pun
beragam, karena satuan-satuan yang dipakai berbeda antara satu
orang dengan yang lainnya.


Pengukuran terhadap sesuatu yang bersifat materi, seperti panjang,
lebar, tinggi, volume, suhu, maupun tekanan, satuan-satuan yang
dipakai, telah disepakati dengan jelas. Namun untuk mengukur
besarnya cinta, kasih sayang seorang ibu atau bapak terhadap
anaknya, maka jawabannya akan sangat subyektif. Kasih sayang Tuhan
pun diterima kadarnya oleh hamba-hambaNya secara berbeda-beda.
Terbukti dengan adanya orang yang beriman, ada juga yang tidak
beriman (atau membantah)!


Upaya orang menghitung IQ seseorang pada tahap awal kelihatannya
membawa hasil, namun diakui juga di kemudian hari bahwa orang yang
tinggi IQ-nya tidak menjamin keberhasilan hidupnya. Kini pengukuran
IQ seseorang telah diakui kelemahan dan sekaligus kekeliruannya.
Begitu juga dengan pengukuran EQ. Muncul lagi AQ dengan obyek
pengukuran yang bersifat abstrak, hasilnya�? Bisa ditebak, hasil
akhirnya pun akan bersifat relatif. 


Sekarang, muncul lagi SQ dimana jika dicari terjemahan yang paling
mendekati yaitu �Kuosien atau Kapasitas Roh�. Kita tahu bahwa roh
itu ada namun sifatnya sangat abstrak. Bahkan di surat Al-Isra 85
dikutip bahwa �Roh itu urusan Tuhan, manusia tidak diberi ilmu
melainkan sedikit sekali�.
Jadi kalau kita berupaya untuk mengukur sesuatu kedalam bentuk
angka, atau satuan-satuan yang standarnya sulit disepakati bersama,
maka upaya perhitungan tersebut bisa mempunyai implikasi yang
bermacam-macam, antara lain:


(1) Manusia bisa mengukur iman orang lain, apa benar?
(2) Ada orang yang SQ-nya rendah, sedang, dan tinggi, apa iya?
(3) Manusia merasa lebih tinggi dari manusia yang lain, apa
dibenarkan?


Implikasi yang paling serius adalah membendakan hal-hal yang
bersifat abstrak, meng-kuantitatifkan yang kualitatif, memasuki
wilayah (territory) yang bukan wilayah kita. Hal ini nampaknya
kurang bisa diterima oleh akal sehat (common sense), kalau tidak
mau dikatakan sebagai hal yang tidak berdasar (baseless).
Sebagai bahan pertimbangan, simak hasil pengkajian, penelitian
seorang ahli Tafsir Qur�an, Bapak Quraish Shihab, beliau tidak
menemukan satu kata pun didalam Al Qur�an kata �Akal� yang berarti
kata benda, semuanya berarti kata kerja (aktifitas) atau proses
kerja. Jadi disini dapat ditarik pelajaran bahwa pembendaan atas
sesuatu yang abstrak tidak dibenarkan, (Mind is not a thing, it�s
an activity. There�s nothing such a �God Spot�, spot is a thing).


Jika kembali merujuk Surat Al-Isra 85, maka urusan spiritual baik
yang bersifat hakikatnya, ataupun kualitas spiritual itu sendiri
sebaiknya kita serahkan Tuhan yang menanganinya. Karena jelas
difirmankan �Roh itu urusan Tuhan, manusia tidak diberi ilmu
melainkan sedikit�.


Tuhan adalah hakim satu-satunya atas prestasi manusia, Dia
menghakimi atas dasar ilmu-Nya yang sempurna, dan Dia menjamin
bahwa tidak ada seorang manusia pun dianiaya didalam keputusan
mahkamah-Nya, semuanya didasarkan pada keadilan dan
kebijaksanaan-Nya yang juga sempurna. Dan Tuhan tidak menganiaya
hamba-Nya (siapapun, bahkan orang Yahudi sekalipun), tetapi
manusialah yang menganiaya dirinya sendiri.


