Bagi saya tinggal dilihat telur mana yang busuk dan telur busuk mana yang 
dibusukkan.

Jadi kesimpulannya telur busuk nggak enak dimakan.

IW

>===== Original Message From <[EMAIL PROTECTED]> =====
>Dibawah ini adalah tulisan dari M. Shiddiq Al-Jawi mengenai
>pemboman di Bali.
>*************
>
>Assalamu'alaikum wr.wb.
>
>               ANALISIS POLITIK PEMBOMAN BALI
>                 Oleh: M. Shiddiq Al-Jawi
>
>      Setelah peristiwa pemboman di Bali (Sabtu,12 Oktober 2002, 23.10
>WITA) yang menewaskan ratusan korban, muncul tudingan bahwa pelakunya
>adalah jaringan teroris Al-Qaidah. Tudingan ini awalnya dari pemerintah
>AS,
>kemudian diikuti oleh Menlu Australia Alexander Downer, dan selanjutnya
>diikuti pula oleh Menteri Pertahanan RI Matori Abdul Jalil dan Ketua DPR
>RI
>Akbar Tanjung (www.detik.com, 15/10/02). Padahal, pemerintah Indonesia
>sendiri "hanya" mengatakan peristiwa pemboman itu adalah aksi terorisme,
>
>tanpa menghubung-hubungkan dengan jaringan Al-Qaidah. Bahkan Polri
>sendiri
>belum sampai pada kesimpulan itu. Polri baru dalam taraf penyelidikan,
>yaitu menganalisis jenis bom yang dipakai (C-4), mengumpulkan bukti
>--berupa dua KTP yang ditemukan di tenpat kejadian, salah satunya
>berinisial MF-- menanyai saksi-saksi, serta menahan 10 orang yang
>berwarganegara Pakistan (Kedaulatan Rakyat, 16 Oktober, 2002).
>      Tuduhan bahwa pelaku pemboman Bali adalah jaringan Al-Qaidah,
>adalah
>tuduhan prematur, yang tidak didasarkan pada bukti atau argumentasi apa
>pun. Bahkan vonis bahwa peristiwa itu adalah aksi terorisme, juga
>terlalu
>dini. Sebab bukankah masih ada kemungkinan tragedi itu adalah aksi
>kriminalitas, bukan terorisme ? Tapi nampaknya slogan perang anti
>terorisme
>yang direkayasa AS pasca peristiwa 11 September 2001 sangatlah kuat dan
>berpengaruh, sehingga tanpa penyelidikan apa pun, langsung disimpulkan
>bahwa pemboman Bali itu adalah aksi terorisme.
>      Tudingan yang diarahkan pada Al-Qaidah itu pun sulit diterima
>dengan
>beberapa alasan berikut. Pertama, pemboman Bali tersebut tidak dapat
>secara
>langsung menjadi bukti keberadaan Al-Qaidah di Indonesia. Bahwa pemboman
>
>telah terjadi, memang iya. Tapi bahwa pelakunya Al-Qaidah, ini masalah
>lain. Pemboman bukan bukti keberadaan Al-Qaidah. Jadi, menuduh Al-Qaidah
>
>sebagai pelaku pemboman, adalah tindakan mencampuradukkan fakta dengan
>opini, yang jelas tendensius dan bias. Kedua, kalau memang benar
>pelakunya
>Al-Qaidah, maka sasarannya biasanya orang-orang AS atau aset-aset
>strategis
>milik AS. Padahal, sasaran pemboman Bali adalah aset warga Indonesia.
>Juga
>korban pemboman di Bali kebanyakan adalah warganegara Australia. Hanya
>ada
>2 (dua) warga AS yang tewas dalam tragedi itu
>(www.detik.com, 15/10/02). Ketiga, kalau benar pelakunya Al-Qaidah, maka
>
>pemboman Bali itu adalah tindakan bodoh, tidak taktis, dan hanya
>tindakan
>bunuh-diri politis. Sebab tragedi ini justru akan memojokkan Al-Qaidah
>itu
>sendiri, yang bahkan dapat dijadikan dalih untuk membenarkan keberadaan
>Al-Qaidah di Indonesia. Ini suatu hal yang hanya diinginkan AS. Tak
>mungkin
>diinginkan Al-Qaidah. Di samping itu, pemboman itu hanya akan makin
>memperparah keadaan sesama muslim
>di negeri Indonesia, yang kondisinya dalam berbagai bidang sudah
>terpuruk
>dan ambruk. Tentu ini akan dihindari oleh Al-Qaidah.
>      Jika kemungkinan Al-Qaidah sebagai pelaku pemboman sulit masuk
>akal,
>siapa sebenarnya otak dan pelakunya ? Berdasarkan analisis pada aspek
>politis, teknis, dan motif, Amerika Serikat-lah yang paling layak
>dinominasikan sebagai sutradara pemboman Bali. Argumentasinya sebagai
>berikut. Pertama, secara politis, sejak tragedi WTC 11 September 2001,
>AS
>melancarkan perang global terhadap terorisme. Dan Indonesia, dinilai AS
>kurang responsif dan lemah menjalankan strategi ini. Wapres Hamzah Haz
>berkali-kali mengeluarkan pernyataan bahwa di Indonesia tak ada jaringan
>
>teroris Al-Qaidah. Ini tentunya sangat menjengkelkan AS. Maka, tragedi
>Bali
>ini sengaja direkayasa AS untuk membungkam pernyataan yang menafikan
>keberadaan Al-Qaidah di Indonesia, sekaligus untuk menekan pemerintah RI
>
>agar mendukung kebijakan AS memberantas terorisme internasional.
>Kedua,
>secara
>teknis, bom yang digunakan adalah bom jenis C-4 yang memiliki daya ledak
>
>sangat tinggi (high explosive) yang resepnya sangat rahasia dan hanya
>diketahui oleh negara-negara tertentu, yaitu Jerman dan Amerika Serikat.
>
>Sedang PT. Pindad Bandung hanya memproduksi bom TNT dan ANVO, dan tidak
>memperoduksi jenis C-4. (Republika, 14 Oktober 2002). Maka, AS-lah yang
>paling mungkin melakukan rekayasa pemboman itu. Keempat, dua pekan
>sebelum
>peristiwa pemboman Bali tersebut, kapal
>perang AS merapat di Benoa, Bali. (Republika, 15 Oktober 2002). Ini
>menjadi
>indikasi, bahwa AS sendirilah yang merancang dan mengatur segala
>sesuatunya, seperti menyediakan bomnya, menyiapkan personel
>pelaksananya,
>termasuk teknis pelaksanaannya. Kelima, pada pagi hari sebelum kejadian
>(Sabtu, 12/10/02), pemerintah AS telah memperingatkan warganegaranya
>yang
>ada di Indonesia agar berhati-hati dan tidak mendekati tempat-tempat
>hiburan (Press Release FPI,
>www.detik.com, 15/10/02). Ini juga indikasi kuat, yang membuktikan AS
>itu
>sendirilah yang merekayasa pemboman Bali. Buktinya, hanya 2 warga AS
>yang
>tewas dalam tragedi Bali itu (www.detik.com, 15/10/02).
>        Keenam, dalam pemboman Bali, selain ada peledakan bom pada dua
>tempat
>hiburan di Legian, Kuta, juga terjadi pemboman di dekat Konsulat
>Jenderal
>AS. Mengapa pemboman dua tempat hiburan betul-betul tepat sasaran,
>sedang
>pemboman Konjen AS dibikin "meleset", sehingga bom meledak pada jarak
>100
>meter dari gedung Konjen AS itu ? Kesimpulannya, berbagai argumentasi di
>
>atas menjadi indikasi yang
>mengarah pada satu kesimpulan, bahwa justru AS sendirilah yang
>merekayasa
>pemboman Bali yang sangat biadab itu.
>      Dengan merekayasa pemboman Bali, AS mempunyai banyak tujuan.
>Pertama,
>memberikan justifikasi kepada dunia internasional, bahwa jaringan
>terorisme, khususnya Al-Qaidah, memang betul-betul ada di Indonesia.
>Justifikasi ini selanjutnya akan dijadikan dasar bagi AS untuk melakukan
>
>intervensi langsung dengan mengirimkan pasukan militer untuk memberantas
>
>terorisme di dalam negeri Indonesia, seperti yang terjadi di Filipina.
>Kedua, memberikan tekanan kuat pada
>pemerintah RI agar mengikuti politik internasional AS dalam memerangi
>terorisme. Ketiga, dalam bidang perundang-undangan, tragedi Bali ini
>dimaksudkan oleh AS sebagai pendorong kuat agar Indonesia segera
>mempunyai
>UU Anti Teorisme, sebuah UU yang akan melegitimasi tindakan pelanggaran
>HAM
>untuk menangkap dan memberangus individu atau kelompok yang
>memperjuangkan
>Islam dan menentang dominasi kapitalisme.  Keempat, memojokkan para
>politikus (seperti Wapres Hamzah Haz) dan kelompok-kelompok Islam yang
>selama ini membantah keberadaan terorisme di Indonesia. Kelima, mengadu
>domba elemen-elemen masyarakat Indonesia, yaitu antara pemerintah (yang
>tunduk pada kehendak AS) dengan kelompok-kelompok Islam yang
>memperjuangkan
>Islam dan kritis kepada AS, di samping mengadu domba antara komunitas
>Hindu
>dan komunitas Islam.
>      Semua tujuan AS tersebut wajib diketahui oleh umat Islam, baik
>pemerintah maupun rakyat, agar tujuan-tujuan AS yang sangat keji dan
>jahat
>tersebut dapat digagalkan dan dihancurkan. Di samping itu, umat Islam
>wajib
>waspada terhadap segala disinformasi media yang memojokkan Islam dan
>mendiskreditkan kelompok-kelompok Islam yang dinilai "bergaris keras"
>oleh
>AS. Umat Islam juga wajib sadar akan strategi AS yang hendak mengadu
>domba
>umat Islam dengan pemerintah, atau mengadu domba umat Islam dan umat
>Hindu.
>Semua ini pada muaranya bertujuan agar kondisi Indonesia semakin lemah
>dan
>hancur, yang kemudian setelah itu, AS akan dapat seenaknya mendominasi
>dan
>mengendalikan Indonesia demi kepentingan politik dan ekonomi bagi AS itu
>
>sendiri.
>
>Wassalam
>
>
>
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
>to unsubscribe, mailto:undip-unsubscribe@;pandawa.com - Seq. #182
>DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


---------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:undip-unsubscribe@;pandawa.com - Seq. #183
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke