Apakah semua mahasiswa Undip adalah anak konglomerat? Apakah petingi2 Undip tidak punya power dan takut pada mahasiswanya yang anak pejabat?
IRONIS ....... Ada Apa dengan Pekik? (3-Habis) Mahasiswa Pas-pasan Terpaksa Utang PELAKSANAAN pengenalan kehidupan ilmiah kampus (pekik) selain menyita waktu dan tenaga juga membuat mahasiswa baru harus mengeluarkan uang cukup banyak. Mahasiswa anak orang mampu bisa mengatasi kekurangan uang dengan mendatangi bank di dekat kampus atau mengambil uang di anjungan tunai mandiri (ATM). Namun bagi mahasiswa dari keluarga pas-pasan, seperti almarhumah Cisilia Puji Rahayu, masalah itu tentu menjadi besar. "Uang saku yang diberikan orang tua saya sudah habis pada hari pertama pelaksanaan pekik. Sebab, sebelumnya mahasiswa senior mengharuskan kami melaksanakan kegiatan prapekik. Untung, ada teman baik hati meminjami uang," kata seorang mahasiswi baru Fakultas Ekonomi Undip yang enggan disebutkan namanya. Sebagai mahasiswa yang mengaku datang dari daerah (eks Karesidenan Kedu), dia benar-benar kelabakan ketika mahasiswa senior memberikan tugas nonilmiah yang membutuhkan biaya. "Senior itu kalau nyuruh aneh-aneh. Kami harus mengenakan kaus kaki kuning, membuat nasi tumpeng kuning lengkap dengan berbagai lauk-pauk, membawa biskuit Roma, 2,5 kg beras, 1 kg gula pasir, 1/2 kg minyak goreng, dan dan mengumpulkan baju pantas pakai. Habis deh uang saku saya." Penuturan senada diungkapkan mahasiswa baru Fakultas Ekonomi Undip yang lain. Warga eks Karesidenan Pekalongan ini mengaku beruntung dibekali kartu ATM oleh orang tuanya. Ketika kekurangan uang, dia tinggal mengambil di ATM depan Undip. "Namun antrean panjang banget. Untuk mengambil uang membutuhkan waktu setengah jam lebih," kata dia. Selama mengikuti kegiatan yang dibuat mahasiswa senior itu, dia mengaku benar-benar lelah fisik dan mental. "Saya harus berangkat pukul 06.00 dan pulang malam. Paling cepat, ya pukul 22.00. Itu pun setelah tugas-tugas ilmiah yang dibebankan ke setiap kelompok rampung kami kerjakan. Di rumah saya harus mempersiapkan barang-barang yang diminta senior untuk kami bawa besok pagi." Banyak Pelanggaran Sebenarnya jadwal pelaksanaan pekik yang ditetapkan Rektorat Undip hanya pada 20-21 Agustus. Kenyataannya banyak mahasiswa senior membuat program pra dan pascapekik. Hal itu antara lain dilaporkan Koordinator Forum Mahasiswa Merdeka (FMM) Hamdani Nasution, lembaga advokasi mahasiswa Fakultas MIPA Undip. Sungguhpun mahasiswa senior membuat program pra dan pascapekik, Fakultas MIPA tak bertindak tegas. "Dekanat juga tidak bertindak tegas terhadap pelaksanaan kegiatan pra dan pascapekik. Di samping itu, dalam pelaksanaan kegiatan ilegal itu banyak pelanggaran yang bersifat fisik dan psikis. Seperti bentakan para senior yang menyuruh mahasiswa baru push up saat bersalah dan melakukan tugas-tugas lain," kata dia. Selain itu, lanjut dia, juga ada penarikan sejumlah dana di luar kesepakatan. Dalam catatan FMM, ada kegiatan pra dan pascapekik yang sama-sama dilakukan dua hari. Seorang mahasiswa baru Jurusan Fisika kehilangan sepeda motor saat mengikuti pekik dan tak ada yang bertanggung jawab. "Ada pula mahasiswa baru diperintah seniornya secara paksa membeli rokok. Alasannya, dia tak mengikuti prapekik. Pembantu Dekan III tidak menindaklanjuti laporan anggota FMM dan seorang mahasiswa baru Jurusan Matematika." Karena itu dia meminta rektorat menindaklanjuti laporan FMM mengenai berbagai kegiatan yang tak sesuai dengan aturan resmi yang dikeluarkan rektorat. Solidaritas Namun sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik Undip menyatakan kegiatan pra dan pascapekik juga bermanfaat. "Karena mahasiswa baru merasa teman senasib akhirnya tercipta solidaritas tinggi. Di antara kami sudah terbiasa saling menolong dan bekerja sama dalam segala hal," kata seorang mahasiswi asal eks Karesidenan Surakarta. Di samping itu, kata dia, berbagai hal selama mengikuti kegiatan itu baik negatif maupun positif bisa menjadi kenangan tersendiri. "Memang berat mengikuti kegiatan itu. Tetapi bisa saya ceritakan ke anak-cucu kelak. Cuma yang saya sesalkan ada senior terlalu galak kepada yunior. Padahal, tanpa itu mahasiswa baru tetap hormat pada senior." Kendati menerima lebih banyak tekanan fisik daripada unsur pendidikan, mahasiswa yang pernah melakoni dengan "mulus" mengenang itu sebagai romantisme. Widiarto, mahasiswa Fakultas Ekonomi Undip angkatan 1993, mengaku ospek menumbuhkan rasa kebersamaan. "Teman-teman seangkatan bisa saling kenal lebih cepat. Merasa senasib ketika harus mencari bahan-bahan untuk tugas. Rasa dendam memang ada. Tetapi saya tidak membalas pada adik angkatan," ujar dia, yang kini bekerja di sebuah perusahaan terkemuka di Semarang. Apa pun namanya, kegiatan mahasiswa baru kerap mengundang banyak kekonyolan tersendiri. Tetapi ketika kegiatan itu berisiko, bahkan membuat peserta stres, masihkah bakal dilanjutkan? Tidak adakah kegiatan akademis lain yang lebih menekankan penanaman nilai intelektualitas? Kegiatan itu semestinya tidak berisi doktrin untuk menanamkan pengaruh sebuah gerakan mahasiswa. "Lebih baik peserta diberi kebebasan memilih mata kuliah lewat windows shopping misalnya. Mahasiswa baru dibebaskan mengikuti kuliah di fakultas selama setengah semester untuk menentukan pilihan selanjutnya," ujar dosen Fakultas Sastra Undip, Agus Maladi Irianto.(Ali Arifin Muhlish, Agus Toto Widyatmoko-64g) _____________________________________________________________ Get email for your site ---> http://www.everyone.net _____________________________________________________________ Promote your group and strengthen ties to your members with [EMAIL PROTECTED] by Everyone.net http://www.everyone.net/?btn=tag --------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #77 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