Coba kita renungkan, mengapa Nabi-nabi atau Rasul-rasul dibelakang
namanya ditambahkan A.S. (Alaihi Salam), SWA (ShalALLAHu Alaihi Wa
Salam). Dan juga terhadap sahabat-sahabat Rasul dibelakang namanya
ditambahkan R.A.(RadhiyaALLAHu Anhu/Anha)? Itu semua tidak lain
adalah doa yang berarti kiranya Allah melimpahkan selamat
kepadanya, kiranya ridha Allah dilimpahkan kepadanya. Nah, kalau
terhadap orang-orang yang sekaliber mereka saja kita hanya bisa
mendoakan, apalagi terhadap manusia lainnya? Apakah kita akan
mengatakan sesuatu yang lebih dari itu atas orang lain? Apakah kita
berani memberikan label penilaian? Karena pada akhirnya, ukurlah
apa yang bisa diukur, yang tidak bisa diukur sebaiknya serahkan
kepada yang Berhak Mengukur. nQ, sebelum memasuki ESQ kita akan
melewati sebuah jembatan yang kemudian kita kenal sebagai Adversity
Quotient (AQ), yang juga dapat kita artikan sebagai kemampuan
seseorang untuk bertahan di tengah halangan dan rintangan
(endurance). Setelah IQ disempurnakan dengan EQ, tampaknya masih
kurang sehingga kemudian lahir AQ, karena dengan AQ maka kedua
quotient sebelumnya akan semakin sempurna, tentunya jika AQ ini
senantiasa dilatih. 


Endurance yang menjadi pokok bahasan Adversity Quotient ini
digambarkan sebagai orang- orang yang tidak mudah menyerah. Untuk
lebih memudahkan pemahaman AQ ini, diambil analogi dari pendaki
gunung, para pendaki gunung ini dibagi ke dalam tiga (3) katagori,
pertama adalah the quitters yaitu orang yang mudah menyerah,
biasanya mereka akan mengatakan,�ah ogah ah !�, atau dapat
dikatakan sebagai figur seseorang yang belum lagi melakukan
apa-apa, namun sudah menyatakan ketidakmauannya, atau
ketidakmampuannya, kedua adalah the campers yaitu orang yang
mendaki gunung namun setibanya di lereng, mereka mendirikan tenda
dan tidak melanjutkan hingga ke puncak gunung, dan ketiga adalah
the climbers yaitu, manusia yang mengetahui apa yang ingin ia
capai, ia tahu untuk mencapai puncak ia akan mendapatkan halangan,
rintangan, dan juga dibutuhkan tenaga dan semangat yang tinggi,
namun ia terus melanjutkan perjalanannya hingga mencapai puncak.
Saya rasa AQ perlu juga dipahami, karena hanya dengan mendalami IQ
dan EQ saja, maka kurang rasanya sebelum ia tahan terhadap cobaan,
godaan, penderitaan yang harus dirasakan oleh seseorang sebelum ia
mencapai puncak, seperti yang diajarkan dalam Adversity Quotient
(AQ).


Kesimpulan saya, dari semua yang berbicara di diskusi ini adalah
mereka yang sedang mencari, dan belum menemukan kedewasaan
spiritual. Kita bicara tentang quotient, dan juga bagaimana melatih
dan mengembangkan inteligensia kita, dan itu semua ternyata tidak
memiliki keterbatasan, begitu juga dengan emosi kita, apakah itu
sedih, puas, marah dan lain-lainnya, juga tidak ada batasnya.
Adversity yang menjadi faktor pembelajaran kita setelah kita
menemukan faktor mental, dan emosional yang membuat inteligensia
kita bergerak, ditambah lagi dengan fisik yaitu adversity, maka
lengkaplah pembelajaran kita. Sehubungan dengan pencarian
Kecerdasan Spiritual ini, maka yang menarik menurut saya adalah
kata �ikhlas� seperti yang telah dikemukakan oleh Bapak Komaruddin,
ternyata kata ikhlas itu pun tidak menggambarkan keikhlasan, jadi
yang kita cari adalah, bagaimana kita bisa memperoleh sesuatu dalam
hal ini berupa kepuasan, dimana saat intelegensia telah mentok,
emosi juga mentok, adversity mentok, bahkan spiritual juga mentok,
maka sampailah kita pada satu kata yaitu iman. Iman inilah yang
menjadi penutup diskusi kita siang ini. Jadi jika kita sudah mentok
kemana-mana, maka iman lah yang menjadi permulaan, menjadi awal
dari kehidupan kita seterusnya didalam mencari, kesimpulannya kata
kuncinya adalah iman. (m) dilana



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Autos - Get free new car price quotes
http://autos.yahoo.com

--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 586
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke